Costacurta: Stadion San Siro Ikonik tapi Tak Fungsional

Alessandro Costacurta tidak menyangkal keindahan stadion San Siro. Namun bagi mantan bek AC Milan itu, pesona sejarah tidak cukup menutupi masalah yang jauh lebih mendasar: kenyamanan dan fungsionalitas. “San Siro bukan stadion modern. Ia sebuah ikon, luar biasa indah, tapi tidak fungsional,” ujarnya.

Pernyataan tersebut muncul menjelang ulang tahun ke-100 stadion kebanggaan kota Milan itu, sebuah momen yang terasa lebih mendalam karena San Siro tak akan lagi menjadi tuan rumah pertandingan sepak bola dalam waktu dekat. Milan dan Inter telah merampungkan pembelian bersama atas stadion beserta sebidang lahan di sekitarnya dari pemerintah kota Milan pada akhir 2025, dengan rencana memulai pembangunan venue baru pada awal tahun berikutnya.

San Siro, Ikon Indah yang Dianggap Tak Lagi Layak

Costacurta tidak sekadar melontarkan kritik secara umum. Ia menyebut sejumlah kekurangan yang membuat San Siro tertinggal dibandingkan stadion-stadion besar Eropa lainnya, mulai dari minimnya jumlah lift hingga ruang lounge yang sudah usang dan tidak lagi memadai untuk standar pertandingan kelas atas saat ini.

Satu hal yang paling sering jadi bahan olok-olok adalah kondisi toilet stadion yang sudah sejak lama dikeluhkan penonton. Ketika hal itu disebut dalam perbincangan, Costacurta hanya tersenyum malu dan mengakuinya dengan ringan. “Itu hal pertama yang ingin saya katakan!” katanya.

Sebagai gantinya, Milan dan Inter menyiapkan venue multifungsi yang dirancang oleh firma arsitektur Foster + Partners dan Manica. Kawasan di sekitar stadion juga akan diregenerasi dengan fasilitas ritel serta perhotelan baru. Kehadiran stadion baru ini menjadi salah satu pilar utama visi yang dibawa pemilik Milan, RedBird, sejak mengambil alih klub pada 2022.

Dari Varese hingga 663 Penampilan Bersama Milan

Kedekatan Costacurta dengan San Siro bukan hal yang lahir tiba-tiba. Ia tumbuh di provinsi Varese, di utara Milan, dan sebagai anak-anak justru mendukung Varese, bukan Milan. Kakaknya yang berusia dua tahun lebih tua adalah penggemar Milan, dan dari sosok itulah ia pertama kali mengenal Milan.

Pengalaman pertama masuk ke San Siro terjadi saat ia berusia 12 tahun, sementara sang kakak berumur 14. Costacurta menduga laga itu adalah Milan melawan Bologna. Ketika itu tribun stadion belum beratap, lalu hujan deras mengguyur. Ia datang bersama sang ayah, dan baru seperempat jam pertandingan berjalan, sang ayah sudah memutuskan untuk pulang. Itulah kali pertama Costacurta menyaksikan langsung atmosfer San Siro.

Setahun kemudian, ia direkrut masuk akademi Milan dan akhirnya mencatatkan 663 penampilan untuk tim utama. Selama periode itu ia ikut mengantar Milan menjuarai Serie A tujuh kali serta lima gelar European Cup, baik sebelum maupun sesudah kompetisi itu berganti nama menjadi Liga Champions.

Hanya dua nama yang mencatatkan penampilan lebih banyak untuk Rossoneri, yakni Paolo Maldini dengan 902 laga dan Franco Baresi dengan 719 laga. Banyak dari penampilan Costacurta dijalani berdampingan dengan keduanya. Ia bahkan pernah menyebut skuad Milan pada era itu sebagai yang terbaik di dunia selama 25 tahun, sebelum buru-buru meralat ucapannya menjadi “salah satu yang terbaik”. Kombinasi lini belakang bersama Maldini, Baresi, dan Mauro Tassotti kerap dinilai sebagai salah satu kuartet pertahanan terhebat sepanjang sejarah, baik dari sisi kualitas maupun lamanya mereka bertahan di level puncak.

Rivalitas Milan dan Inter yang Tak Sekeras Derbi Lain

Proyek stadion baru ini dikerjakan bersama oleh dua tim yang selama ini bersaing ketat di kota yang sama. Menurut Costacurta, kerja sama itu justru mencerminkan karakter rivalitas Milan dan Inter, yang terasa lebih hangat dibandingkan permusuhan antar-tetangga di banyak kota lain.

“Milan adalah hal yang khas. Jarang sekali kita merasakan suasana sesahabat itu ketika menghadiri derbi di berbagai belahan dunia,” ujarnya. Menurutnya, nyanyian antar-suporter tentu tetap ada, tetapi di Milan para pendukung banyak bercampur, dan hal serupa juga terjadi di antara para pemain di masa ia masih aktif.

Meski begitu, tetap ada satu laga yang paling memuaskan untuk dimenangkan, terutama ketika timnya berstatus sebagai tim tamu secara resmi. “Ketika bermain di tim besar mana pun, kepuasan terbesar adalah menaklukkan kandang tim besar lain,” kata Costacurta. Ia mengingat laga 6-0 melawan Inter pada Mei 2001, ketika Milan bertindak sebagai tim “tandang”. Saat kedudukan 4-0, para pendukung Inter mulai terlihat meninggalkan stadion.

Perjalanan Panjang Stadion San Siro sejak 1926

San Siro dibuka pada 19 September 1926 sebagai wujud visi Piero Pirelli, presiden Milan saat itu, yang menginginkan stadion khusus untuk sepak bola tanpa tandingan di Italia pada masanya. Tidak ada lintasan lari di sana, hanya empat tribun dengan kapasitas sekitar 35.000 penonton. Pirelli disebut terinspirasi oleh stadion-stadion di Inggris, tetapi San Siro juga merupakan produk lingkungannya sendiri karena di bawah tribun dibangun kandang kuda, gudang jerami, dan ruang penyimpanan untuk melayani lintasan pacuan kuda di sebelahnya.

Pada 1935, stadion ini dibeli oleh pemerintah kota Milan dan diperluas dengan bagian penghubung antar-tribun. Inter kemudian bergabung sebagai penghuni bersama pada 1947, sebelum tribun tingkat kedua ditambahkan dan dibuka pada 1955. Pada 1980, nama stadion diubah untuk menghormati Giuseppe Meazza, gelandang Italia dua kali juara Piala Dunia yang bermain 14 musim bersama Inter dan dua musim bersama Milan, meski bagi sebagian besar penggemar namanya tetap San Siro.

Pembangunan tribun tingkat ketiga, yang akhirnya dilengkapi atap untuk melindungi penonton dari hujan, rampung sebelum Piala Dunia 1990. Costacurta turun pada laga pertama setelah tribun itu dibuka, yaitu kekalahan 1-0 di leg kedua final Coppa Italia melawan Juventus.

Ia mengingat betul masalah yang muncul setelahnya. “Saya ingat suaranya jadi lebih ramai, tapi yang paling saya ingat adalah lapangannya,” kata Costacurta. Menurutnya, pengelola belum memahami cara mengatur aliran udara dengan tambahan tribun baru, sehingga kualitas lapangan sangat buruk dan bertahan sebagai yang terburuk di Eropa selama sekitar satu setengah tahun. Meski demikian, Milan justru mencatatkan rekor 58 laga tak terkalahkan di Serie A sejak Mei 1991 hingga Maret 1993. Costacurta menduga lapangan yang jelek itu justru menjadi kerugian tersendiri bagi tim tamu yang datang ke San Siro.

Kecuraman Tribun dan Atmosfer yang Mencekam

Yang membuat San Siro benar-benar berbeda, menurut Costacurta, adalah tingkat kecuraman tribunnya. Ia memperagakan bentuk stadion lain dengan sudut yang landai, lalu menunjuk ke bawah secara hampir vertikal untuk menggambarkan San Siro.

Ia juga mengingat pengalaman pertamanya berada di pinggir lapangan sebagai pembawa bola, tugas yang biasa dijalani pemain akademi. Menurutnya, rasa takut sempat muncul karena ia merasa orang-orang di tribun akan jatuh menimpanya. Santiago Bernabéu di Madrid mungkin sedikit mirip, tetapi tidak sekecuram San Siro, dan cara stadion di Roma membuat penonton terasa dekat juga berbeda. Di San Siro, katanya, berada di tribun paling atas seperti berdiri di menara dan menjulurkan kepala dari jendela.

Kecuraman itu berpadu dengan kebisingan yang luar biasa. Costacurta sampai menggunakan kata bahasa Inggris “Roar!” untuk menegaskan betapa bergemuruhnya suara penonton pada laga besar. Bahkan berbicara dengan orang di sebelah pun bisa sulit didengar.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa di atas lapangan hampir tidak ada percakapan yang benar-benar berjalan, karena semua arahan sesungguhnya disampaikan di sesi latihan. Manajer yang berteriak dari pinggir lapangan, menurutnya, hampir selalu gagal menyampaikan pesan kepada para pemain. Sebaliknya, para penonton justru punya cara sendiri untuk menyampaikan pesan.

Dari Hinaan Dialek Milan hingga Chant Terburuk

Saat Costacurta melakukan debut bersama tim utama pada 1987, San Siro masih memiliki area berdiri. Ia mengenang bagaimana penonton berpegangan pada pagar di sisi lapangan, menjulurkan kepala, dan terus berteriak tanpa henti.

Ia merasa beruntung karena menembus tim utama lewat jalur akademi, sehingga tidak menerima hinaan paling keras. Hinaan yang ditujukan kepadanya disampaikan dalam dialek Milan dan terdengar lucu, termasuk julukan “pè de ghisa” yang berarti kaki besi, karena kemampuan teknisnya saat itu dinilai belum layak untuk tim sebesar Milan. Rekan-rekannya yang bukan berasal dari akademi, kata dia, menerima hinaan yang jauh lebih kasar.

Pada akhirnya ia berhasil memenangkan hati para pendukung. Costacurta sendiri tertawa mengenang chant “buruk” yang diciptakan penggemar untuknya, berupa seruan “Billy! Billy! Vai! Vai! Vai!” yang ia sebut sebagai chant paling buruk di antara para pemain Milan. Namun pada hari pertandingan terakhirnya di San Siro, ribuan orang menunggu di luar stadion untuk menyampaikan terima kasih.

Dampak Stadion Baru bagi Milan, Inter, dan Serie A

Pembangunan stadion baru ditargetkan rampung pada 2031 dan disiapkan untuk menjadi salah satu venue Euro 2032. Bagi Milan dan Inter, kehadiran fasilitas baru ini berarti tambahan aliran pendapatan yang bisa membuat keduanya lebih kompetitif di pentas Eropa.

Hal itu penting karena Serie A, seperti liga-liga lain di Eropa, terus berjuang mengejar kekuatan finansial Premier League. Stadion modern dengan kapasitas komersial yang lebih besar menjadi salah satu cara untuk mempersempit ketimpangan tersebut, terutama melalui pendapatan hari pertandingan, ritel, dan perhotelan di kawasan sekitar.

Meski demikian, tetap ada rasa kehilangan saat harus berpisah dari San Siro. Milan dan Inter menyatakan bahwa sebagian dari stadion lama akan dilestarikan dalam pengembangan baru. Costacurta, yang juga menggemari Arsenal karena mengagumi tim-tim asuhan Arsène Wenger, melihat contoh itu sebagai alasan untuk optimistis.

Ia pernah bermain di Highbury pada ajang European Super Cup dengan hasil imbang tanpa gol, sementara Milan menang 2-0 di leg kedua di San Siro. Menurutnya, perubahan pada awalnya memang menyakitkan bagi semua pihak, tetapi Emirates Stadium kini terbukti menjadi stadion yang hebat. “Jadi kenapa tidak?” ujarnya.

Kisah Costacurta bersama San Siro merangkum dua hal sekaligus: kebesaran sebuah stadion yang lahir pada 1926 dan telah menjadi saksi ratusan laga bersejarah, serta kenyataan bahwa warisan sejarah saja tidak cukup untuk memenuhi tuntutan sepak bola modern. Kritiknya soal lift, lounge, dan toilet bukan sekadar keluhan kecil, melainkan cerminan persoalan yang membuat Milan dan Inter memilih melangkah ke venue baru.

Ketika San Siro akhirnya menyusul Costacurta memasuki masa pensiun, kenangan yang tertinggal bukan hanya soal trofi dan rekor, tetapi juga soal kemiringan tribun, gemuruh suara, dan hinaan dalam dialek Milan yang justru berubah menjadi penghormatan terakhir dari ribuan orang di depan stadion.