James Garner dan Label Mini-Valverde dari Thomas Tuchel
James Garner mengaku anggapan bahwa dirinya adalah “mini-Valverde” bukanlah lelucon. Julukan itu muncul dari Thomas Tuchel pada Maret, setelah pelatih Timnas Inggris tersebut menyaksikan gelandang Everton itu tampil mengesankan dalam debut internasionalnya melawan Uruguay. Dalam laga yang berkesudahan 1-1 di Wembley, Garner berhadapan langsung dengan Federico Valverde, dan Tuchel pun melontarkan pujian besar dengan menyebutnya versi mini dari pemain Real Madrid tersebut.
Seperti Valverde, James Garner ingin bermain di lini tengah, tetapi ia juga mampu ditempatkan sebagai bek kanan atau pemain sayap. Valverde sendiri semasa kecil dijuluki El Pajarito atau “Burung Kecil”, dan Garner kadang dianggap belum terlalu menonjol di antara nama-nama besar. Perbandingan itu mungkin berlebihan, terutama karena ada kata “mini”, namun ada alasan jelas mengapa Tuchel melihat kemiripan tersebut.
Pandangan Garner soal Valverde yang Kerap Diremehkan
Garner menilai Valverde termasuk pemain yang sering tidak mendapat sorotan sebesar kualitasnya. Menurutnya, Valverde bukan nama yang biasa dibicarakan publik awam, tetapi para pemain yang pernah merasakan lapangan tahu betul kelas pemain Real Madrid itu. Garner mengaku menonton banyak sepak bola, termasuk hampir semua pertandingan Liga Champions, dan Valverde selalu menonjol.
Karena itu, Garner tidak ragu menyebut Valverde sebagai salah satu gelandang terbaik di dunia. Pujian ini sekaligus menunjukkan bagaimana ia memandang posisinya sendiri: ia ingin menapaki level elite dengan cara kerja yang tidak selalu terlihat mencolok di permukaan. Dalam dunia sepak bola, pengakuan dari rekan sesama pemain sering kali lebih berarti daripada sekadar popularitas di media.
Bagi Garner, perbandingan dengan Valverde menjadi motivasi, bukan beban. Ia sadar label “mini-Valverde” tidak otomatis membuatnya berada di level yang sama. Justru karena itu, ia terus berusaha mengembangkan permainan, terutama kemampuan bermain di beberapa posisi yang membuatnya berguna bagi Everton dan Timnas Inggris.
Performa di Everton dan Peluang Piala Dunia yang Lewat
Penampilan James Garner di Everton pada paruh awal tahun membuatnya pertama kali dipanggil Timnas Inggris. Ia dianggap kurang beruntung karena tidak masuk skuad Piala Dunia. Pada akhirnya, Tuchel memilih Jordan Henderson dan Kobbie Mainoo sebagai pelapis di lini tengah di belakang Declan Rice dan Elliot Anderson. Henderson hanya bermain enam menit sebagai pengganti selama turnamen, sedangkan Mainoo tidak mendapat menit bermain sama sekali.
Garner mengenang panggilan dari Tuchel sebagai momen yang sulit karena ia tidak tahu apakah keputusan itu berisi kabar baik atau buruk. Menurutnya, Tuchel menjelaskan bahwa hanya ada kuota pemain tertentu dan ia harus menerima kenyataan tidak ikut kali ini. Garner menghormati keputusan tersebut dan mengaku rasa kecewa itu membuatnya semakin lapar untuk membuktikan diri.
Bagi seorang pemain yang baru menembus level internasional, pengalaman dilewatkan dari turnamen besar bisa menjadi pukulan sekaligus bahan bakar. Garner memilih sikap kedua. Ia tidak larut dalam kekecewaan, tetapi menjadikan absennya dari Piala Dunia sebagai alasan untuk bekerja lebih keras di klub dan kembali ke lingkungan Timnas Inggris.
Panggilan Terlambat untuk Nations League
Kini pemain berusia 25 tahun itu kembali masuk skuad untuk rangkaian pertandingan Nations League mendatang. Statusnya adalah panggilan terlambat setelah Rice dan Mainoo menarik diri. Henderson tidak dipilih karena alasan kebugaran. Dalam seleksi awal, Tuchel memanggil kembali Alex Scott dan Myles Lewis-Skelly, serta masih belum memasukkan Adam Wharton.
Anderson menjadi gelandang yang paling mapan saat Tuchel bersiap menyambut kedatangan Spanyol ke Wembley pada Sabtu malam. Setelah itu, Inggris akan bermain tandang melawan Ceko dan Kroasia sebelum kembali ke Wembley untuk menghadapi Ceko. Situasi ini menunjukkan bahwa lini tengah Inggris masih dalam tahap pencarian komposisi, dan pintu bagi pemain seperti Garner tetap terbuka.
Panggilan terlambat memang tidak selalu ideal karena waktu persiapan berkurang. Namun, bagi Garner, kesempatan itu tetap berarti besar. Ia bisa menunjukkan bahwa performanya di Everton layak diperhitungkan, terutama ketika beberapa gelandang utama tidak tersedia.
Liburan Singkat dan Keputusan Cepat
Garner terbang ke Bodrum, Turki, pada Minggu malam untuk berlibur bersama pasangannya. Ia baru saja memasukkan kunci ke pintu kamar hotel ketika menerima telepon dari FA. Ia pun pulang ke Inggris pada Senin sebelum melapor ke St George’s Park pada Selasa. “Liburannya sangat singkat,” ujarnya sambil tersenyum. “Saya sekarang lebih dari senang bisa berada di sini.”
Tuchel juga memberikan panggilan terlambat kepada Morgan Gibbs-White, yang baru tiba di Dubai untuk liburan keluarga. Gelandang serang Nottingham Forest itu membuat video TikTok ringan bersama tunangannya, menirukan adegan lagu Gotta Go My Own Way dari High School Musical 2 saat ia berkemas dan kembali. Ketika ditanya apakah ia tergoda melakukan hal serupa, Garner menjawab singkat: “Tidak. Itu bukan saya.”
Jawaban itu memperlihatkan karakter Garner yang sederhana dan tidak mencari perhatian. Ia lebih memilih fokus pada sepak bola dan tanggung jawabnya. Meski begitu, sikap tenangnya di luar lapangan berbanding dengan kegigihan yang ia tunjukkan saat bertanding.
Dari Bek Tengah di Akademi Manchester United ke Lini Tengah
Garner dikenal sebagai pribadi santai, tetapi memiliki ketangguhan di lapangan. Ia menggabungkan semangat bertarung dengan kecerdasan bermain, teknik, dan kemampuan mengumpan. Ia tumbuh di akademi Manchester United dan bermain sebagai bek tengah sampai usia 15 tahun. Idola masa kecilnya pun terasa sesuai dengan posisi itu: Nemanja Vidic, termasuk nomor punggung 15 yang dikenakan pemain Serbia tersebut.
Setelah beranjak lebih matang, Garner beralih menjadi gelandang. Ia lalu mengagumi Frank Lampard, Paul Scholes, dan Steven Gerrard. Peralihan posisi itu terjadi dalam sebuah turnamen junior bersama United. Saat itu, di Nike Cup, gelandang timnya cedera pada pertandingan pertama. Karena Garner selalu cukup nyaman dengan bola di kakinya, pelatih mendorongnya ke lini tengah. Ia tampil bagus di turnamen itu, meski saat membela Inggris U16 dan U17 ia sempat kembali bermain sebagai bek tengah.
Garner juga mengaku sebagai pelajar permainan. Ia menonton banyak pertandingan dan, menurutnya terdengar sedikit gila, ia lama memainkan FIFA. Selain itu, ia memiliki kakak laki-laki yang lima tahun lebih tua, juga bermain sepak bola, sehingga ia selalu berada di lingkungan olahraga tersebut. Berada di akademi United, salah satu yang terbaik di dunia, memberinya banyak pelajaran dari para pelatih. Kesadaran taktis itu membantunya beradaptasi di beberapa posisi berbeda.
Kepindahan ke Everton dan Keyakinan Garner
Garner tidak melihat jalur menuju tim utama Manchester United. United meminjamkannya ke Watford selama enam bulan, lalu ke Nottingham Forest selama 18 bulan. Situasi semakin jelas pada musim panas 2022 ketika United memperkuat lini tengah dengan merekrut Casemiro dan Christian Eriksen. Kepindahannya ke Everton dengan nilai yang dianggap murah, sekitar £9 juta, masih membuat sebagian pendukung United merasa tidak puas.
Bagi James Garner, langkah itu justru keputusan yang tepat. Ia mengaku tidak pernah takut masuk ke lingkungan yang lebih tidak nyaman, mengganti suasana, atau menghadapi tantangan baru. Ia sempat dipinjamkan dan pindah ke London serta Nottingham. Semua itu ia lakukan demi menit bermain. Everton menjadi pilihan sempurna karena ia tidak ingin menghilang di latar belakang atau hanya duduk di bangku cadangan. Ia ingin berada di tim yang memberinya peluang bersaing memperebutkan posisi.
Ketika ditanya soal penyesalan meninggalkan United, Garner menjawab tidak. Ia percaya segala sesuatu terjadi karena alasan tertentu. Jika ia bertahan, ia yakin tidak akan berada di posisinya sekarang. Karena itu, ia merasa senang dengan keputusan hengkang dan terus melangkah bersama Everton.
Ujian Melawan Spanyol dan Ambisi Berikutnya
Garner pernah membuat pernyataan besar di panggung internasional saat menjadi bintang Timnas Inggris U21 dalam kemenangan di Kejuaraan Eropa 2023. Ia masuk dalam tim terbaik turnamen, dan bermain sebagai bek kanan di final ketika Inggris mengalahkan Spanyol 1-0. Kini ia berharap bisa mencetak hasil serupa melawan negara yang sama di level senior.
Menurut Garner, lini tengah Spanyol memiliki peraih Ballon d’Or, yaitu Rodri, sehingga bermain melawan pemain seperti itu menjadi ujian tertinggi. Ia ingin menghadapi yang terbaik dan melihat sejauh mana kemampuannya. Bagi James Garner, pertemuan dengan Spanyol bukan hanya soal hasil, tetapi juga kesempatan membuktikan bahwa ia layak diperhitungkan di lini tengah Inggris.
Dengan status panggilan terlambat, Garner mungkin tidak langsung menjadi pilihan utama. Namun, kombinasi fleksibilitas posisi, ketenangan, dan etos kerja membuatnya menjadi opsi menarik bagi Tuchel. Jika ia mendapat kesempatan, penampilan solid bisa membuka jalan menuju lebih banyak panggilan berikutnya.
Penutup
James Garner menapaki karier dengan langkah yang tidak selalu menjadi sorotan, mirip dengan cara ia menggambarkan Federico Valverde. Label mini-Valverde dari Thomas Tuchel menjadi pengakuan atas kualitasnya, tetapi juga tantangan untuk membuktikan diri di level internasional. Setelah melewatkan Piala Dunia, ia kembali mendapat kans melalui panggilan terlambat untuk Nations League.
Dari akademi Manchester United hingga Everton, Garner menunjukkan bahwa keputusan pindah demi menit bermain adalah pilihan sadar. Kini ia bersiap menghadapi Spanyol dan rangkaian laga internasional lainnya. Jika mampu memanfaatkan kesempatan, bukan tidak mungkin nama James Garner akan semakin sering disebut, bukan hanya sebagai “mini-Valverde”, tetapi sebagai pemain dengan identitasnya sendiri.
