Viviane Asseyi, penyerang West Ham United, membuka cerita tentang perjalanan kariernya dari anak kurus di Prancis yang bermimpi seperti Zinedine Zidane hingga menjadi pemain senior dan wakil kapten di London. Dalam wawancara itu, ia juga menceritakan kebiasaan menelepon ibunya setelah pertandingan, peran keluarga berdarah Gabon, dan keinginannya menjadi panutan bagi generasi berikutnya. Cerita Asseyi menunjukkan bagaimana dukungan keluarga dan keyakinan pada mimpi membentuk perjalanan seorang pesepak bola.
Konteks wawancara ini datang setelah West Ham kalah 3-0 di markas Brighton. Meski Brighton mendominasi penguasaan bola, West Ham disebut lebih dekat kepada lawan dalam hal jumlah tembakan, tembakan tepat sasaran, dan sentuhan di kotak penalti lawan ketimbang yang terlihat dari skor. Di tengah kekalahan itu, Asseyi menelepon ibunya dan mendapat tanggapan khas keluarga: sang ibu tertawa dan menilai penampilannya buruk, tetapi justru itu yang membantunya tetap melangkah. Asseyi mengaku sebagai orang yang benar-benar menghayati pertandingan.
Dari Piala Dunia 1998 hingga Permintaan pada Ibu
Asseyi lahir di Prancis dari orang tua asal Gabon dan tumbuh dengan budaya Gabon di sekelilingnya. Orang tuanya sangat ingin ia tetap terhubung dengan warisan Afrika, sehingga keluarga makan bersama setiap Minggu dan makanan, musik, serta hal-hal tentang Gabon selalu hadir. Lingkungan itu memberi Asseyi akar keluarga yang kuat sebelum ia mengejar karier di Eropa.
Semua bermula ketika Asseyi berusia empat tahun dan menonton Piala Dunia 1998. Ia melihat Prancis menang atas Brasil, lalu meminta ibunya membelikan bola sepak karena ingin bermain dan menjadi seperti Zidane. Permintaan itu bukan sekadar keinginan sesaat; bagi Asseyi, Zidane menjadi contoh konkret tentang sosok pemain yang ingin ia tiru.
Keluarga Asseyi terbiasa bercanda satu sama lain, sehingga reaksi awal mereka juga penuh tawa. Mereka melihat tubuhnya yang kurus dan bertanya bagaimana ia akan bermain ketika orang lain jauh lebih kuat. Namun di balik candaan itu, keluarga tetap mendukung, dan Asseyi sendiri sangat serius dengan mimpinya.
Sang ibu sempat membelikan bola plastik murah yang ringan dan mengira Asseyi tidak akan menyadari perbedaannya. Asseyi menolak dan menegaskan bahwa ia ingin bola yang sama seperti Zidane. Kisah kecil ini memperlihatkan keteguhan anak yang kelak menempuh jalur sepak bola profesional, sekaligus menunjukkan bahwa keluarganya perlahan menerima dan merangkul ambisinya.
Viviane Asseyi dan Jalan dari Normandia ke Clairefontaine
Di sekolah, cita-cita Asseyi tidak selalu dipahami. Saat diminta menyebutkan profesi impian, ia selalu menjawab ingin menjadi pesepak bola profesional dan seperti Zidane. Guru sempat bertanya apakah ia baik-baik saja karena sepak bola perempuan belum terlihat luas saat itu, tetapi teman-temannya memahami karena mereka juga bermain sepak bola setiap hari.
Ibunya memasukkan Asseyi ke klub-klub di Normandia, tempat ia tumbuh besar. Perjalanan itu akhirnya membawanya ke pusat sepak bola nasional Prancis di Clairefontaine setelah ia memperoleh tempat. Ketika surat konfirmasi tiba, Asseyi menyebutnya sebagai mimpi yang menjadi kenyataan.
Bagi Asseyi, Clairefontaine terasa seperti tim nasional dan tempat terbaik bagi pemain muda. Ia menyebut Kylian Mbappé pernah menempuh jalur itu dan banyak pemain besar lahir dari sana. Sebelum diterima, ada serangkaian tes, dan dari seluruh Prancis hanya sekitar 13 sampai 15 orang yang masuk, sehingga kesempatan itu terasa sangat besar.
Saat membaca surat itu, ibu dan keluarganya menangis, sementara Asseyi justru tidak menangis karena fokusnya tertuju pada sepak bola dan mimpinya. Di Clairefontaine, anak laki-laki dan perempuan diperlakukan sama: mereka bersekolah dan makan bersama. Di sana ia berteman dengan kiper Alphonse Areola, yang kini juga di West Ham, dan Raphaël Guerreiro, yang kemudian bermain untuk Portugal; Asseyi mengenang bahwa Guerreiro mengidolakan Cristiano Ronaldo di sekolah dan kemudian memenangi Euro bersama Ronaldo.
Karier Nomaden dan Rumah Kedua di West Ham
Hidup jauh dari keluarga dan hanya bertemu pada akhir pekan membantu Asseyi bersiap untuk kehidupan pesepak bola yang berpindah-pindah. Ia pernah memperkuat Rouen, Montpellier, Marseille, dan Bordeaux sebelum menghabiskan dua tahun di Jerman bersama Bayern Munich. Pada 2022 ia pindah dari Bavaria ke London dan kini menjalani musim kelima bersama West Ham.
Asseyi telah bermain 117 kali untuk West Ham dan berpeluang memecahkan rekor 130 penampilan Kate Longhurst di era Women’s Super League. Sejak awal ia merasa menemukan keluarga kedua di klub itu. Menurutnya, ketika merasa dihargai dan ada rasa saling menghormati, seorang pemain akan selalu merasa nyaman dan ingin memberikan segalanya.
Sebagai pemain berpengalaman dan wakil kapten, Asseyi yang berusia 32 tahun ikut membentuk budaya serta standar tim. Ia menilai tugas itu mudah karena semua orang datang dengan senyum. Meski tim kadang kalah, para pemain kembali dengan kesiapan untuk memberikan segalanya.
West Ham memenangi dua dari tujuh pertandingan pembuka. Asseyi menyebut konsistensi masih hilang dan yakin hasil akan membaik. Persoalannya kadang mental, kadang menyangkut detail-detail kecil.
Viviane Asseyi: Menjadi Panutan bagi Generasi Berikutnya
Asseyi menikmati perannya sebagai pesepak bola perempuan kulit hitam yang terlihat di ruang publik. Saat tumbuh besar, idolanya adalah petenis Serena Williams. Ia mengaku sebelumnya tidak benar-benar menyadari seberapa besar seorang pemain bisa menginspirasi orang lain.
Semakin banyak orang menghubunginya lewat media sosial atau cara lain untuk mengatakan bahwa ia menginspirasi mereka, semakin ia melihat dampak yang bisa diciptakan. Menurut Asseyi, pemain sering hanya pergi ke lapangan dan menikmati pertandingan bersama rekan setim tanpa menyadari pengaruhnya pada gadis-gadis kecil yang mungkin ingin menjadi seperti mereka atau terinspirasi oleh permainannya. Ia senang jika bisa menginspirasi siapa pun dan akan berusaha melakukannya lebih sering.
Pesan itu juga penting bagi keluarganya. Ibunya selalu mengingatkan Asseyi untuk tidak lupa bahwa banyak orang memperhatikannya. Ia diminta menjadi panutan yang baik, memberikan segalanya, dan tidak pernah menyerah karena bisa membantu generasi berikutnya melakukan hal yang sama.
Perjalanan Viviane Asseyi menunjukkan bahwa mimpi besar sering dimulai dari hal sederhana: permintaan seorang anak kepada ibunya setelah menonton Piala Dunia 1998. Dari lingkungan keluarga berdarah Gabon, candaan yang membentuk ketahanan, sekolah yang meragukan cita-citanya, hingga Clairefontaine dan West Ham, ia menapaki jalur dengan keyakinan dan kerja keras. Di West Ham, ia bukan hanya mengejar konsistensi tim, tetapi juga menyadari perannya sebagai panutan.
Bagi Asseyi, menjadi seperti Zidane tidak berhenti pada keinginan memiliki bola yang sama. Maknanya berkembang menjadi keberanian mengejar karier profesional, menghargai dukungan keluarga, dan memberi contoh bagi generasi berikutnya. Dengan lima musim di West Ham dan peluang memecahkan rekor penampilan, ceritanya masih berlanjut, baik di lapangan maupun di luar lapangan.
