Jonas Eidevall kini menikmati peran baru sebagai pelatih kepala San Diego Wave, dan hasilnya mulai terlihat. Tim asuhannya sedang mencatat lima kemenangan beruntun di NWSL, berada di posisi kedua klasemen dengan selisih satu poin dari pemuncak, serta menyisakan dua pertandingan sebelum playoff. Mantan pelatih Arsenal itu menegaskan bahwa San Diego Wave tidak hanya ingin tampil kompetitif, tetapi juga percaya diri mengejar gelar: “Itu akan berarti segalanya. Tidak ada jaminan di playoff, tetapi bagian yang menarik adalah mengatakan: ‘Kami juga bisa melaju sampai akhir’—itu mungkin bagi kami dan kami harus percaya.”
Kepercayaan diri itu bukan datang tiba-tiba. Ketika Eidevall mengambil alih sekitar 21 bulan lalu, San Diego Wave sedang kehilangan sejumlah pemain senior dan harus merombak skuad. Perubahan besar itu membuat capaian tim saat ini penting, bukan hanya karena angka di klasemen, tetapi karena menunjukkan bahwa proses rebuild yang dijalankan Eidevall bersama para pemain mulai menemukan bentuknya. Di luar lapangan, ia juga menggambarkan hidup di San Diego lebih tenang, dengan kebiasaan berjalan di pantai Del Mar, membaca, berolahraga, dan menghabiskan waktu bersama keluarga.
Jonas Eidevall dan Kebangkitan San Diego Wave di NWSL
San Diego Wave sedang berada dalam momen yang menyenangkan. Lima kemenangan beruntun membuat mereka menempel ketat pemuncak klasemen, dan dengan dua laga tersisa sebelum playoff, posisi kedua memberi peluang besar untuk mengamankan tempat di fase gugur. Eidevall menyebut target klub jelas: trofi. Namun ia juga menyadari bahwa playoff punya karakter berbeda karena tidak ada jaminan, sehingga keberanian untuk percaya pada peluang sendiri menjadi bagian penting dari persiapan.
Performa ini dibangun di atas gaya bermain yang cukup jelas. San Diego mencatat rekor klub baru untuk jumlah kemenangan musim reguler dan gol yang dicetak. Mereka juga memiliki rata-rata penguasaan bola tertinggi kedua di liga, melepaskan tembakan tepat sasaran lebih banyak daripada tim lain, dan menghadapi tembakan tepat sasaran paling sedikit. Data itu menunjukkan bahwa Wave tidak hanya efisien saat menyerang, tetapi juga relatif sulit ditembus.
Bagi Eidevall, capaian itu lebih bermakna karena lahir dari identitas permainan. Ia menekankan bahwa hasil idealnya datang melalui cara tim bermain, bukan sebaliknya. Identitas yang mereka bangun memberi ruang bagi pemain untuk tetap kreatif, dan dari situ muncul keseimbangan antara struktur kolektif dan kebebasan individu. Pernyataan itu menjelaskan mengapa ia begitu menikmati proses di San Diego: tim tidak hanya mengumpulkan poin, tetapi juga menunjukkan arah perkembangan yang bisa dipertahankan.
Rebuild San Diego Wave: Dari Exodus Pemain ke Fondasi Baru
Tantangan pertama Eidevall adalah menghadapi perombakan besar. Sebelum ia benar-benar menancapkan pengaruh, San Diego Wave kehilangan beberapa nama penting. Bek Amerika Serikat Abby Dahlkemper dijual ke Bay FC pada Agustus 2024, disusul pensiunnya Alex Morgan sebulan kemudian. Setelah itu, Jaedyn Shaw pindah ke North Carolina Courage dan Naomi Girma bergabung dengan Chelsea pada Januari 2025. Dengan kepergian para pemain senior tersebut, klub membutuhkan rekonstruksi, baik dari sisi kualitas skuad maupun cara bermain.
Dalam panggilan video pertama bersama para pemain pada musim dingin itu, Eidevall memilih memulai dengan sebuah pepatah: jika ingin berjalan cepat, pergilah sendiri; tetapi jika ingin berjalan jauh, pergilah bersama. Pesan itu menjadi dasar pendekatannya. Ia menyadari bahwa ide-idenya tidak akan bernilai jika para pemain tidak percaya dan ikut membeli gagasan tersebut. Karena itu, fokus awal diarahkan pada membangun koneksi antarmanusia, sementara diskusi taktik rinci untuk sementara dibuat minimal.
Namun bukan berarti aspek teknis diabaikan. Dari enam pekan pramusim, sekitar empat pekan digunakan untuk berlatih membangun serangan dari belakang. Latihan itu dirancang agar gaya bermain tim punya fondasi yang jelas. Hasilnya terlihat musim ini: bek Kristen McNabb dan Kennedy Wesley menjadi dua pemain teratas di divisi tersebut dalam hal umpan sukses. Selain itu, pemain muda seperti Melanie Barcenas dan Kimmi Ascanio, yang keduanya berusia 18 tahun, menunjukkan perkembangan berarti.
Strategi Rekrutmen di Liga dengan Salary Cap
Eidevall menjelaskan bahwa San Diego Wave perlu mencari keunggulan di pasar pemain. Ketika klub tidak tampil baik pada 2024 dan memutuskan melakukan rebuild total, mereka harus menemukan pemain yang cocok dengan gaya permainan yang ingin dibangun. Pada saat itu, NWSL banyak dipandang sebagai liga yang didominasi atletisitas dan permainan transisi, sehingga kecepatan menjadi sangat penting dan kemungkinan kurang menempatkan prioritas tertinggi pada keunggulan teknis.
Karena itu, San Diego Wave mengarahkan perhatian pada pemain yang sangat kuat secara teknik. Mereka juga sudah memiliki beberapa pemain muda bertalenta, dan itu menjadi keuntungan karena klub bisa mengembangkan pemain di liga yang menerapkan salary cap. Menurut Eidevall, strategi ini penting: jika klub hanya membeli pemain siap pakai, ruang gaji akan cepat habis. Dengan mengembangkan pemain muda, San Diego bisa menjaga kedalaman skuad tanpa harus selalu mengeluarkan biaya besar untuk merekrut nama jadi.
Pendekatan tersebut juga menjelaskan mengapa pembinaan di dalam tim menjadi kunci. Di liga dengan batas gaji, kemampuan mengembangkan pemain bukan sekadar idealisme, melainkan kebutuhan kompetitif. San Diego Wave berusaha mendapatkan pemain yang cocok secara teknis, lalu memberi mereka ruang untuk tumbuh. Hasilnya bukan hanya skuad yang lebih seimbang, tetapi juga identitas permainan yang lebih konsisten karena pemain dibentuk sesuai kebutuhan tim.
Pelajaran Jonas Eidevall dari Arsenal
Sebelum kembali ke Amerika Serikat, Eidevall meninggalkan Arsenal pada 15 Oktober 2024 setelah awal musim yang kurang memuaskan. Dalam tiga kampanye penuh di London Utara, ia memenangkan dua League Cup, membawa Arsenal ke semifinal Liga Champions, dan mengakhiri musim liga di posisi kedua pada 2022. Meski begitu, ia belum berhasil mempersembahkan gelar WSL, dan periode itu menjadi bahan refleksi penting bagi kariernya.
Salah satu pelajaran yang ia ambil berkaitan dengan keseimbangan permainan. Di Arsenal, para pemain sayap memiliki banyak kebebasan dan fluida dalam bergerak, tetapi pada waktu-waktu tertentu hal itu membuat opsi di tengah terlalu sedikit. Eidevall kemudian memikirkan cara membangun koneksi yang lebih baik di area tengah dan bagaimana menempatkan lebih banyak pemain di sana. Refleksi jangka panjang itu tidak berhenti sebagai catatan, tetapi mendorong perubahan taktik yang ia terapkan di San Diego Wave.
Meski ada aspek yang ingin ia perbaiki, Eidevall tetap membawa inspirasi dari Arsenal. Ia mengingat momen ketika pertandingan sepak bola wanita di Emirates Stadium—berkapasitas 60.000—untuk pertama kalinya terjual habis, yakni pada semifinal Liga Champions melawan Wolfsburg pada 2023. Pengalaman itu menunjukkan bagaimana klub besar bisa menciptakan momen istimewa yang menarik penonton, dan ia ingin membangun hal serupa di San Diego.
Tantangan NWSL: Kompetisi Ketat dan Roster Terbatas
Berada di posisi kedua tidak berarti San Diego Wave menjalani musim tanpa kesulitan. Eidevall menyoroti bahwa kompetisi di NWSL sangat terbuka. Meski timnya kini menempel pemuncak, jumlah kekalahan San Diego musim ini hampir menyamai jumlah kekalahan Arsenal selama tiga kampanye liga Inggris di bawah asuhannya. Perbandingan itu memberi gambaran betapa sulitnya meraih kemenangan secara konsisten di liga Amerika.
Ia mengakui bahwa dinamika tersebut baru baginya, terutama dibandingkan pengalaman sebelumnya di Arsenal dan Rosengård. Di liga-liga Eropa, tim papan atas sangat jarang melewati dua pertandingan beruntun tanpa kemenangan. Di NWSL, bahkan tim yang akhirnya menjuarai liga bisa mengalami periode tanpa poin. Karena itu, kemampuan mengelola momen sulit menjadi sangat penting. Cara tim merespons kekalahan atau hasil buruk menentukan apakah mereka bisa kembali ke jalur kemenangan tanpa kehilangan arah.
Selain persaingan, ada tantangan praktis dalam latihan. Dengan ukuran roster yang terbatas, Eidevall kadang sulit mengumpulkan 22 pemain untuk sesi latihan. Ketika cedera mulai muncul, masalahnya makin terasa karena tidak ada sistem akademi tim kedua seperti di Eropa yang bisa menyediakan jumlah pemain sesuai kebutuhan. Jika ingin berlatih sebelas lawan sebelas, ia mungkin hanya punya 18 pemain, sehingga pelatih harus kreatif dalam menyusun sesi.
Ambisi Penonton dan Peluang di Snapdragon Stadium
San Diego Wave sudah memastikan satu tempat di perempat final playoff sebagai tuan rumah di Snapdragon Stadium yang berkapasitas 35.000 kursi. Bagi Eidevall, kesempatan itu bukan hanya soal keuntungan bermain di kandang, tetapi juga momentum untuk membangun hubungan dengan penonton. Ia ingin stadion tersebut terisi penuh, dan menurutnya cara mencapainya mirip dengan yang pernah dilakukan Arsenal: menciptakan pengalaman istimewa di stadion.
Eidevall menegaskan bahwa sepak bola menghibur tetap penting, tetapi itu saja tidak cukup. Pertandingan harus terasa bermakna bagi orang yang datang, sehingga penonton punya alasan kuat untuk hadir dan kembali. Efek berantainya besar: suasana stadion bisa memengaruhi energi tim, daya tarik klub, dan pertumbuhan sepak bola wanita secara lebih luas. Dengan playoff di depan mata, San Diego Wave punya panggung untuk mengubah performa baik menjadi cerita yang lebih besar.
Apa Artinya bagi San Diego Wave dan NWSL
Kisah Eidevall di San Diego memperlihatkan bahwa rebuild tidak selalu harus dimulai dari pembelian besar. Di liga dengan salary cap, kemampuan menemukan pemain yang tepat, mengembangkan talenta muda, dan membangun identitas permainan bisa menjadi jalan yang lebih berkelanjutan. San Diego Wave memadukan pendekatan itu dengan hasil di lapangan, sehingga proyek mereka tidak hanya menarik secara taktis, tetapi juga relevan bagi klub lain yang menghadapi keterbatasan serupa.
Bagi NWSL, keberhasilan tim seperti San Diego juga memperkuat daya tarik liga. Kompetisi yang ketat membuat setiap pertandingan punya bobot, sementara kehadiran pelatih berpengalaman seperti Eidevall menambah lapisan cerita. Jika Wave bisa melanjutkan tren ini sampai playoff, perhatian terhadap klub dan liga berpotensi tumbuh, terutama karena mereka bermain dengan gaya yang jelas dan mengandalkan pemain muda yang berkembang.
Secara keseluruhan, Jonas Eidevall telah mengubah San Diego Wave dari tim yang harus merombak skuad menjadi tim yang percaya diri menatap playoff. Lima kemenangan beruntun, posisi kedua, dan gaya bermain yang berbasis penguasaan bola menunjukkan bahwa arah pembangunan tim mulai berbuah. Namun tantangan belum selesai, karena NWSL terkenal kompetitif dan playoff tidak memberi jaminan apa pun.
Yang menarik, perjalanan ini juga menjadi kelanjutan refleksi Eidevall atas masa di Arsenal. Ia membawa pelajaran tentang koneksi di area tengah, pentingnya identitas, dan kekuatan momen di stadion. Jika San Diego Wave mampu mempertahankan performa serta memenuhi ambisi penonton di Snapdragon Stadium, musim ini bisa menjadi titik balik yang lebih besar, bukan hanya bagi klub, tetapi juga bagi cara Eidevall membangun tim.
