Start Buruk Nottingham Forest, Sorotan Glasner dan Delap

Start buruk Nottingham Forest menjadi sorotan utama setelah tim itu tertahan di peringkat 19 Premier League. Posisi tersebut terasa jauh dari rencana klub yang mendatangkan manajer berlabel tinggi dan striker seharga £45 juta, Liam Delap, untuk mendongkrak ambisi. Dengan nol gol di kandang dan hanya satu poin di City Ground, awal musim ini jelas bukan gambaran yang diharapkan.

Sorotan utama jatuh pada Oliver Glasner dan Delap karena nasib keduanya saling terkait. Delap bersiap kembali ke Ipswich, klub tempat kariernya mulai bersinar, pada Jumat malam. Nottingham Forest memilih tetap tenang dan tidak ingin terjebak dalam pola pikir jangka pendek yang sebelumnya menimbulkan banyak masalah.

Fakta di Balik Posisi Nottingham Forest

Setelah tujuh pertandingan, Nottingham Forest berada di peringkat 19 dengan lima poin dan selisih gol -4. Fulham tepat di atasnya juga mengoleksi lima poin, tetapi punya selisih gol lebih baik, yaitu -3, sedangkan Sunderland di dasar klasemen baru mengumpulkan empat poin. Angka itu menjelaskan mengapa start buruk Nottingham Forest langsung memicu pembicaraan, terutama karena klub belum mencetak gol di kandang dan baru meraih satu poin di City Ground.

Klub tidak sekadar berada di posisi sulit; mereka juga menanggung ekspektasi besar setelah mengeluarkan biaya untuk mendatangkan Glasner dan Delap. Banyak penggemar menilai investasi sebesar itu seharusnya berbuah hasil instan. Namun, di sepak bola, harapan seperti itu jarang sejalan dengan kenyataan karena proses adaptasi membutuhkan waktu.

Bagi Glasner, tugasnya adalah memahami klub secara menyeluruh sambil memengaruhi performa lewat metode yang ia rancang dengan cermat. Bagi Delap, prioritasnya adalah membangun kembali kepercayaan diri, dan jalan paling alami untuk itu adalah mencetak gol. Dua kebutuhan itu membuat awal musim Forest tidak bisa dinilai hanya dari tabel, meski tekanan tetap terasa.

Mengapa Start Buruk Nottingham Forest Terjadi

Nottingham Forest berusaha menghindari jebakan jangka pendek yang dulu memperumit klub. Dua belas bulan lalu, mereka sudah berada pada pelatih kepala ketiga dalam musim yang mengecewakan. Karena itu, keputusan pada musim panas lalu tidak dilakukan secara spontan, melainkan bagian dari upaya memperbaiki arah tim.

Klub bersikap tegas dengan melepas Vítor Pereira, meski ia dianggap melakukan pekerjaan baik untuk lolos dari ancaman degradasi. Forest melihat peluang untuk melakukan peningkatan dengan merekrut Glasner, dengan harapan ia bisa mentransformasi tim seperti yang ia lakukan di Crystal Palace. Keputusan itu menunjukkan klub mengejar lompatan kualitas, bukan sekadar stabilitas jangka pendek.

Namun, mempelajari cara kerja Glasner tidak sederhana. Ia terbiasa memakai tiga bek di belakang dan dua nomor 10, pola yang tidak lazim bagi banyak tim. Situasi itu diperberat oleh kehilangan Elliot Anderson, pemain terbaik Forest, sehingga rekrutmen harus diarahkan untuk menambal kebutuhan spesifik.

Rekrutmen Terukur dan Statistik yang Menghibur

Rekrutmen Forest dilakukan secara terukur dengan membidik posisi yang memang perlu diperkuat. Klub berusaha menghindari pembelian tanpa arah yang sempat mengganggu mereka setelah promosi. Prioritas utama adalah mengganti Anderson, dan Glasner menilai James McAtee bisa beradaptasi ke peran lebih dalam di lini tengah bersama Xaver Schlager, rekrutan gratis yang dinilai cerdik.

Di lini belakang, kedatangan Ousmane Diomande dianggap sebagai kemenangan tersendiri. Glasner juga meyakinkan Daniel Muñoz untuk mengikutinya dari Selhurst Park. Langkah-langkah itu menunjukkan bahwa masalah Forest bukan sekadar soal nama besar di bangku cadangan, tetapi juga soal bagaimana tim dibangun ulang.

Ada banyak sinyal positif yang tidak terlihat langsung di klasemen. Berdasarkan peluang yang diciptakan dan dilepaskan, Glasner mencatat awal terbaik di antara manajer Nottingham Forest pada era Premier League. Opta menempatkan tim ini di peringkat ketujuh untuk expected goals (xG), tetapi Forest justru mencetak paling sedikit, yaitu lima gol, dan menjadi tim dengan selisih xG paling buruk di -6,2.

Kesenjangan itu sangat besar karena setara dengan hampir satu gol per pertandingan yang seharusnya bisa didapat. Di kandang, ada 62 tembakan yang belum menghasilkan gol, dan jika Glasner ingin mendapat dukungan penuh dari penggemar, angka itu perlu segera berubah. Jika semua tim mencetak dan kebobolan sesuai ukuran xG, Forest bahkan akan berada di posisi keempat.

Tekanan pada Delap dan Absennya Gibbs-White

Delap belum menemukan ritme terbaiknya setelah tahun yang mengecewakan di Chelsea, dan minimnya pramusim membuat adaptasinya semakin berat. Forest sebenarnya pernah mencoba merekrutnya sebelum ia bergerak ke Stamford Bridge, dan klub masih menaruh kepercayaan besar padanya. Catatannya masih perlu diperbaiki karena ia mencetak satu gol setiap lima penampilan liga.

Secara profil, Delap adalah nomor 9 ideal dengan kecepatan, kekuatan, dan penyelesaian tajam. Akan tetapi, tanpa performa puncak, mengubah potensi itu menjadi produktivitas yang konsisten tidaklah mudah. Ia baru mencetak satu gol untuk Forest, tetapi tetap menunjukkan usaha sebagai garis depan pertahanan dengan menekan bek tengah lawan tanpa henti.

Kecerdasannya juga terlihat dari lemparan cepat yang membantu terciptanya gol di Anfield. Pola serupa hampir terulang saat melawan Arsenal, hanya saja Chris Wood gagal memanfaatkan peluang itu. Detail-detail seperti ini menunjukkan bahwa Delap tidak hanya soal gol, meski gol tetap menjadi ukuran yang paling mudah dibaca publik.

Melawan Arsenal, Forest hanya membiarkan satu tembakan tepat sasaran, tetapi bola itu berbelok menjadi gol kemenangan. Glasner juga menyoroti absennya kapten Morgan Gibbs-White, poros serangan tim. “Terasa sangat tidak adil,” kata Glasner tentang hasil itu. “Kami harus menerima bahwa ada beberapa hal yang kurang. Tetapi performa di banyak bagian sangat bagus.”

Rekam Jejak Glasner dan Kesabaran Nottingham Forest

Glasner pun bisa merujuk pada rekam jejaknya untuk menjelaskan mengapa proses ini butuh waktu. Pada musim penuh pertamanya di Palace, ia hanya memenangi satu dari 13 laga liga pertama, tetapi tim berakhir nyaman di papan tengah dan menjuarai Piala FA. Pengalaman serupa terjadi di Eintracht Frankfurt, ketika ia meraih satu kemenangan dari 10 laga sebelum akhirnya menjuarai Liga Europa.

Dalam dua musim penuh di Selhurst Park, Glasner mempersembahkan dua trofi besar bagi klub yang hampir 120 tahun tanpa gelar. Ia juga punya dua gelar Eropa serta formasi dan cara eksekusi yang khas, hasil dari 12 tahun pengalaman melatih. Karena itu, ia memahami betul bahwa membangun kerumitan taktik tidak bisa dilakukan dalam sekejap.

Gambaran Forest mulai lebih jelas setelah hampir empat bulan bersama. Harapan klub adalah usaha keras mereka akhirnya diimbangi keberuntungan, unsur yang tampak hilang di tengah rekrutmen matang pimpinan chief football officer George Syrianos dan jajaran pelatih yang cerdik. Syrianos menjadi pendukung terbesar Glasner dan telah mengatakan kepada penggemar bahwa sang manajer akan diberi waktu.

Jumat akan menjadi laga Premier League kedelapan Glasner bersama Forest. Jumlah itu tiga pertandingan lebih banyak daripada kesempatan yang diberikan kepada Ange Postecoglou sebelum ia diberhentikan oleh pemilik klub, Evangelos Marinakis, pada periode yang sama tahun lalu. Berbeda dari Postecoglou, Glasner bisa menunjukkan kemajuan, sehingga ia cukup yakin poin akan datang.

Secara keseluruhan, start buruk Nottingham Forest bukan sekadar akibat satu atau dua hasil buruk. Posisi di zona degradasi, nol gol di kandang, dan kegagalan memaksimalkan xG menunjukkan masalah efisiensi, bukan semata kualitas skuad. Di sisi lain, rekam jejak Glasner dan sinyal positif dalam permainan memberi alasan untuk menahan kesimpulan terlalu cepat.

Delap juga masih dalam proses membangun kembali performa setelah tahun sulit di Chelsea dan minim pramusim. Jika gol mulai datang, beban di lini depan bisa berkurang dan Forest punya peluang mengubah tekanan menjadi momentum. Pertandingan berikutnya akan menjadi ujian penting bagi Glasner untuk membuktikan bahwa kesabaran klub memang beralasan.