Eva Olid Manchester United: Tantangan Berat di Awal WSL

Kiprah Eva Olid Manchester United langsung dihadapkan pada ujian yang tidak ringan di awal musim Women’s Super League (WSL). Tim putri Manchester United tampil kewalahan menghadapi pressing agresif dan penuh energi London City Lionesses pada laga pembuka, dan gol penghibur Simi Awujo di menit-menit akhir tidak cukup untuk meredakan kekhawatiran yang terus menumpuk. Sepanjang pertandingan, para pemain United terlihat kesulitan mengembangkan permainan melawan lawan yang jauh lebih lapar.

Meski demikian, pesan yang paling masuk akal saat ini adalah: jangan panik. Menulis “berita duka” untuk tim ini masih terlalu dini, karena Olid hanya punya waktu tiga minggu untuk mencoba menerapkan idenya sebelum laga di Bromley pada Jumat, 4 September tersebut. Rentang waktu sesingkat itu jelas belum cukup untuk mengikis jejak permainan yang ditinggalkan pelatih sebelumnya, Marc Skinner. Situasi ini makin pelik karena ada sejumlah tim lain yang terus mengintai dan siap menyalip United.

Ujian Pembuka yang Tidak Ramah

London City Lionesses memberi tekanan tanpa henti sejak awal laga, dan United nyaris tidak menemukan cara untuk keluar dari cengkeraman tersebut. Pola pressing mereka yang rapat membuat lini tengah United kesulitan membangun serangan, sehingga bola lebih sering berpindah ke penguasaan lawan. Gol Simi Awujo di pengujung pertandingan memang memperkecil ketertinggalan, tetapi tidak mengubah kenyataan bahwa performa tim jauh dari memuaskan.

Hasil itu menjadi sinyal bahwa United memasuki musim dengan kondisi yang belum siap, baik dari sisi kebugaran taktis maupun kekompakan antarpemain. Kekhawatiran yang muncul bukan semata soal satu hasil buruk, melainkan tentang seberapa besar jarak yang harus dikejar dari para pesaing. Dengan tim-tim lain yang terus mendekat di papan klasemen, setiap poin yang hilang di awal musim bisa berdampak panjang.

Tiga Minggu yang Terlalu Singkat untuk Eva Olid Manchester United

Persoalan utama United musim ini bukan sekadar kualitas permainan, tetapi juga kronologi yang tidak berpihak kepada pelatih barunya. Olid baru resmi menangani tim sekitar tiga minggu sebelum laga pembuka, waktu yang sangat pendek untuk membongkar cara bermain warisan Skinner dan menggantinya dengan pendekatan baru. Mengubah filosofi permainan sebuah tim biasanya butuh pramusim penuh, bukan hitungan hari menjelang kompetisi bergulir.

Keterlambatan itu tidak hanya terjadi di kursi pelatih, tetapi juga di bursa transfer. Penyerang Monica Jusu Bah baru bergabung dari klub Swedia, Häcken, pada 28 Agustus, sementara Rebeca Bernal baru resmi direkrut dari Washington Spirit pada 2 September. Keduanya datang ketika musim sudah di ambang pintu, sehingga proses adaptasi harus berjalan beriringan dengan pertandingan kompetitif yang menuntut hasil instan.

Kondisi tersebut menempatkan United pada posisi tertinggal dibanding klub-klub yang menyelesaikan sebagian besar urusan transfer lebih awal. Mereka bisa memanfaatkan pramusim secara maksimal, terutama karena tidak adanya turnamen internasional besar yang menguras pemain di tengah persiapan. Selisih kesiapan inilah yang membuat United terlihat seperti tim yang terus mengejar ketertinggalan, bukan tim yang memimpin langkah.

Sorotan Keras dan Investasi yang Dinilai Minim

Tekanan terhadap Olid dan para pemainnya terasa berlipat karena sorotan terhadap sisi merah Manchester begitu tajam. Komentar pemilik minoritas Jim Ratcliffe yang terkesan meremehkan tim putri, ditambah minimnya investasi serius ke dalam skuad, menjadi alasan mengapa pelatih dan pemain sebenarnya layak dimaafkan atas kesulitan mereka. Kesulitan itu justru menjadi cerminan klub yang tampaknya belum sepenuhnya peduli.

Klub dikabarkan lebih fokus pada model investasi yang berkelanjutan dalam hal rekrutmen serta pengembangan pemain muda. Dalam konteks tersendiri, dua tujuan itu terasa mulia. Namun ketika klub-klub WSL lain mempercepat laju investasi mereka, sementara dana yang relatif kecil saja bisa memberi dampak transformatif bagi tim putri di klub sebesar United, tujuan-tujuan tersebut berubah menjadi belenggu.

Ada ironi dalam keputusan Olid meninggalkan Hearts untuk bergabung dengan United. Ia datang ke Skotlandia untuk menangani tim amatir yang hanya terhindar dari degradasi karena ekspansi divisi teratas, lalu dalam lima tahun membawa mereka menuju profesionalisme dan gelar Scottish Women’s Premier League. Ia menilai investasi yang dibutuhkan Hearts untuk bersaing di Eropa saat itu belum memadai, dan pengumuman kepergiannya pun muncul di akhir musim.

WSL beserta klub-klubnya memang jauh lebih maju secara pengembangan dibandingkan SWPL dan tim-tim di dalamnya, tetapi Olid kini mendarat di klub yang berulang kali gagal berinvestasi cukup besar untuk menjadi penantang gelar liga maupun Eropa. Kepada surat kabar Katalan, Ara, ia mengaku akan bertahan di Hearts “jika proyek saya berlanjut”. Ia menambahkan: “Saya ingin melatih di Eropa, tetapi itu hanya babak pendahuluan dan mungkin kami akan berada di sana selama sepekan lalu tersingkir. Saya tidak ingin berjalan mundur. Saya lebih memilih pergi setelah memenangi segalanya karena jika tidak, saya akan merasa frustrasi.”

Warisan Frustrasi dan Skuad yang Menipis

Frustrasi bukan hal baru di United, melainkan sudah menjadi warna keseharian tim pada era Skinner. Pelatih sebelumnya kesal karena menilai dirinya kurang mendapat dukungan di jendela transfer, sementara para penggemar makin geram melihat tidak adanya kemajuan yang bertahan lama. United sempat melangkah maju dengan menjuarai Piala FA pada 2024 atau mencapai perempat final Liga Champions musim lalu, tetapi tidak pernah benar-benar mendorong pencapaian itu ke level berikutnya.

Kesabaran kini makin tipis, dan tugas Olid dibuat jauh lebih berat oleh tujuh kepergian pemain dengan hanya empat tambahan ke dalam skuad yang oleh banyak pihak sudah dianggap tipis. Olid menyatakan telah mendapat jaminan bahwa United akan aktif bergerak di jendela transfer musim dingin. “Kami punya sejumlah rencana pada Januari untuk merekrut pemain yang benar-benar saya butuhkan sesuai gaya permainan dan model permainan saya,” ujarnya dalam konferensi pers pertamanya.

Sayangnya, jaminan itu baru bisa dieksekusi dalam beberapa bulan, sementara United masih harus melewati 12 laga WSL sebelum Januari ditambah pertandingan-pertandingan piala. Jadwal pembuka mereka sangat tidak bersahabat, dengan Chelsea bertandang pada Minggu dan lawatan ke markas Arsenal pada Sabtu berikutnya. Kombinasi skuad tipis dan lawan-lawan berat membuat periode awal kepemimpinan Olid menjadi salah satu yang tersulit di liga.

Tekanan di Luar Lapangan dan Asa Melawan Chelsea

Olid layak mendapat waktu dan kesabaran lebih, mengingat rekam jejaknya cukup dihormati. Ia membawa pengalaman panjang di Spanyol, baik di sepak bola akademi putra maupun sepak bola putri, dan pernah menimba ilmu di Houston Dynamo, Amerika Serikat. Modal pengalaman itu menjadi alasan kuat untuk menilai bahwa ia mampu membangun fondasi permainan United secara bertahap.

Namun, ia harus menghadapi lebih dari sekadar kritik soal kondisi tim atau keraguan atas kredibilitas kepelatihannya. Setiap kali tampil, ia dihujani gelombang komentar seksis yang mengerikan di media sosial. Tekanan semacam itu jelas menguras energi mental, dan dampaknya bisa terasa pada cara seorang pelatih mengambil keputusan di lapangan maupun di luar lapangan.

Jika Olid mampu melewati badai frustrasi, yang akan makin besar apabila tim tersandung saat para pemain masih beradaptasi dengan filosofinya, sekaligus mendorong United mengendurkan tali dompet mereka, itu akan menjadi pencapaian besar. Sayangnya, keberhasilan di lapangan pun tampaknya tidak akan menghentikan komentar-komentar daring tersebut, melainkan hanya mengubah nada bicaranya. Ia pantas mendapat perlakuan yang jauh lebih baik dari semua itu.

Harapannya, Olid bisa membangun kedekatan dengan para pemain sehingga mereka mampu tampil di atas kemampuan sebenarnya sampai bala bantuan datang pada Januari. Peluang pertama untuk mengusir para “pemangsa” itu datang saat United menjamu Chelsea di Leigh, dan dengan The Blues yang tampil kurang meyakinkan di sepertiga akhir lapangan ketika melawan Aston Villa pada Sabtu lalu, sedikit harapan masih bisa dipelihara.

Kesimpulan

Perjalanan Eva Olid di Manchester United baru berjalan sangat singkat, tetapi tekanan yang mengiringinya sudah luar biasa besar. Kekalahan di laga pembuka, keterlambatan perekrutan pemain, skuad yang menipis, dan sorotan keras terhadap klub menjadi satu paket tantangan yang tidak bisa diselesaikan dalam sekejap. Yang dibutuhkan saat ini bukan penilaian tergesa-gesa, melainkan waktu bagi sang pelatih untuk menanamkan ide-idenya.

Jika jendela transfer Januari benar-benar dimanfaatkan untuk mendatangkan pemain yang sesuai dengan gaya permainannya, United punya peluang memperbaiki musim ini secara bertahap. Sampai saat itu tiba, pertandingan-pertandingan berat seperti lawatan Chelsea dan Arsenal akan menjadi ujian ketahanan, baik bagi Olid maupun bagi para pemain yang tengah belajar memahami cara bermain baru.