Erik ten Hag menyebut Cristiano Ronaldo “menjatuhkan tim” selama keduanya masih bekerja bersama di Manchester United. Bukan hanya soal Ronaldo, pelatih asal Belanda itu juga mengklaim bahwa janji-janji dari pemilik klub tidak pernah ditepati, dan hal itu bermuara pada pemecatannya pada Oktober 2024.
Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam wawancara dengan The Athletic, dan langsung membuka kembali luka lama di Old Trafford. Bagi Erik ten Hag, ini adalah kesempatan menjelaskan alasan di balik sejumlah keputusan kontroversial yang dulu ia ambil. Bagi Manchester United, pengakuan ini menambah panjang daftar persoalan internal yang selama ini lebih sering muncul sebagai rumor daripada penjelasan resmi.
Apa yang Diungkap Erik ten Hag soal Ronaldo
Dalam wawancara tersebut, Erik ten Hag tidak berbicara dengan nada menyerang, tetapi penilaiannya tegas. Ia menilai Ronaldo telah mengkhianati rencana yang sudah disusun bersama, karena sang manajer sejak awal membangun skema permainan dengan mengikutsertakan penyerang Portugal itu sebagai bagian penting.
“Dia menjatuhkan tim, dan dia juga menjatuhkan saya, karena kami sudah merencanakan banyak hal bersamanya,” ujar Ten Hag. Meski demikian, ia tetap mengakui kualitas Ronaldo dengan menyebutnya sebagai salah satu pemain terbaik dalam sejarah sepak bola, serta menegaskan bahwa ia sangat menghormati karier sang pemain.
Namun menurut Ten Hag, rasa hormat tidak bisa mengalahkan tuntutan pekerjaan. “Tapi pada saat itu, sebagai manajer, saya harus mengambil keputusan yang rasional dan mempertahankan pemain-pemain yang saya kagumi,” katanya. Kalimat itu menunjukkan bahwa persoalannya bukan soal kualitas individu, melainkan soal kedisiplinan dan arah tim.
Kronologi Retaknya Hubungan Ten Hag dan Ronaldo
Ronaldo kembali ke Manchester United untuk masa bakti keduanya pada Agustus 2021. Saat itu ia sudah berada di klub ketika Ten Hag diangkat pada April 2022 sebagai penerus Ole Gunnar Solskjær, sehingga keduanya semestinya punya waktu cukup untuk membangun kerja sama.
Kenyataannya hubungan mereka cepat merenggang. Pada Oktober 2022, Ronaldo menolak masuk sebagai pemain pengganti saat tim meraih kemenangan atas Tottenham. Setelah insiden itu, ia berbicara di depan publik melalui sebuah wawancara televisi dan mengkritik klub secara terbuka. Kontrak sang pemain akhirnya diputus atas kesepakatan bersama pada bulan berikutnya.
Ten Hag juga menyoroti persoalan kedisiplinan latihan yang terjadi jauh sebelum puncak konflik tersebut. Ia mengklaim Ronaldo tidak menyelesaikan sesi lari penuh yang diwajibkan bagi seluruh pemain setelah kekalahan 4-0 dari Brentford di awal masa jabatannya. “Saya menghadapinya soal ini. Berkali-kali saya katakan: ‘Ronnie, semua orang ingin bekerja untukmu agar kamu berada di posisi yang tepat, tapi kalau kamu tidak bisa menempatkan dirimu di kotak penalti, kamu tidak akan mencetak gol’,” ujarnya menirukan percakapan mereka.
Klaim Erik ten Hag soal Janji Manajemen yang Tak Ditepati
Selain soal Ronaldo, Erik ten Hag mengungkap sisi lain dari pemecatannya. Ia diberhentikan hanya lima bulan setelah menjuarai Piala FA dan menandatangani perpanjangan kontrak, sebuah urutan peristiwa yang ia nilai tidak sejalan dengan kesepakatan awal.
Dalam pembicaraan mengenai kontrak baru itu, Ten Hag mengaku mendapat sejumlah janji dari pemilik klub yang kemudian tidak dijalankan. Ia menyebut janji soal loyalitas, dukungan, dan komunikasi yang selama ini ia pegang sebagai dasar untuk tetap bertahan. “Mereka menjanjikan loyalitas, mereka menjanjikan dukungan, mereka menjanjikan komunikasi, bahwa kami akan sejalan. Kami sudah membahas berbagai persoalan. Tapi janji-janji itu tidak mereka tepati,” katanya.
Pemicu kekecewaan yang paling ia soroti adalah penjualan Scott McTominay ke Napoli tanpa persetujuannya. Ten Hag mengaku sudah menyampaikan keberatan secara eksplisit, namun keputusan itu tetap diambil. “Saya bilang: ‘Jangan jual Scott McTominay.’ Dan pada akhirnya mereka menjualnya. Saya tentu saja sangat malu dan kecewa,” ujarnya.
Dampak dan Implikasi bagi Manchester United
Pernyataan ini menempatkan Manchester United dalam posisi yang tidak nyaman. Jika klaim Ten Hag benar, maka persoalan klub bukan sekadar soal taktik atau performa di lapangan, melainkan soal cara pengambilan keputusan di level manajemen. Penjualan pemain yang dilakukan tanpa persetujuan pelatih menunjukkan bahwa batas kewenangan antara ruang ganti dan ruang direksi tidak pernah jelas.
Bagi Ten Hag sendiri, wawancara ini berfungsi sebagai pembelaan diri. Ia ingin publik menilai masa jabatannya dengan konteks yang lebih lengkap, termasuk bahwa ia bekerja dengan janji-janji yang menurutnya tidak dipenuhi. Namun cara penyampaian seperti ini juga berisiko, karena bisa dibaca sebagai upaya melempar tanggung jawab ke pihak lain setelah hasil di lapangan tidak sesuai harapan.
Dari sisi Ronaldo, pernyataan tersebut menegaskan bahwa konflik 2022 bukan sekadar benturan ego sesaat. Yang dipersoalkan Ten Hag adalah kesediaan pemain mengikuti aturan tim, sebuah hal yang dalam jangka panjang menentukan apakah sebuah proyek kepelatihan bisa berjalan atau justru runtuh dari dalam.
Konteks Lebih Luas: Ketegangan Antara Pelatih dan Bintang
Kasus ini bukan yang pertama di Manchester United, dan bukan pula hal baru dalam sepak bola Eropa secara umum. Klub-klub besar kerap menghadapi situasi ketika seorang pemain dengan status dan pengaruh besar berada di satu sisi, sementara pelatih yang baru datang membawa aturan dan hierarki baru di sisi lain. Ketegangan semacam itu hampir selalu berakhir dengan salah satu pihak meninggalkan klub.
Pola yang muncul di Old Trafford juga memperlihatkan persoalan struktural. Ketika pelatih diberi kontrak baru tetapi tidak mendapat kendali penuh atas komposisi skuad, posisinya menjadi rapuh. Janji lisan dari pemilik klub memang terdengar melegakan saat tanda tangan dibubuhkan, tetapi tanpa jaminan tertulis dan kendali nyata, janji itu mudah menguap ketika keputusan komersial dan kebutuhan tim berbenturan.
Yang terjadi setelahnya bisa ditebak: penilaian publik terhadap Ten Hag akan terbelah. Sebagian akan melihatnya sebagai pelatih yang dikhianati oleh sistem, sebagian lain sebagai pelatih yang gagal mengelola ruang ganti. Perdebatan itu kemungkinan akan terus muncul setiap kali Manchester United menghadapi persoalan serupa di masa depan.
Penutup
Dari wawancara ini, setidaknya ada dua hal yang jelas. Erik ten Hag menilai Ronaldo telah melanggar komitmen tim, terutama soal kedisiplinan latihan dan kesediaan menjalankan peran yang sudah direncanakan. Di sisi lain, ia mengklaim pemecatannya terjadi karena janji-janji manajemen klub tidak pernah diwujudkan, termasuk saat McTominay dijual tanpa persetujuannya.
Terlepas dari siapa yang paling bersalah, pengakuan ini memperlihatkan bahwa masalah Manchester United dalam beberapa tahun terakhir berlapis-lapis. Perpindahan pelatih dan pemain bisa saja terus terjadi, tetapi tanpa kejelasan kewenangan dan konsistensi janji, konflik yang sama berpotensi terulang kembali.
