Enzo Fernández Buktikan Maresca Benar soal Manchester City

Penampilan Enzo Fernández di lini tengah Manchester City membuktikan satu hal dengan cukup jelas: Enzo Maresca tidak salah ketika ngotot menginginkan reuni dengan sang gelandang. Bermain dengan sepuluh orang di Old Trafford, mantan pemain Chelsea itu menjadi salah satu alasan utama City mampu menahan tekanan Manchester United sekaligus mencuri kemenangan. Angka-angka yang ia torehkan sepanjang 82 menit menunjukkan bahwa peran sebagai peredam sekaligus akselerator permainan bukan sekadar tugas baginya, melainkan cara menikmati laga besar.

Argentina’s midfielder #24 Enzo Fernandez controls the ball during a friendly football match between Argentina and Mauritania at La Bombonera stadium in Buenos Aires on March 27, 2026. (Photo by Luis ROBAYO / AFP)

Kepercayaan itu tidak datang gratis. City menggelontorkan £125 juta untuk mempertemukan kembali Fernández dengan Maresca, dua sosok yang sempat bekerja sama di Chelsea dan membangun kedekatan dalam waktu singkat. Transfer yang terjadi pada deadline day tersebut langsung memicu pertanyaan soal harga dan kualitas, terutama karena sang pemain berusia 25 tahun menghabiskan musim panas dengan memancing emosi lawan sebelum akhirnya kalah di final Piala Dunia dari Spanyol. Maresca tetap tenang dan yakin, lalu derbi di kandang rival terberat menjadi panggung pertama yang membenarkan keyakinannya.

Kontribusi Enzo Fernández dalam Derbi di Old Trafford

Ketika Fernández meninggalkan lapangan pada menit ke-82 dan digantikan Nico O’Reilly, ia sudah menempuh lebih dari 10,25 kilometer. Data Opta menunjukkan rata-rata jarak per menitnya setara dengan Elliot Anderson, rekannya di lini tengah yang menempuh jarak paling jauh di laga itu, lebih dari setengah kilometer lebih panjang dibanding para gelandang United. Bagi gelandang yang harus bekerja di tengah tekanan derbi tandang, catatan itu bukan sekadar statistik, melainkan bukti kesediaan menanggung beban paling berat.

Yang lebih menarik, Fernández tidak hanya berlari banyak, tetapi juga berlari cepat. Ia melakukan sepuluh sprint, dua kali lebih banyak dibanding gelandang tengah lainnya, demi naik-turun lapangan membantu pertahanan dan serangan. Ia juga memenangi duel terbanyak dengan delapan kemenangan, satu lebih banyak dari Anderson, sekaligus menjadi pemain dengan intersepsi terbanyak di area tengah. Gabungan jarak tempuh, kecepatan, dan kemenangan duel itu menunjukkan profil gelandang yang tidak puas hanya bertahan di areanya sendiri, tetapi ikut menentukan momentum tim.

Efeknya langsung terasa pada pola serangan United. Meski tuan rumah lebih banyak menguasai bola, mereka kesulitan membangun permainan di area tengah karena terus diburu dua gelandang yang kini menjadi rekan setim meski sempat berseteru di Piala Dunia. Tekanan tanpa henti itu memaksa United memutar bola ke area yang lebih sulit dan membuat keunggulan penguasaan bola mereka kehilangan gigi.

Alasan Maresca Ngotot Reuni dengan Enzo Fernández

Ikatan antara Maresca dan Fernández terbentuk saat keduanya sama-sama berada di Chelsea. Meski masa kebersamaan itu relatif singkat, sang pelatih menilai kerja sama tersebut layak dilanjutkan karena Fernández diyakini bisa menjadi kepingan terakhir dalam rencananya di City. Fernández sendiri tidak kalah antusias; ia disebut sudah menyampaikan dengan jelas kepada klub sebelumnya tentang ke mana ia melihat masa depannya.

Keputusan City tentu tidak lepas dari sorotan. Harga £125 juta untuk pemain berusia 25 tahun yang baru menutup musim panas dengan citra sebagai provokator dinilai sebagian pihak terlalu mahal. Ada yang mempertanyakan sikap serta kualitasnya, tetapi Maresca bersikeras tahu apa yang sedang ia lakukan, dan manajemen City sepakat mewujudkan transfer itu pada hari batas waktu.

Dua laga sebelumnya memang tidak menghadirkan ujian seberat derbi tandang. City menang atas Coventry dan Porto, namun kemenangan itu jauh dari mulus karena lini tengah mereka terlihat terputus dan terlalu sering diterobos. Pertandingan seperti derbi di kandang lawan justru menjadi kesempatan yang tidak boleh dilewatkan bagi pemain yang tampak kecanduan intensitas seperti Fernández.

Beban Ganda Saat City Bermain dengan Sepuluh Pemain

Laga itu memang berat sejak awal. Bruno Fernandes berperan sebagai gelandang nomor 10 yang berbahaya, sementara Kobbie Mainoo punya alasan pribadi untuk tampil maksimal di depan Elliot Anderson, pemain yang menempati posisinya di tim nasional Inggris sekaligus salah satu pemicu kegagalan negaranya di Piala Dunia. Situasi semakin rumit ketika Phil Foden terlibat insiden dengan Fernandes pada pertengahan babak pertama, membuat City harus menyelesaikan laga dengan satu pemain lebih sedikit.

Bermain minus satu orang di kandang rival terberat adalah ujian karakter. Fernández menerima tantangan itu dan praktis diminta menjalankan pekerjaan dua pemain setelah Rayan Cherki digeser ke sisi kanan dan meninggalkan posisi nomor 10. Ia tetap ditempatkan sebagai gelandang nomor 8, tetapi juga diberi ruang tambahan untuk menjelajah ke depan dan memberi dukungan yang tidak diperoleh Erling Haaland dari pemain lain.

Dalam kondisi seperti itu, peran sebagai rem sekaligus akselerator di tengah lapangan justru membuatnya tampil lebih menonjol. Tanggung jawab besar itu tidak membuatnya tenggelam, melainkan memberinya kendali atas ritme permainan City ketika timnya lebih banyak bertahan.

Artinya bagi City dan Revolusi Pasca-Rodri

Maresca memandang Fernández sebagai anggota paling senior dari tiga gelandang yang datang pada musim panas. Ia adalah sosok yang bisa dijadikan contoh oleh Anderson dan Ayyoub Bouaddi, dua rekrutan lain yang dibawa untuk mengawali era baru setelah Rodri. Keduanya merupakan tipe gelandang modern dengan mobilitas tinggi dan kebugaran nyaris supranatural, dan itulah alasan mereka dikejar serta dibayar mahal.

Pasangan itu memahami peran masing-masing dan menjalankannya sampai batas kemampuan. Fernández yang sudah kelelahan pun menyadari hal itu ketika nomor punggungnya dinaikkan, lalu berjalan lambat mengelilingi lapangan sambil mendengar cukup banyak cemoohan dari tribun. Anderson merangkum laga dengan sederhana: “Kami harus berlari lebih banyak, bertarung lebih banyak, dan menurut saya semua pemain tampil brilian.”

Bagi City, penampilan semacam ini penting bukan hanya untuk hasil akhir, tetapi juga untuk membangun identitas baru di lini tengah. Kehadiran pemain yang bersedia berlari, merebut bola, dan melakukan pekerjaan kotor memberi kebebasan bagi pemain kreatif di depannya. Jika pola ini bertahan, lini tengah City bisa menjadi fondasi yang jauh lebih tangguh dibanding kesan mereka di dua laga awal.

Dari Cemoohan ke Nyanyian: Cerita yang Lahir di Old Trafford

Fernández juga memberi warna khas pada laga ini. Suporter City memiliki chant untuknya yang mengikuti lagu “Zombie” dari The Cranberries, sebuah gambaran yang jelas tidak cocok untuk pemain yang justru tak pernah berhenti bergerak. Namun julukan itu masuk akal dalam arti lain: gaya permainannya yang terus menempel dan memancing lawan memang mudah “masuk ke kepala” pemain lawan, sampai-sampai Harry Maguire mendorongnya setelah ia berusaha mengejar penalti.

Momen lain yang mungkin paling diingat adalah ketika ia berada jauh dalam posisi offside pada proses gol kemenangan Haaland tanpa mengganggu jalannya permainan. Jika itu memang disengaja, tidak ada contoh yang lebih jelas dari seorang ahli seni gelap sepak bola selain Fernández, meski menilai tindakannya sebagai kecerdasan terencana bisa jadi terlalu bermurah hati. Yang jelas, kejadian itu melengkapi reputasinya sebagai pemain yang selalu hadir dalam momen-momen penuh gesekan.

Di akhir laga, Maresca berlari di sepanjang garis lapangan begitu peluit panjang berbunyi. Fernández mengumpulkan sisa tenaganya untuk kembali ke lapangan dan bergabung dengan rekan-rekannya, lalu melesat ke sudut stadion tempat para pendukungnya bersorak, melompat kegirangan saat namanya dinyanyikan. Sementara itu, suporter City terus menggoda pendukung tuan rumah dengan nyanyian, “Kami hanya punya sepuluh pemain,” meski di lapangan hampir tidak terlihat bahwa City benar-benar kekurangan satu orang.

Di atas segalanya, laga di Old Trafford memperlihatkan bahwa nilai seorang gelandang tidak selalu diukur dari sentuhan atau umpan kunci. Fernández menempuh lebih dari sepuluh kilometer dengan kecepatan tinggi, memenangi duel terbanyak, dan menutup ruang di area yang paling menentukan. Ketika City kehilangan satu pemain dan harus bertahan dalam waktu lama, justru kemampuan menanggung beban ganda itulah yang membuat tim tetap bisa bernapas.

Maresca tentu masih menyisakan banyak ujian sebelum penilaian akhir atas transfer besar musim panas ini bisa dilakukan. Namun jika Fernández terus tampil dengan ketahanan seperti ini, pertanyaan soal harga dan sikapnya akan perlahan tenggelam oleh kontribusinya di lapangan. Hari-hari seperti derbi inilah yang melahirkan pahlawan, dan untuk sementara, City punya satu di lini tengahnya.