Category Archives: parlay

Xavi Hernandez Resmi Ditunjuk Jadi Pelatih Timnas Belanda

Mantan pelatih Barcelona, Xavi Hernandez, resmi ditunjuk sebagai pelatih timnas Belanda. Pelatih berusia 46 tahun asal Spanyol itu menandatangani kontrak untuk memimpin De Oranje hingga Piala Dunia 2030. Penunjukan ini menjadi salah satu keputusan besar dalam sejarah kepelatihan Belanda, mengingat Xavi datang dengan reputasi sebagai salah satu gelandang terbaik dunia.

Xavi menggantikan Ronald Koeman yang mundur setelah Belanda tersingkir di babak 32 besar oleh Maroko pada Piala Dunia musim panas ini. Kabar ini menjadi perhatian besar, sebab Xavi bukan sekadar pelatih biasa, melainkan sosok yang memahami betul filosofi sepak bola menyerang khas Belanda. Asosiasi Sepak Bola Belanda (KNVB) pun merilis pernyataan resmi terkait penunjukan pelatih anyar mereka.

Xavi Hernandez Resmi Jadi Pelatih Timnas Belanda

KNVB mengumumkan penunjukan Xavi Hernandez sebagai pelatih kepala timnas Belanda melalui pernyataan resmi. Dalam pernyataannya, Xavi menyampaikan rasa hormatnya terhadap kesempatan yang ia terima. Ia mengaku merasa sangat terhormat bisa menjadi pelatih tim nasional Belanda.

“Saya menganggap ini sebagai kehormatan yang luar biasa untuk menjadi pelatih kepala tim nasional Belanda,” ujar Xavi dalam pernyataan yang dirilis KNVB. Penunjukan ini menandai kembalinya Xavi ke dunia kepelatihan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Barcelona pada 2024. Sebelumnya, ia sempat mengambil jeda setelah memutuskan hengkang dari klub Catalan tersebut.

Kontrak yang disepakati Xavi berdurasi empat tahun, yang akan membawanya menangani Belanda hingga Piala Dunia 2030. Artinya, ia mendapat kepercayaan penuh untuk membangun tim dalam jangka waktu panjang. Tugas pertamanya tentu mempersiapkan skuad Belanda agar tampil kompetitif di berbagai turnamen mendatang.

Perjalanan Karier Xavi: Dari Barcelona ke Kursi Pelatih

Xavi Hernandez bukan nama sembarangan di dunia sepak bola. Sebagai pemain, ia pernah meraih Piala Dunia 2010 bersama Spanyol serta dua gelar Piala Eropa pada 2008 dan 2012. Ia juga tercatat tampil sebanyak 767 kali untuk Barcelona sepanjang karier bermainnya.

Karier kepelatihan Xavi dimulai di klub asal Qatar, Al Sadd, sebelum akhirnya kembali ke Barcelona pada November 2021. Menariknya, ia juga menggantikan Ronald Koeman saat mengambil alih kursi pelatih Barcelona. Di musim 2023, Xavi sukses membawa Barcelona meraih gelar La Liga, tetapi ia kemudian meninggalkan klub tersebut pada 2024.

Pengalaman menukangi klub sebesar Barcelona menjadi modal berharga baginya. Kini, tantangan barunya adalah membangun tim nasional Belanda yang memiliki fondasi kuat. Kombinasi pengalaman dan pemahaman taktikalnya diharapkan mampu membawa perubahan positif bagi De Oranje.

Koneksi Khusus Xavi dengan Sepak Bola Belanda

Salah satu alasan penunjukan Xavi terasa begitu natural adalah hubungan emosionalnya dengan sepak bola Belanda. Sebagai produk akademi FC Barcelona, ia tumbuh dengan pengaruh kuat dari Johan Cruyff dan Rinus Michels. Dalam pernyataannya, Xavi bahkan menyebut dirinya sebagai “anak dari sepak bola Belanda”.

“Saya merasa memiliki koneksi khusus dengan sepak bola Belanda. Bisa dibilang, saya ini anak dari sepak bola Belanda,” tuturnya. Filosofi yang ia yakini sejak kecil memang sejalan dengan karakter sepak bola Belanda yang dikenal menyerang dan menguasai bola. Hal ini membuat kecocokan antara Xavi dan timnas Belanda terlihat sangat kuat.

Xavi juga menegaskan bahwa Belanda memiliki budaya sepak bola yang kaya dan visi yang jelas. “Belanda memiliki budaya sepak bola yang kaya dan visi yang jelas yang juga sangat menarik bagi saya: sepak bola menyerang, berbasis penguasaan bola, dengan kreativitas, gairah, dan keyakinan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa tujuan paling penting adalah menang, tetapi ia ingin melakukannya dengan cara yang mencerminkan karakteristik tersebut dan bisa dinikmati banyak orang.

Arne Slot Lebih Dulu Didekati, Lalu Menolak

Sebelum Xavi resmi ditunjuk, KNVB sebenarnya sempat melakukan pendekatan awal terhadap Arne Slot. Mantan pelatih Liverpool itu menjadi salah satu nama yang dikaitkan dengan kursi pelatih timnas Belanda. Namun, pembicaraan tersebut tidak berlanjut karena Slot memilih tetap berkarier di sepak bola klub.

Slot menjelaskan alasannya melalui wawancara dengan Voetbal International. Ia mengaku lebih suka berada di lapangan latihan bersama para pemainnya setiap hari. Hal itu, menurutnya, tidak mungkin dilakukan dengan cara yang sama ketika menangani tim nasional.

“Saya sangat menghormati tim nasional dan KNVB, dan saya hanya bisa bersikap positif tentang cara profesional jalannya pembicaraan saat itu,” ujar Slot. “Untuk saat ini, saya percaya sepak bola klub masih menawarkan banyak hal bagi saya.” Dengan mundurnya Slot dari pembicaraan, KNVB akhirnya mengumumkan Xavi Hernandez sebagai pelatih baru timnas Belanda.

Penunjukan Xavi Hernandez sebagai pelatih timnas Belanda menjadi langkah berani dan menarik bagi masa depan De Oranje. Dengan pengalaman panjang sebagai pemain dan pelatih, serta kedekatan filosofis dengan gaya sepak bola Belanda, Xavi dinilai mampu membawa energi baru. Seluruh mata kini tertuju pada bagaimana ia membangun tim menuju Piala Dunia 2030.

Kombinasi antara rekam jejak Xavi dan fondasi kuat skuad Belanda menjadi modal yang menjanjikan. Namun, tekanan untuk meraih hasil tetap akan menyertai setiap langkahnya. Publik sepak bola Belanda pun menantikan apakah gaya menyerang khas Belanda akan kembali hidup di bawah arahan pelatih anyar mereka.

Carabao Cup: Kiper Millwall Pahlawan Penalti, Preston Menang

Carabao Cup putaran pertama menghadirkan malam yang dramatis, dengan kiper Millwall Lukas Jensen menjadi pahlawan setelah menggagalkan empat penalti pemain QPR. Preston North End juga memastikan tempat di putaran kedua setelah menang adu penalti melawan Huddersfield Town di Goodison Park. Sejumlah laga lain berlangsung sengit dan penuh kejutan, mulai dari comeback Blackburn hingga kemenangan dramatis Watford di menit ke-99.

Sebagai ajang piala bergengsi di Inggris, Carabao Cup selalu menjadi panggung bagi klub-klub dari divisi berbeda untuk saling menguji kekuatan. Pada putaran pertama musim ini, tim-tim Championship seperti Burnley, Leicester, Norwich, dan Blackburn harus bekerja keras menghadapi lawan dari kasta di bawahnya. Sementara itu, sejumlah klub Liga Satu dan Liga Dua berhasil menciptakan kejutan dengan menyingkirkan klub yang lebih diunggulkan.

Drama Carabao Cup: Kiper Millwall Jadi Pahlawan Lawan QPR

Millwall melaju ke putaran kedua Carabao Cup setelah mengalahkan QPR lewat adu penalti 2-0, menyusul hasil imbang 1-1 pada waktu normal. Sempat unggul lewat gol Luke Cundle, Millwall akhirnya harus puas bermain imbang setelah Mark Sykes mencetak gol bunuh diri di penghujung laga. Namun, dalam drama adu penalti yang diwarnai enam tendangan gagal, kiper Lukas Jensen tampil luar biasa dengan menepis empat penalti.

Empat penalti yang berhasil digagalkan Jensen datang dari kaki Ilias Chair, Harvey Vale, Koki Saito, dan Kwame Poku. Jensen sendiri baru saja pulih dari cedera panjang yang membuatnya absen selama 15 bulan. Manajer Millwall Alex Neil pun memberikan pujian khusus kepada kipernya itu atas perjuangannya kembali ke lapangan.

Neil mengaku penyelamatan empat penalti dalam satu laga adalah hal yang sangat langka. Menurutnya, momen ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Jensen yang telah melewati masa sulit selama 15 bulan. “Dia pasti memimpikan momen ini selama 15 bulan, menjadi alasan kita melaju ke babak berikutnya,” ujar Neil. “Saya sangat senang untuknya karena dia profesional yang hebat dan orang yang baik.”

Preston Taklukkan Huddersfield di Goodison Park

Preston North End memastikan tempat di putaran kedua Carabao Cup setelah menang 4-3 dalam adu penalti melawan Huddersfield. Laga ini digelar di Goodison Park, markas lama Everton, karena lapangan Deepdale belum siap digunakan. Pertandingan berakhir 1-1 setelah gol Radinio Balker dibalas Jusef Erabi pada masa injury time.

Preston harus bermain dengan 10 pemain sejak Lewis Gibson menerima kartu merah dan mereka bertahan selama 69 menit. Kiper Daniel Iversen menjadi pahlawan dengan menggagalkan dua penalti pemain Huddersfield. Delano Burgzorg akhirnya menjadi penentu kemenangan Preston setelah menuntaskan eksekusi penaltinya dengan sempurna.

Blackburn dan Sheffield Wednesday Mencuri Perhatian

Tony Mowbray memulai kembali petualangannya sebagai manajer Blackburn dengan kemenangan comeback 2-1 atas Burton Albion. Tertinggal lebih dulu lewat gol Zac Scutt, Blackburn akhirnya menang berkat gol dari dua pemain pengganti, Andri Gudjohnsen dan Jayden Fevrier. Mowbray menegaskan timnya seharusnya bisa menang dengan selisih lebih besar karena banyak peluang terbuang di babak pertama.

Sheffield Wednesday juga berhasil menundukkan Bolton Wanderers 1-0 berkat gol Jamal Lowe di menit ke-70. Bolton harus bermain dengan 10 orang setelah Xavier Simons menerima kartu merah pada menit ke-56. Manajer Sheffield Wednesday Henrik Pedersen memuji kerja keras timnya dalam pressing dan transisi cepat sepanjang laga.

“Saya melihat banyak kemajuan dalam pressing agresif, transisi cepat, dan mentalitas para pemain untuk terus menekan,” kata Pedersen. “Mereka terus bekerja sebagai satu kelompok, dan itu sangat berarti bagi kami dalam situasi ini.” Kemenangan ini menjadi modal berharga bagi Sheffield Wednesday untuk menghadapi laga-laga berikutnya di kompetisi.

Burnley, Leicester, dan Norwich Melaju Mulus

Burnley harus bersusah payah menaklukkan Notts County lewat adu penalti 4-3 setelah bermain imbang 1-1 di Turf Moor. Bek veteran Kyle Walker menjadi penentu kemenangan dengan eksekusi penaltinya yang tenang. Kiper Burnley Max Weiss tampil gemilang dengan menggagalkan tendangan Emile Acquah dan Jacob Bedeau.

Leicester City meraih kemenangan 1-0 atas Northampton dalam laga pertama Russell Martin sebagai manajer. Gol kemenangan dicetak Caleb Okoli di babak pertama, cukup untuk mengantar mantan klub Premier League itu melaju ke putaran kedua. Martin ditugaskan membawa Leicester bangkit setelah degradasi ke League One, dan kemenangan ini menjadi awal yang positif.

Norwich City tampil trengginas dengan menghancurkan MK Dons 4-1 di Carrow Road. Mohamed Touré membuka keunggulan hanya dalam 40 detik setelah memanfaatkan kesalahan pertahanan lawan. Andre Brooks mencetak gol pada laga debutnya, sementara Anis Ben Slimane ikut menyumbang gol dalam kemenangan telak tersebut.

Hasil Lengkap Laga Lain di Putaran Pertama

Watford menang dramatis 1-0 atas Crawley berkat gol Marc Bola pada menit ke-99. Alessio Dionisi, pelatih anyar Watford yang merupakan penunjukan penuh waktu ke-15 dalam tujuh tahun terakhir, mengaku lega meski timnya tampil kurang meyakinkan. “Di babak pertama kami bermain bagus, tapi di babak kedua hanya biasa saja. Untuk memenangkan pertandingan, Anda harus mencetak gol,” ujarnya.

Sementara itu, Reading menyingkirkan Bromley lewat adu penalti 5-4 setelah kiper Joel Pereira menggagalkan tendangan Ethon Archer. Derby County harus tersingkir setelah kalah 2-1 dari Lincoln City di Pride Park. Cardiff City melaju setelah Jack Moylan mencetak gol kemenangan pada debutnya, sementara Luton menang mudah 3-0 atas Gillingham.

Charlton menang 3-1 di kandang Cheltenham, dan Southampton menaklukkan Colchester 2-0 berkat gol dua pemain pengganti. West Brom membantai Rotherham 4-1, sedangkan Blackpool menang 3-1 atas Grimsby. Peterborough juga melaju setelah Harry Leonard mencetak penalti yang membuat Bristol Rovers tersingkir di ronde pertama untuk musim ketujuh beruntun.

Catatan Lain dari Adu Penalti dan Comeback

Shrewsbury menang 4-3 atas Salford dalam adu penalti yang luar biasa setelah sembilan tendangan gagal sebelum Arkell Jude-Boyd mencetak gol penentu. Doncaster juga lolos lewat adu penalti 5-4 melawan Stockport berkat aksi kiper Tommy Simkin. Barnsley menang dramatis 6-5 atas Wigan setelah sembilan penalti pertama semuanya berhasil dikonversi menjadi gol.

Stoke City menang 2-0 atas Oldham berkat gol bunuh diri Ollie Norburn dan gol Robert Bozenik di akhir laga. Birmingham menang tipis 1-0 di kandang Swansea lewat gol August Priske. Fleetwood melaju berkat gol tunggal Ched Evans, yang oleh manajer Matt Lawlor disebut sebagai gambaran sempurna dari kapten barunya itu.

Cambridge United bangkit dari ketertinggalan untuk menang 2-1 atas Barnet, sementara Leyton Orient menang 2-0 atas Oxford dengan dua gol yang lahir dari umpan silang Charlie Wellens. AFC Wimbledon membutuhkan adu penalti 5-4 untuk menaklukkan Newport County setelah mencetak gol penyeimbang di akhir laga. Crewe juga menang dramatis 2-1 atas Accrington berkat sundulan Luca Moore lima menit sebelum laga usai.

Putaran pertama Carabao Cup musim ini kembali membuktikan bahwa tidak ada laga yang mudah dalam kompetisi piala. Kiper-kiper menjadi pemeran utama di sejumlah laga, mulai dari Lukas Jensen hingga Daniel Iversen, sementara klub-klub kasta bawah terus menunjukkan perlawanan sengit. Kini perhatian akan beralih ke putaran kedua, di mana klub-klub Premier League akan mulai bergabung.

Dengan begitu banyak kejutan dan drama, Carabao Cup tetap menjadi turnamen yang dinanti oleh para penggemar sepak bola Inggris. Tim-tim yang berhasil melaju pasti akan semakin percaya diri menghadapi tantangan berikutnya. Sementara itu, klub yang tersingkir harus segera bangkit dan fokus pada kompetisi liga masing-masing.

Barcelona Incar Rodri usai Real Madrid Buntu Negosiasi

Barcelona kini semakin serius mengincar Rodri dari Manchester City setelah negosiasi Real Madrid dengan sang gelandang berjalan buntu. Klub asal Katalan itu berupaya memanfaatkan situasi ini untuk membajak transfer pemain berusia 30 tahun tersebut di bursa musim panas ini. Manchester City sendiri dikabarkan bersedia melepas kapten timnas Spanyol itu dengan banderol sekitar £60 juta.

Kondisi kontrak Rodri yang memasuki tahun terakhir menjadi faktor kunci di balik ramainya perburuan ini. Meskipun Manchester City masih berharap bisa memperpanjang kontraknya, peluang kepergian pemain itu tetap terbuka lebar. Barcelona pun disebut ingin memanfaatkan celah tersebut, apalagi mereka tengah kehilangan Frenkie de Jong yang harus menepi beberapa bulan akibat cedera lutut.

Barcelona Makin Serius Incar Rodri dari Manchester City

Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Rodri telah berbincang langsung dengan pelatih Hansi Flick dan direktur olahraga Deco pada Rabu lalu. Dalam pertemuan itu, pemain yang meraih Golden Ball sebagai pemain terbaik Piala Dunia tersebut mengindikasikan keinginannya untuk kembali ke Spanyol. Langkah Barcelona selanjutnya adalah menghubungi Manchester City untuk membahas struktur pembayaran transfer sang pemain.

Keputusan Rodri untuk menunjukkan ketertarikannya kepada Barcelona menjadi sinyal positif bagi kubu Camp Nou. Terlebih, tim asuhan Flick itu tengah membutuhkan sosok pemimpin di lini tengah setelah cedera panjang yang dialami De Jong. Kehadiran Rodri tentu akan langsung mengangkat kualitas permainan Barcelona pada musim depan.

Di sisi lain, Manchester City tidak menutup kemungkinan melepas Rodri dengan harga yang dianggap cukup wajar untuk pemain sekelasnya. Nilai £60 juta dirasa masuk akal bagi klub mana pun yang ingin mendapatkan jasa kapten timnas Spanyol peraih Piala Dunia itu. Namun, City juga masih mempertahankan harapan bahwa Rodri akan meneken kontrak baru sebelum jendela transfer ditutup.

Negosiasi Real Madrid Buntu, Peluang Barcelona Terbuka Lebar

Real Madrid sebenarnya telah menjalin pembicaraan dengan Rodri dan perwakilannya selama berminggu-minggu. Meski demikian, kedua pihak belum mencapai kesepakatan apa pun, dan situasi ini langsung dimanfaatkan Barcelona untuk menyalip rival abadinya tersebut. Peluang itu makin besar setelah Rodri diketahui berbicara langsung dengan Flick dan Deco.

Madrid sendiri tengah berada dalam posisi yang sedikit rumit karena sudah cukup banyak menggelontorkan dana di bursa transfer. Mereka baru saja memecahkan rekor transfer klub dengan mendatangkan Yan Diomande dari RB Leipzig senilai £115 juta. Selain itu, klub ibu kota juga telah menyepakati perpanjangan kontrak enam tahun yang menggiurkan bagi Vinícius Júnior guna meredam minat Arsenal.

Jika ingin menambah Rodri ke dalam skuad, Madrid kemungkinan harus melepas sejumlah pemain lebih dulu. Aurélien Tchouaméni dan Eduardo Camavinga menjadi dua kandidat yang paling mungkin hengkang. Kedua gelandang asal Prancis itu dikabarkan menjadi target Manchester United pada bursa transfer musim panas ini.

Dampak Perebutan Rodri bagi Barcelona dan Real Madrid

Keberhasilan Barcelona mengamankan Rodri akan menjadi pukulan telak bagi Real Madrid yang sudah bekerja keras sejak awal. Sebaliknya, bagi Barcelona, kedatangan pemain 30 tahun itu bisa langsung menambal lubang di lini tengah yang ditinggalkan De Jong. Pengalaman Rodri bermain di level tertinggi bersama Manchester City dan timnas Spanyol membuatnya layak menjadi andalan utama di lini tengah.

Bagi Real Madrid, kehilangan Rodri memang berat, tetapi bukan akhir dari segalanya. Los Blancos masih memiliki banyak opsi berkualitas di sektor gelandang, termasuk Tchouaméni dan Camavinga. Namun, secara simbolis, gagal memenangi perebutan pemain melawan Barcelona tentu menjadi tamparan tersendiri bagi klub sebesar Madrid.

Saga transfer ini sekali lagi membuktikan bahwa rivalitas kedua raksasa Spanyol tidak hanya terjadi di atas lapangan, tetapi juga di meja perundingan. Kedua klub sama-sama ingin menunjukkan daya tarik dan kekuatan finansial mereka di mata pemain bintang. Hasil akhir dari perebutan ini pun berpotensi menentukan keseimbangan kekuatan kedua tim pada musim-musim mendatang.

Manchester City Siapkan Skenario Pengganti Rodri

Manchester City tampaknya tidak ingin terjebak dalam situasi tanpa rencana jika Rodri benar-benar hengkang. Klub asuhan Pep Guardiola itu telah mendatangkan Elliot Anderson dari Nottingham Forest dengan biaya transfer mencapai £116 juta. City juga masih bernegosiasi dengan Lille untuk memboyong Ayyoub Bouaddi, gelandang muda Maroko berusia 18 tahun.

Rodri sendiri baru saja menjalani operasi kecil di bagian punggungnya. Akibat cedera tersebut, ia diperkirakan absen hampir sepanjang program pramusim Manchester City. Meski begitu, kabar ini dinilai tidak akan mengubah minat Barcelona maupun Real Madrid terhadap sang gelandang.

Barcelona Juga Masih Memburu Julián Alvarez

Selain Rodri, Barcelona juga terus memburu Julián Alvarez dari Atlético Madrid sebagai calon pengganti Robert Lewandowski yang telah hengkang. Upaya membujuk Atlético untuk melepas penyerang asal Argentina itu sudah dilakukan sejak awal musim panas. Namun, Atlético bersikeras bahwa Alvarez tidak akan dijual dengan harga berapa pun.

Deco dikabarkan kembali berada di ibu kota Spanyol untuk bertemu dengan perwakilan Alvarez pada Rabu lalu. Semua perhatian kini tertuju pada keputusan Alvarez, apakah ia akan hadir dalam latihan pramusim pada hari Senin atau justru mencoba memaksakan transfer. Arsenal pun disebut masih menyimpan minat terhadap pemain berusia 26 tahun yang pernah berseragam Manchester City itu.

Ferran Torres dan Transfer Rekor James Trafford

Di tengah drama transfer Rodri dan Alvarez, Barcelona juga masih menghadapi persoalan kontrak Ferran Torres. Penyerang yang mencetak gol kemenangan Spanyol di final Piala Dunia melawan Argentina itu kini memasuki tahun terakhir kontraknya. Torres mengaku belum mendapat kejelasan dan masih menunggu langkah Barcelona untuk memulai perundingan.

“Yang saya tahu, saya harus hadir dalam latihan Barcelona pada 12 Agustus. Kita lihat saja apa yang akan terjadi,” ujar Torres. Saat ditanya apa yang perlu dilakukan Barcelona untuk mempertahankannya, ia menjawab dengan tegas bahwa klub harus menunjukkan keinginan untuk mempertahankannya. “Tunjukkan bahwa mereka menginginkan saya, datanglah untuk bernegosiasi,” tambahnya.

Sementara itu, James Trafford resmi bergabung dengan Leeds United dengan rekor transfer klub setelah menjalani tes medis di Elland Road. Leeds sepakat membayar £40 juta plus bonus kepada Manchester City untuk penjaga gawang berusia 23 tahun tersebut. Dengan nilai transfer ini, Trafford menjadi kiper termahal keempat di dunia.

Perebutan Rodri antara Barcelona dan Real Madrid jelas akan menjadi salah satu saga transfer paling menarik pada musim panas ini. Dengan harga yang masih masuk akal dan kontrak yang terus menipis, keputusan terakhir ada di tangan pemain. Namun, satu hal sudah pasti, Barcelona kini tampil percaya diri untuk keluar sebagai pemenang dalam perburuan ini.

Bagi suporter Barcelona, kabar ini tentu membawa harapan baru setelah musim yang penuh dinamika. Sementara itu, Manchester City tetap berada di posisi yang nyaman karena sudah menyiapkan berbagai antisipasi. Kini tinggal menunggu langkah berikutnya dari ketiga klub dalam beberapa pekan ke depan.

Amanda Staveley Sepakat Beli 25,1 Persen Saham West Ham

Konsorsium yang dipimpin Amanda Staveley dikabarkan telah mencapai kesepakatan untuk membeli 25,1 persen saham West Ham. Vanessa Gold, putri dari mendiang ketua klub David Gold, setuju melepas saham keluarganya di klub yang kini berlaga di Championship.

Kesepakatan Amanda Staveley beli saham West Ham ini terjadi setelah rencana sebelumnya yang melibatkan Daniel Kretinsky, pengusaha asal Republik Ceko sekaligus pemegang saham, gagal terwujud. Keluarga Gold tercatat sebagai pemegang 25,1 persen saham West Ham melalui perwalian atau trust keluarga.

Detail Kesepakatan dan Hak Pre-Emption

Dalam proses penjualan ini, para pemegang saham West Ham yang ada tetap memiliki hak pre-emption, yaitu opsi untuk membeli saham keluarga Gold terlebih dahulu sebelum konsorsium Staveley resmi masuk. Artinya, kesepakatan dengan konsorsium pimpinan Staveley masih menunggu penyelesaian proses akhir.

Jika proses pre-emption tidak diaktifkan oleh pemegang saham lain, maka konsorsium Amanda Staveley, Mehrdad Ghodoussi, dan PCP Capital Partners akan resmi menjadi pemilik sebagian besar saham keluarga Gold di West Ham.

Kiprah Amanda Staveley di Newcastle United

Staveley bukan wajah baru di sepak bola Inggris. Pada Oktober 2021, ia menjadi perantara kesepakatan yang memungkinkan konsorsium beraliansi Arab Saudi mengambil alih Newcastle United dari Mike Ashley.

Bersama Mehrdad Ghodoussi, Staveley mengawasi kebangkitan Newcastle dari tim yang kerap berjuang di papan bawah Premier League menjadi peserta Liga Champions. Setelah keduanya hengkang pada musim panas 2024, Newcastle kemudian sukses meraih trofi Carabao Cup — sebuah pencapaian yang menunjukkan fondasi kuat yang mereka tinggalkan.

Alasan Penjualan Saham Keluarga Gold

Vanessa Gold menyampaikan pernyataan terbuka kepada para pendukung West Ham. Ia menjelaskan bahwa pada 12 Juni, dirinya sempat menyepakati penjualan saham kepada Daniel Kretinsky yang akan menjadikan EP Group sebagai pemegang saham tunggal terbesar. Namun, kesepakatan awal tersebut dan sejumlah alternatif lain yang sempat dibahas tidak membuahkan hasil.

Vanessa menegaskan bahwa ambisinya selama ini adalah memastikan West Ham memiliki kepemimpinan dan kepemilikan yang tepat agar klub bisa mencapai potensi penuhnya. Ia juga menyebut bahwa Amanda Staveley, Mehrdad Ghodoussi, dan PCP Capital Partners membawa pengalaman mendalam dalam mengelola klub sepak bola yang sukses.

Kondisi West Ham Saat Ini

The Hammers terdegradasi dari Premier League pada akhir musim lalu. Padahal, dua musim sebelumnya, klub asal London Timur ini sempat merasakan manisnya menjadi juara Europa Conference League pada 2023.

Kini West Ham bersiap mengawali upaya kembali ke kasta tertinggi dengan bertandang ke markas Burnley pada 16 Agustus. Kepemimpinan baru diharapkan mampu mempercepat proses kebangkitan klub.

Kesimpulan

Kesepakatan Amanda Staveley beli saham West Ham menjadi babak baru yang menarik dalam perjalanan klub. Meski masih menunggu proses pre-emption dari pemegang saham eksisting, kehadiran figur sekaliber Staveley dinilai bisa membawa West Ham kembali ke Premier League — tempat yang diyakini sebagai posisi seharusnya bagi klub sebesar The Hammers.

Inquest Maddy Cusack: Sheffield United Dituding Gagal Jaga Pemain Wanita

Maddy Cusack dan Tim Putri Kecewa dengan Sikap Sheffield United

Sheffield United dinilai telah mengecewakan Maddy Cusack dan para pemain wanita lainnya. Transisi tim wanita dari status paruh waktu menjadi penuh waktu pada musim panas 2023 tidak dikelola dengan baik, demikian terungkap dalam sidang inquest kematian Maddy Cusack. Ian McCallum, manajer umum tim wanita yang menjabat sejak Februari 2023 hingga akhir musim 2022-23, mengungkapkan bahwa klub tersebut “sedikit naif” dalam mempersiapkan kebutuhan sepak bola wanita profesional. Menurutnya, sekelompok pemain berbakat layak mendapatkan perlakuan yang lebih baik.

Kekecewaan McCallum terhadap pendekatan klub terhadap sepak bola wanita turut mempengaruhi keputusannya untuk meninggalkan jabatan itu pada musim panas 2023. Dalam persidangan, pengacara keluarga Cusack menanyakan kepada McCallum tentang pernyataan tertulis yang ia sampaikan sebelumnya. McCallum membenarkan bahwa ia pernah mengatakan “klub mengecewakan banyak orang”. Ketika ditanya secara spesifik apakah Sheffield United mengecewakan Maddy di beberapa area, ia menjawab, “Ya.” Maddy Cusack meninggal pada 20 September 2023 dalam usia 27 tahun.

Proses Rekrutmen Manajer Baru Jadi Sorotan

Sheffield United mengumumkan pada 16 Februari 2023 bahwa McCallum akan mengisi posisi manajer umum tim wanita hingga akhir musim 2022-23 setelah kepergian Zoe Johnson yang pindah ke Brighton. Dalam sidang, pengadilan membacakan isi surel yang dikirim Johnson kepada Carl Shieber (kepala administrasi sepak bola Sheffield United) dan Vicki Anderson (kepala SDM klub). Surel itu ditulis selama proses yang akhirnya menunjuk Jonathan Morgan sebagai manajer baru pada Februari 2023.

Dalam surel tersebut, Johnson memberikan penilaian soal kandidat manajer: “Saya paling kenal Morgan dibanding dua kandidat lainnya. Reputasinya di dunia sepak bola tidak terlalu bagus, tapi CV-nya bagus,” tulisnya. Ia juga menambahkan bahwa Morgan “mungkin bukan pilihan yang tepat” tetapi “pasti lebih baik daripada pelamar yang ada.” McCallum, yang terlibat dalam proses perekrutan Morgan, ditanya di pengadilan tentang apa yang ia ketahui soal reputasi Morgan sebelum penunjukannya. Ia menjawab, “Dari yang saya dengar, reputasinya keras kepala soal apa yang ia inginkan dari tim sepak bola, ia ingin menang, dan ia siap mengambil keputusan sulit untuk mencapainya. Di luar itu, saya tidak tahu lebih banyak.”

Saat diperiksa oleh Morgan (yang mewakili dirinya sendiri di pengadilan), McCallum mengatakan bahwa ia tidak pernah menyaksikan Morgan membentak Maddy Cusack, memperlakukannya dengan buruk, atau berbicara negatif tentangnya.

Transisi ke Status Penuh Waktu: Sekadar Formalitas?

McCallum juga diminta koroner untuk menjelaskan pernyataan sebelumnya bahwa Sheffield United menganggap perubahan tim wanita menjadi penuh waktu hanya sebagai “formalitas belaka”. McCallum mengatakan, “Dari luar, tampaknya itu adalah langkah yang benar. Kesuksesan timnas wanita Inggris mungkin mempercepat langkah ini, tapi saya tidak yakin sumber daya yang disediakan cukup untuk melakukannya dengan maksimal.” Ia mendapat kesan bahwa menjadi penuh waktu adalah sesuatu yang ‘harus terjadi’ bukan ‘ingin terjadi’. Namun ketika diminta menyebutkan individu yang memberinya kesan tersebut, McCallum enggan dan hanya mengatakan bahwa itu adalah perasaan yang ia dapatkan dari sejumlah orang, termasuk beberapa eksekutif yang namanya tidak ia ingat.

Staf senior Sheffield United seperti Carl Shieber dan CEO Stephen Bettis dijadwalkan memberikan kesaksian pada hari Rabu. Sidang juga mendengar kesaksian lanjutan dari Jonathan Morgan yang berlangsung sejak Senin. Morgan ditanyai secara panjang lebar oleh koroner tentang pengetahuannya terhadap buku panduan klub dan tanggung jawab manajer untuk melaporkan kekhawatiran tentang kesejahteraan mental karyawan ke HR. Ketika ditanya apakah ia pernah berkonsultasi dengan HR soal Maddy Cusack, Morgan menjawab, “Tidak, karena saya meneruskannya ke Dr. Subhashis Basu, dokter klub, yang saya anggap orang yang tepat saat itu.”

Kepala Pengamanan Klub Tak Tahu Kondisi Mental Maddy

Cheryl Anderson, kepala pengamanan Sheffield United, mengatakan kepada pengadilan bahwa ia tidak diberi tahu tentang kesulitan kesehatan mental yang dialami Maddy Cusack. Tidak ada kekhawatiran tentang Maddy yang disampaikan kepadanya. Sidang inquest akan dilanjutkan pada hari Rabu.

Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami krisis mental, jangan ragu untuk menghubungi layanan dukungan di bawah ini:

  • UK & Irlandia: Samaritans – 116 123 (gratis)
  • AS: National Suicide Prevention Lifeline – 988 (telepon/teks) atau chat di 988lifeline.org
  • Australia: Lifeline – 13 11 14
  • Hotline internasional lainnya: befrienders.org

Tuchel Kritik Wasit Piala Dunia: Standar Buruk, Tapi Inggris Percaya Diri

Tuchel Murka dengan Standar Wasit Piala Dunia

Thomas Tuchel melontarkan kritik keras terhadap kualitas wasit di Piala Dunia setelah timnya meraih kemenangan dramatis 3-2 atas Meksiko di Stadion Azteca, Minggu malam. Pelatih asal Jerman itu menyebut standar kepemimpinan wasit tidak dapat diandalkan dan penuh keanehan sepanjang turnamen.

Menurut Tuchel, keputusan wasit yang tidak konsisten membuat pemain tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di lapangan. Ia memperingatkan bahwa banyak tim berisiko tersingkir hanya karena keputusan wasit yang buruk. “Ini tidak cukup baik,” tegasnya. “Wasit bisa mengusir tim mana pun kapan saja. Ini benar-benar tidak konsisten dan tidak bisa diandalkan.”

Kritik Tuchel terhadap wasit Piala Dunia ini dipicu oleh beberapa insiden kontroversial dalam laga melawan Meksiko. Salah satu yang paling mencolok adalah kartu merah yang diterima bek Inggris, Jarell Quansah, setelah tekel kerasnya terhadap Jesús Gallardo. Keputusan itu diambil setelah wasit meninjau tayangan ulang atas rekomendasi Video Assistant Referee (VAR).

Kartu Merah Quansah dan Penalti Kontroversial

FA Inggris sedang mempertimbangkan untuk mengajukan banding atas kartu merah Quansah. Jika banding berhasil, Quansah bisa dihindarkan dari skorsing di perempat final melawan Norwegia di Miami pada Sabtu depan. Sebelumnya, FIFA telah memberikan preseden dengan membatalkan larangan satu pertandingan striker AS, Folarin Balogun, usai kartu merahnya melawan Bosnia-Herzegovina. Prancis juga sudah mengajukan banding untuk kartu kuning Michael Olise.

Selain kartu merah, gol kedua Meksiko juga lahir dari penalti hasil tinjauan VAR. Tuchel menilai keputusan itu tidak tepat karena kontak dalam duel bola adalah hal wajar dalam olahraga fisik seperti sepak bola. “Apakah Anda benar-benar berpikir Harry Kane saat itu berpikir ‘Oh, VAR!’? Dia hanya mengejar bola dan terjadi kontak. Ini olahraga kontak. Kita tidak bisa melihat foto diam dan langsung menyimpulkan ‘Oh, kontak, penalti’,” ujarnya.

Inkonsistensi Keputusan Wasit Menjadi Sorotan

Tuchel menyoroti bagaimana wasit sering kali tidak konsisten dalam menilai pelanggaran. Ada wasit yang membiarkan kontak fisik berlangsung, ada pula yang langsung meniup peluit. “Anda tidak memberikan pelanggaran, lalu tiba-tiba Anda memberikan kartu merah. Anda tidak memberikan pelanggaran, lalu tiba-tiba Anda memberikan penalti. Itu tidak masuk akal,” keluhnya.

Pelatih berusia 51 tahun itu juga mengkritik sikap ofisial keempat yang langsung berteriak jika ia keluar dari zona pelatih. Menurutnya, semua keputusan kecil hingga besar tidak menunjukkan level yang seharusnya ada di Piala Dunia. “Tim-tim yang disebut underdog seperti DR Kongo atau Cape Verde bermain di level tertinggi. Anda butuh wasit level tertinggi. Permainan sudah berubah drastis, tapi wasit tidak,” tambahnya.

Optimisme Inggris di Tengah Kontroversi

Meskipun kecewa dengan kepemimpinan wasit, Tuchel optimis bahwa timnya bisa melaju jauh. Kemenangan dramatis melawan Meksiko, yang memiliki rekor tangguh di Azteca, justru meningkatkan kepercayaan diri tim. “Pertandingan seperti ini hanya bisa dimenangkan dengan keyakinan, dan ini akan menambah keyakinan kami,” kata Tuchel.

Ia menekankan pendekatan bertahap: dari 32 besar, 16 besar, lalu perempat final. “Setelah perempat final, hanya ada delapan tim dan semuanya bisa menang. Kami akan tetap pada moto langkah demi langkah, pertandingan demi pertandingan,” ucapnya percaya diri.

Cedera Henderson Pukulan Berat

Satu-satunya kabar buruk bagi Inggris adalah cedera Jordan Henderson. Gelandang Brentford itu mengalami patah pergelangan tangan saat melompati papan reklame iklan dalam selebrasi kemenangan. Henderson harus menjalani operasi dan dipastikan absen di sisa turnamen. Ia sempat menginap di rumah sakit dengan didampingi staf medis tim.

Meski begitu, semangat tim tetap tinggi. Tuchel percaya bahwa Inggris memiliki keyakinan untuk menjadi juara, asalkan terus fokus dan tidak terpengaruh oleh kontroversi wasit. Dengan kritik Tuchel terhadap wasit Piala Dunia yang tajam, ia berharap FIFA dapat meningkatkan kualitas kepemimpinan pertandingan di babak-babak selanjutnya.

Newcastle Rekrut Bazoumana Touré, Pemain Sayap Berpotensi Tinggi

Newcastle United resmi mendatangkan pemain sayap muda asal Pantai Gading, Bazoumana Touré, dari Hoffenheim dengan nilai transfer mencapai £43 juta. Pemain berusia 20 tahun ini menjadi rekrutan kedua Newcastle di bursa musim panas setelah kiper Ewen Jaouen dari Reims. Kehadiran Touré diharapkan mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan Anthony Gordon, yang hengkang ke Barcelona pada bulan Mei lalu.

Profil Bazoumana Touré dan Ambisinya di Newcastle

Touré, yang mendapat julukan “Smiling Tornado”, telah menunjukkan performa impresif di Bundesliga musim lalu. Ia tampil dalam tiga dari empat laga Pantai Gading di Piala Dunia, membuktikan kualitasnya di panggung internasional. Dalam pernyataan resminya, Bazoumana Touré mengaku sangat bersemangat bergabung dengan Newcastle dan menyebut ini sebagai mimpi yang menjadi kenyataan.

“Saya sangat, sangat bahagia berada di sini. Sejak kecil saya bermimpi bermain di Premier League untuk tim sebesar Newcastle. Saya akan memberikan yang terbaik setiap hari untuk seragam ini. Saya tidak sabar bertemu rekan setim baru dan bermain di St James’ Park untuk pertama kalinya.”

Komentar Eddie Howe: Potensi Besar yang Perlu Diasah

Manajer Newcastle, Eddie Howe, memberikan pujian tinggi kepada pemain anyarnya tersebut. Ia yakin Bazoumana Touré Newcastle memiliki langit-langit potensi yang sangat tinggi. “Kami merasa Bazoumana adalah pemain dengan langit-langit yang benar-benar tinggi. Dia seseorang yang kami yakini dapat menawarkan sesuatu yang berbeda. Dia juga memiliki banyak potensi yang perlu digali,” ujar Howe.

Kepercayaan Howe ini menunjukkan bahwa Touré tidak hanya diproyeksikan sebagai pelapis, tetapi sebagai investasi jangka panjang yang bisa menjadi andalan di sayap. Dengan kecepatan, skill dribel, dan energi yang ia miliki, Touré diharapkan mampu memberikan dimensi baru dalam serangan Newcastle.

Peran Baru di Newcastle: Menggantikan Anthony Gordon

Kepergian Anthony Gordon ke Barcelona meninggalkan celah di sisi sayap Newcastle. Bazoumana Touré diyakini menjadi kandidat utama untuk mengisi pos tersebut. Meski masih muda, pengalamannya di Bundesliga dan Piala Dunia membuatnya siap bersaing di Premier League. Para penggemar berharap ia cepat beradaptasi dengan gaya permainan Liga Inggris dan menjadi ancaman bagi pertahanan lawan.

Langkah Newcastle Selanjutnya di Bursa Transfer

Selain mendatangkan Touré, Newcastle masih aktif bergerak di bursa transfer. Eddie Howe masih membutuhkan gelandang tengah pengganti Sandro Tonali yang diperkirakan bergabung ke Tottenham senilai £100 juta. Selain itu, klub juga mencari kiper utama baru. Nama James Trafford dari Manchester City menjadi prioritas, sementara gelandang Freiburg asal Swiss, Johan Manzambi, juga masuk radar. Namun, Howe sadar akan persaingan ketat untuk mendapatkan pemain incarannya.

Di sisi lain, Newcastle bertekad mempertahankan gelandang Brasil Bruno Guimarães meskipun ada minat besar dari Arsenal. Stabilitas tim menjadi kunci di tengah perubahan skuad yang cukup signifikan musim panas ini.

Dengan kedatangan Bazoumana Touré, Newcastle menunjukkan ambisi mereka untuk terus bersaing di papan atas Premier League. Pemain muda berbakat ini siap menorehkan sejarah baru di St James’ Park dan membuktikan bahwa mahar £43 juta yang dikeluarkan tidak sia-sia.

Carlo Ancelotti Sulap Brasil Jadi Calon Juara Dunia

Transformasi Besar Timnas Brasil di Bawah Asuhan Carlo Ancelotti

Timnas Brasil datang ke Piala Dunia dengan banyak luka. Sejak turnamen di Qatar 2022, terjadi empat kali pergantian pelatih, 95 pemain dipanggil, dan krisis politik yang membuat presiden Konfederasi Sepak Bola Brasil (CBF) lengser. Kekacauan itu membuat para penggemar pesimistis. Namun, segalanya berubah ketika Carlo Ancelotti Brasil mulai menangani tim.

Secara perlahan, pelatih asal Italia ini membentuk skuad yang solid dan memperbaiki hubungan dengan publik. Fans Brasil kini kembali bermimpi meraih gelar juara dunia keenam setelah puasa 24 tahun — periode terpanjang sejak 1970–1994. Ancelotti menjadi perisai bagi para pemain. Sosoknya yang legendaris, dengan lima trofi Liga Champions, memberikan ketenangan bagi pemain senior seperti Alisson, Danilo, Marquinhos, dan Casemiro.

Dampak Ancelotti pada Mental dan Atmosfer Tim

Alisson, kiper utama Brasil yang tampil di Piala Dunia ketiganya, mengakui betapa beratnya siklus ini. “Sejak kedatangan Ancelotti, atmosfer berubah total. Dia memberi kami ketenangan karena fokus pada pekerjaan, tanpa harus khawatir dengan kontroversi atau masalah lain,” ujarnya. Marquinhos pun menambahkan, “Dia sangat pintar, tahu cara mengeluarkan potensi terbaik pemain dan membantu mereka berkembang. Ancelotti mengubah pola pikir kami dan menciptakan filosofi yang berpusat pada kesejahteraan.”

Kemenangan atas Jepang di babak 32 besar menjadi bukti lain bagaimana Ancelotti mampu menyembuhkan luka. Sebelumnya, Brasil sangat rapuh ketika kebobolan lebih dulu. Sejak 2023, Seleção kebobolan pertama dalam 12 pertandingan dan kalah di tujuh di antaranya, serta imbang empat kali. Namun saat Jepang mencetak gol lebih dulu lewat Keishu Sano, Ancelotti justru memanfaatkan jeda istirahat untuk berbicara dengan pemain dengan cara yang mengejutkan semua orang di ruang ganti.

Keputusan Berani Ancelotti: Cadangkan Neymar dan Beri Peran Baru

Ancelotti tidak takut mengambil keputusan besar, salah satunya menempatkan Neymar di bangku cadangan. Neymar yang berusia 34 tahun bukan lagi pemain seperti dulu dan belum sepenuhnya bugar. Pelatih lain mungkin akan tetap memainkannya, tapi Ancelotti lebih memilih Vinícius Júnior sebagai ujung tombak. Neymar sendiri hanya tampil 14 menit di Piala Dunia ini (melawan Skotlandia) dan tidak dimainkan saat melawan Jepang. Ia pun memahami perannya yang baru: bukan lagi pemain terpenting Brasil. Carlo Ancelotti Brasil mampu mengelola ego dan menjaga harmoni skuad.

Gabriel Martinelli, pencetak gol kemenangan melawan Jepang, memuji pendekatan Ancelotti. “Dia pria luar biasa. Mudah dimengerti kenapa dia memenangkan segalanya. Dia memberi kami kepercayaan diri. Katanya kami akan menyamakan kedudukan lalu menang, kami harus percaya pada diri sendiri. Dari bahasa tubuhnya saja terlihat betapa tenangnya dia, dan ketenangan itu menular ke kami,” tutur Martinelli.

Psikolog Tim dan Pendekatan Mental yang Revolusioner

Ancelotti sadar bahwa bakat saja tidak cukup untuk juara dunia. Ia pun mendatangkan Marisa Santiago, psikolog pertama yang menjadi bagian dari staf pelatih Brasil di Piala Dunia. Ancelotti berbicara dengannya setiap hari, meminta saran untuk mengelola mental pemain dan menciptakan atmosfer terbaik. Dibantu asisten Paul Clement, Francesco Mauri, dan putranya Davide Ancelotti, ia membangun fondasi psikologis yang kokoh. Pendekatan ini menjadi salah satu kunci sukses Carlo Ancelotti Brasil dalam membalikkan keadaan.

Tantangan Berat Melawan Norwegia dan Luka Lama

Kini, Ancelotti harus menyembuhkan luka terdalam. Sejak final 2002 di Yokohama melawan Jerman, Brasil belum pernah mengalahkan tim Eropa di babak gugur Piala Dunia. Mereka kalah dari Prancis (2006), Belanda (2010), Jerman (2014), Belgia (2018), dan Kroasia (2022). Pertandingan melawan Norwegia tidak hanya soal meredam Erling Haaland, tetapi juga melawan bayang-bayang mimpi buruk lima edisi terakhir. Di sinilah peran mental kembali diuji.

Jika Brasil menang pada Minggu nanti, mereka mungkin belum dianggap favorit utama, tapi akan dipandang dengan cara baru. Publik akan percaya bahwa puasa panjang gelar juara dunia bisa berakhir. Carlo Ancelotti Brasil telah membuktikan bahwa dengan pendekatan humanis, keputusan taktis berani, dan perhatian pada aspek psikologis, tim Samba bisa kembali ke puncak.

Kesimpulannya, transformasi yang dibawa Ancelotti bukan sekadar taktik di lapangan. Ia menyembuhkan luka, mengelola ego, dan membangun kembali kepercayaan. Brasil yang semula penuh kekacauan kini tampil sebagai calon juara dunia yang patut diperhitungkan.

Tantangan Inggris di Azteca: Ekspektasi Realistis Menghadapi Meksiko

Pengalaman Pahit di Ketinggian: Mengapa Altitude Jadi Momok Timnas Inggris

Sore hangat di bulan Juni 2009. Komposisi tim terlihat timpang. Di usia 30 tahun, saya menjadi pemain tertua kedua di skuad kami. Lloyd, Nathan, dan Ben masih awal 20-an—mereka semua bisa bermain. Micky si Jerman tidak dalam kondisi prima, dan di usia 34 tahun sudah melewati puncak performa. Namun, perkiraan paling konservatif, setiap anggota lawan memiliki keunggulan dua dekade lebih muda. Beberapa dari mereka bahkan mungkin mendekati 70 tahun. Kami memakai seragam; mereka bercelana jeans. Kami pakai sepatu olahraga; mereka pakai sepatu kerja—bukan sepatu sepak bola. Namun, setelah satu jam, kami dihajar habis-habisan. Skor akhir lupa, tapi mungkin ini satu-satunya pertandingan enam lawan enam yang saya mainkan di mana “gol selanjutnya menentukan kemenangan” bukan cara yang masuk akal untuk mengakhiri pertandingan.

Bagaimana tim tua ini bisa mengalahkan kami? Satu kata yang mungkin lebih sering Anda dengar dalam tiga hari terakhir: ketinggian (altitude). Di sebuah desa dekat Danau Titicaca, hampir 4.000 meter di atas permukaan laut, sekelompok petani Bolivia campur aduk mempermainkan kami. Sebagai seseorang yang mengandalkan bola untuk bekerja, berlari sejauh lima yard saja membuat saya kehabisan napas. Ini bukan lapangan netral.

Namun, mengetahui pembaca Guardian, Anda semua pasti pernah melakukan Inca Trail. Beberapa dari Anda mungkin membaca ini di tengah pendakian Kilimanjaro yang disponsori. Anda semua tahu bahwa daun koka di Peru tidak cukup untuk membantu aklimatisasi di Azteca dalam dua hari.

Para ahli menyarankan bahwa agar Inggris terbiasa dengan kondisi seperti ini, mereka perlu tiba di babak pertama pertandingan grup pembuka, atau mendarat semenit sebelum kick-off dan berganti pakaian di pinggir lapangan—mengelabui tubuh cukup lama untuk menang dalam waktu normal sebelum mabuk ketinggian menyerang di babak perpanjangan waktu, dan para pemain mulai bertingkah aneh di luar kebiasaan. Jordan Pickford menunjuk pelipisnya dan berteriak ke segala arah. Tunggu, saya bilang di luar kebiasaan? Anda paham maksudnya.

Stadion Azteca: Ketinggian 2.200 Meter dan Segala Konsekuensinya

Stadion Azteca berada di ketinggian sekitar 2.200 meter di atas permukaan laut—yang berarti Dan Burn akan berada 2.202 meter di atas permukaan laut. Agaknya hotel Meksiko akan memberinya ranjang balita, dengan kaki menjulur keluar jendela terbuka saat klakson suporter tuan rumah berbunyi sepanjang malam. Kita sudah melihat apa yang terjadi pada pemain Ekuador. Seberapa efektif headphone peredam bising? Berapa banyak hotel umpan yang dibutuhkan Inggris untuk mendapatkan tidur nyenyak?

Dalam podcast Guardian World Cup Daily, Dan Bardell menyarankan untuk memerankan pemeran serial Dear England sebagai skuad palsu—tempatkan mereka di hotel resmi, dan selundupkan Harry Kane dkk dalam keranjang cucian ke hostel backpacker di seberang jalan. Setidaknya pisahkan mereka agar beberapa pemain kita mendapatkan delapan jam tidur.

Ini mungkin baru mencari-cari alasan lebih awal, tapi tampaknya semakin disadari bahwa pertandingan Inggris vs Meksiko di Mexico City akan sangat sulit. Tim Meksiko terlihat lebih baik dari kami, dan meskipun memiliki banyak pemain bagus, Inggris memiliki segudang masalah. Tiba-tiba ekspektasi di turnamen besar menjadi realistis di luar kebiasaan.

Kekalahan dari DRC dan Masalah Taktis di Lini Belakang

Salah satu keuntungan besar berada di LA saat ini adalah tidak mendengar kepanikan 24/7 yang pasti terjadi setelah pertandingan melawan Republik Demokratik Kongo (DRC) mengenai posisi bek kanan Inggris yang bermasalah. Tapi, di mana pun Anda berada, Anda tidak bisa lepas dari orang-orang yang tidak rutin menonton pertandingan (dan sering juga yang menonton) memberikan wawasan taktis yang jelas-jelas salah.

Djed Spence tidak bermain bagus pada hari Rabu. Tapi dia tidak bersalah atas gol DRC. Dia ditarik ke tengah karena tidak ada yang menjaga Noah Sadiki yang berlari di lini tengah. Bola tampaknya ditujukan untuk Sadiki. Sungguh gila jika Spence mengabaikan lari itu. Entah Noni Madueke harus berlari cepat ke Brian Cipenga, atau gelandang (mungkin Elliot Anderson) pergi bersama Sadiki. Tidak ada tekanan pada bola saat Chancel Mbemba memainkannya. Ada masalah struktural di seluruh lini tengah dan pertahanan—yang sudah terlihat, dan hampir pasti akan terlihat lagi.

Akan menjadi keputusan gila untuk memainkan Rice sebagai bek penuh. Saya tidak tahan mendengar seseorang berteriak “square pegs in round holes” di komentator. Jika semua bek kanan cedera, apakah memulai John Stones sebagai bek tengah melawan gempuran Meksiko menjadi risiko lebih besar daripada mempertahankan duet Marc Guéhi-Ezri Konsa di tengah dan menempatkan Spence di kanan? Jika Rice fit, maka tulang punggung tetap sama. Anderson sejauh ini tampil tenang dan bagus. Jadi sebenarnya hanya pemain sayap yang bisa ditukar masuk dan keluar.

Performa Pemain Sayap: Tidak Sesederhana Hitam-Putih

Sangat mudah untuk mengatakan Madueke dan Marcus Rashford buruk, Bukayo Saka dan Anthony Gordon bagus, karena gol datang saat mereka di lapangan. Tapi tidak sesederhana itu. Pemain DRC terlihat kelelahan di 20 menit terakhir. Siapa bilang jika Gordon starter dan Rashford masuk, hasilnya akan berbeda? Tak satu pun pemain sayap tampil impresif sejauh ini. Tidak banyak ruang di belakang pertahanan, meskipun dua lawan sebelumnya tidak menerapkan blok rendah ala Ghana.

Mengingat tidak ada yang bisa bernapas di Azteca, taktik Thomas Tuchel akan menarik untuk disimak. Meksiko memulai pertandingan dengan sangat cepat. Ada bahaya nyata jika bertahan terlalu dalam. Tapi mungkin masuk akal untuk melakukannya, menghemat energi, dan melawan dengan serangan balik—Kane turun untuk menghubungkan permainan, sesuatu yang sangat kurang sejauh ini. Mungkin beri pemain sayap masing-masing satu babak untuk menguras tenaga mereka sepenuhnya.

Kesimpulan: Realistis, Tapi Bukan Mustahil

Jika Inggris tersingkir dalam kabut Meksiko pada pukul 3 pagi waktu Inggris, itu bukanlah aib. Kita semua bisa tidur dan semuanya akan baik-baik saja di pagi hari. Tentu saja, dengan setiap Piala Dunia, ada bagian kecil bodoh dari otak saya yang berpikir ini akan menjadi tahunnya. Menang di Meksiko akan menjadi prestasi yang benar-benar mengesankan. Tapi jika Inggris berhasil, kemungkinan Brasil, Argentina, dan Prancis semuanya di permukaan laut. Mudah: tidak ada petani Bolivia yang akan menang di sana.

Sidang Maddy Cusack: Ibu Ungkap Tekanan dan Data Medis Hilang

Kesaksian Ibu Deborah di Sidang Kematian Maddy Cusack

Sidang kematian pesepakbola wanita Maddy Cusack terus menyita perhatian publik. Pada hari Kamis, ibu Maddy, Deborah Cusack, memberikan kesaksian yang emosional di pengadilan koroner Chesterfield. Ia menuding pelatih Jonathan Morgan sebagai penyebab utama kondisi mental anaknya yang memburuk, sekaligus mengkritik sistem pelaporan di sepak bola wanita yang dinilainya terlalu sulit diakses.

Menurut Deborah, Maddy akan tetap hidup jika Morgan tidak diangkat sebagai manajer Sheffield United pada Februari 2023. Ia menggambarkan putrinya sebagai sosok yang ceria dan bersinar sebelum kedatangan Morgan.

Tudingan Langsung ke Jonathan Morgan

Deborah Cusack mengatakan bahwa Morgan membuat Maddy merasa “seolah-olah harus berhenti dari sepak bola.” Dalam kesaksiannya, ia menyebut Morgan sering memberikan komentar merendahkan, seperti menyebut Maddy “bottom-heavy” (berbadan besar bagian bawah) yang menurut Deborah sangat mempermalukan putrinya. Morgan membela diri dengan mengatakan itu hanya soal otot dan latihan kekuatan.

Deborah juga menyoroti insiden ketika Morgan memanggil pasangan Maddy, Grace Riglar, dengan sebutan “Mrs Cusack” di depan tim. Maddy merasa “dipermalukan luar biasa”. Dengan nada marah, Deborah bertanya kepada Morgan: “Siapa kamu yang memberi aturan, padahal kamu sendiri menjalin hubungan dengan seorang pemain?”

Meskipun Deborah mengakui, “Saya tidak menyalahkan Anda atas apa yang persis ia lakukan,” ia tetap menegaskan: “Tapi Anda membuatnya merasakan apa yang ia rasakan. Pukulan kecil yang terus-menerus. Anda merendahkannya. Jika Anda tidak dipekerjakan, putri saya masih hidup hari ini.”

Kondisi Mental Maddy Sebelum dan Sesudah Morgan

Menurut Deborah, Maddy tidak pernah memiliki masalah kesehatan mental sebelumnya. Semua berubah setelah Morgan menjabat. Maddy sempat meminta rujukan konselor ke dokter klub, Dr Subhashis Basu, dua minggu sebelum kematiannya. Namun Dr Basu saat itu menyarankan untuk menunda. Dr Basu kemudian membantah ingatan itu, mengklaim ia menawarkan bantuan melalui Sporting Chance.

Kritik Pedas terhadap PFA dan FA

Deborah Cusack melontarkan kritik tajam kepada Asosiasi Pesepakbola Profesional (PFA) dan Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA). Ia kecewa karena PFA tidak pernah memeriksa keadaan Maddy meskipun ia adalah anggota. Padahal ada pemain lain yang juga mengajukan keluhan selama Maddy di Sheffield United.

“PFA seharusnya mengecek anggota lain di klub itu. Mungkin mereka perlu lebih peka terhadap perbedaan antara sepak bola pria dan wanita,” ujar Deborah. Ia juga menyinggung saluran pengaduan rahasia FA, Integrity phone line, yang menurutnya tidak akan dihubungi oleh pesepakbola wanita karena takut masuk daftar hitam atau dicap pembuat masalah.

“Maddy merasa tidak bisa bicara dengan pimpinan Sheffield. Itu benar-benar harus berubah,” tegasnya.

Hilangnya Data Medis dalam Skala Besar

Salah satu temuan penting dalam sidang adalah hilangnya data medis sensitif para pemain secara massal. Dr Subhashis Basu, dokter klub saat itu, mengakui bahwa ia gagal melaporkan kebocoran data tersebut dengan benar. Catatan medis Maddy untuk periode krusial juga tidak dapat ditemukan, sehingga memperumit upaya keluarga untuk mengklarifikasi alasan Maddy dicadangkan oleh Morgan saat pertandingan pertamanya.

Dr Basu menjelaskan bahwa masalah terjadi saat peralihan sistem pencatatan dari Kitman Labs ke WPS pada musim panas 2023. Ia mengaku sudah beberapa kali menghubungi penyedia sistem, tetapi tidak melaporkan kebocoran ini ke klub hingga setelah kematian Maddy. Ia juga tidak memberi tahu Komisioner Informasi, maupun menyebutnya dalam investigasi internal klub atau FA. Koroner menyatakan keprihatinan bahwa data medis pemain lain mungkin masih hilang.

Permintaan Otak untuk Penelitian dan Kesalahan Komunikasi

Sehari setelah Maddy meninggal, Dr Basu menghubungi keluarga dan meminta izin agar otak Maddy digunakan untuk penelitian mengenai dampak sundulan bola. Permintaan itu, yang ia katakan atas nama kepala kesehatan otak PFA, ditolak oleh keluarga. Ayah Maddy, David Cusack, sebelumnya bersaksi bahwa Dr Basu mengaku telah berbicara dengan Maddy lima hari sebelum kematiannya. Namun pada sidang Kamis, Dr Basu membantah dan menyebut itu kesalahpahaman. “Jika saya benar-benar bicara dengannya dan ia dalam kondisi seperti itu, saya pasti akan membantunya. Saya minta maaf jika kontribusi saya pada kesalahpahaman ini,” ujarnya.

Kesimpulan: Perlunya Perubahan Sistemik di Sepak Bola Wanita

Sidang kematian Maddy Cusack masih akan berlanjut pada hari Jumat. Kesaksian ibunya membuka tabir gelap tekanan yang dihadapi pesepakbola wanita, mulai dari perlakuan atasan, kurangnya dukungan dari organisasi, hingga lemahnya sistem pencatatan data medis. Keluarga berharap kasus ini mendorong perubahan nyata agar tidak ada lagi pemain yang merasa tidak bisa bersuara atau terancam masuk daftar hitam.

Bagi Anda yang mengalami situasi serupa, tersedia layanan dukungan. Di Indonesia, hubungi hotline pencegahan bunuh diri di 021-123-4567 (contoh). Atau hubungi organisasi internasional seperti Samaritans (116 123 di Inggris), National Suicide Prevention Lifeline (988 di AS), atau Lifeline (13 11 14 di Australia).