Florian Wirtz datang ke Liverpool dengan banderol £116 juta, tetapi enam pertandingan berjalan musim ini ia baru mengumpulkan satu assist. Catatan itu jelas jauh dari ekspektasi yang menyertai kedatangannya sebagai salah satu gelandang serang muda paling menjanjikan di dunia sepak bola. Wajar jika kemudian muncul pertanyaan keras: apakah Wirtz memang tidak akan pernah tampil sesuai harga mahalnya, ataukah penilaian semacam itu masih terlalu dini untuk diucapkan?
Perdebatan soal Wirtz bukan sekadar obrolan di media sosial. Kritik datang dari Jamie Carragher, mantan bek Liverpool yang kini jadi komentator terkemuka, sementara manajer Andoni Iraola justru memilih membelanya. Di tengah tekanan itu, Liverpool sendiri masih berusaha membangun kembali performa mereka, sehingga sorotan terhadap pemain termahal selalu berlipat ganda. Berikut rangkuman apa yang sebenarnya terjadi pada Wirtz, lengkap dengan angka dan konteksnya.
Kritik Pedas untuk Florian Wirtz dan Pembelaan Iraola
Ketika Wirtz dan Alexander Isak sama-sama tampil loyo dalam hasil imbang 2-2 di markas Newcastle pada laga pembuka, keraguan yang sebelumnya hanya bisik-bisik berubah menjadi suara nyaring. Sebelumnya, banyak pendukung Liverpool berdiskusi soal berapa lama kedua pemain bertanda harga sembilan digit itu layak diberi kesempatan sebelum pertanyaan sulit diajukan, dan kesepakatan tak resmi di antara mereka adalah sampai Natal. Kenyataannya, jawabannya muncul jauh lebih cepat: usai pertandingan pertama saja, keraguan itu sudah mengemuka.
Carragher membahas transfer Wirtz pada Monday Night Football pertama musim ini dan menyebut jendela transfer 2025 berpotensi menjadi “jendela transfer terburuk dalam sejarah Premier League”. Ia mengkritik beberapa pemain sekaligus, tetapi Isak kini sudah membungkam para peragu dengan empat gol dalam empat penampilan liga terakhirnya. Sorotan Carragher terhadap Wirtz sendiri tidak surut, dan ia kembali mengangkat isu itu dalam podcast baru untuk Sky Sports pada Minggu.
“Alasan saya khawatir adalah, saya tidak merasa Wirtz sedang dalam performa buruk sejak datang ke Liverpool. Saya pikir apa yang kita lihat sekarang adalah dirinya yang sesungguhnya,” ujarnya. Menurut Carragher, kontribusi Wirtz bagi Liverpool terlalu kecil dibandingkan harapan untuk membawa klub meraih gelar liga lagi dan melaju di Liga Champions. Ia bahkan menilai jarak yang harus ditutup Wirtz untuk membenarkan ekspektasi itu hampir mustahil dikejar, dan menegaskan bahwa Wirtz tidak akan masuk ke dalam starting XI pilihannya.
Iraola memberikan penilaian yang jauh lebih lunak. Ia mengakui Wirtz kesulitan di babak pertama melawan Bournemouth, tetapi menilai pemainnya berkembang setelahnya. “Ia memulai pertandingan dengan lambat. Setelah fase pertama itu, kami membaik. Florian juga membantu kami untuk berkembang. Di babak kedua ia bermain jauh lebih baik, ia menemukan posisi yang lebih tepat untuk menerima bola dan berbalik,” kata Iraola, yang mengaku lebih puas dengan penampilan babak kedua sang pemain. Sebelumnya, Carragher menyebut performa Wirtz di laga tersebut sebagai salah satu yang terburuk yang pernah ia lihat dari pemain itu selama berseragam Liverpool.
Catatan di Bournemouth: Ketika Data Tak Bercerita Utuh
Secara angka, penampilan Wirtz dalam kemenangan 1-0 di markas Bournemouth sebenarnya tidak seburuk yang dikesankan. Ia menciptakan tiga peluang, terbanyak bersama Cody Gakpo di antara pemain Liverpool, memenangkan enam dari delapan duel, dan merebut bola empat kali. Dari sisi penguasaan bola, hanya Alexis Mac Allister, Ronald Araújo, dan Jérémy Jacquet yang merebut bola lebih sering untuk tim tamu.
Namun, data tidak selalu menggambarkan keseluruhan cerita. Siapa pun yang menonton laga itu bisa melihat seorang pemain yang kesulitan memaksakan pengaruhnya, dengan sejumlah umpan tidak menemui sasaran. Hanya 26 dari 37 umpan Wirtz yang sampai ke rekan setimnya, atau sekitar 70,3 persen. Persentase itu bukan hal aneh bagi gelandang kreatif, tetapi terlalu banyak bola sederhana yang terlalu keras atau terlalu dekat dengan pemain bertahan Bournemouth.
Wirtz juga banyak dikritik karena kehilangan bola sebanyak 15 kali sebelum ditarik keluar pada menit ke-71. Hanya Araújo (24) dan Gakpo (16) yang lebih sering kehilangan bola, meski keduanya bermain penuh. Meski begitu, statistik “kehilangan bola” memang rumit untuk dijadikan dasar penilaian, karena pemain kreatif yang berani melepas umpan berisiko di area tersibuk kerap menjadi pihak yang paling sering kehilangan bola.
Yang juga perlu dicatat, Wirtz melakukan pergerakan ke tiang depan di babak kedua yang membuat bola jatuh menguntungkan bagi Isak untuk mencetak gol kemenangan. Itu tidak tercatat sebagai assist karena bola menyentuh pemain bertahan sebelum sampai ke Isak, tetapi tanpa pergerakan Wirtz, gol tersebut tidak akan terjadi. Ia pun menunjukkan beberapa momen bagus, termasuk melewati pemain bertahan sebelum memenangkan tendangan bebas di tepi kotak penalti Bournemouth, serta umpan satu sentuhan apik kepada Isak yang bisa menjadi assist andai sang striker tidak melepas tembakan terlalu tinggi.
Kenapa Ekspektasi Terhadap Wirtz Begitu Tinggi
Harapan besar terhadap Wirtz bukan muncul tanpa alasan. Setelah bergabung dengan Bayer Leverkusen dari FC Köln pada usia 16 tahun, ia mencatatkan 18 gol dan 21 assist dalam 69 pertandingan pada dua musim penuh pertamanya. Perjalanan itu sempat terganggu cedera ligamen anterior cruciatum di lutut kiri pada Maret 2022, yang membuatnya absen selama 10 bulan. Meski demikian, ia kembali tanpa menunjukkan efek buruk.
Pada musim 2023-24, Wirtz menjadi bagian penting dari salah satu kampanye terbaik sebuah tim dalam beberapa tahun terakhir. Leverkusen meraih gelar Bundesliga pertama mereka sekaligus menjadi tim pertama yang menyelesaikan satu musim liga tanpa terkalahkan di kompetisi tertinggi Jerman. Mereka juga menjuarai DFB-Pokal dan melaju ke final Liga Europa, di mana kekalahan dari Atalanta menjadi satu-satunya kekalahan mereka di seluruh kompetisi sepanjang musim itu.
Secara individual, Wirtz mencatatkan 18 gol dan 19 assist dalam 47 pertandingan pada musim tersebut. Ia menjadi satu-satunya pemain dari lima liga teratas Eropa yang mencetak minimal 16 gol dan 16 assist di semua kompetisi. Pada musim terakhirnya sebelum hijrah ke Inggris, ia mengemas 16 gol dan 14 assist, dengan hanya Mohamed Salah dan Lamine Yamal yang mencatat assist lebih banyak dari 12 assistnya dari permainan terbuka di antara pemain lima liga teratas Eropa.
Musim Pertama di Liverpool dan Bayang-Bayang Piala Dunia
Realitas di Liverpool ternyata jauh berbeda. Pada musim pertamanya, Wirtz hanya mencatatkan tujuh gol dan delapan assist dalam 49 pertandingan, dan ia baru mencetak gol liga pertamanya menjelang akhir Desember. Liverpool saat itu tampil labil, finis di posisi kelima, dan mengakhiri musim tanpa trofi. Lingkungan yang ia masuki memang tidak mudah, terutama setelah meninggalnya Diogo Jota yang menyelimuti klub dengan suasana duka, sementara Arne Slot kesulitan membuat timnya tampil sepadu musim sebelumnya.
Meski begitu, Wirtz jauh dari kata buruk. Ia adalah sumber kreativitas Liverpool paling produktif dalam permainan terbuka, sesuatu yang sangat membantu setelah kepergian Trent Alexander-Arnold. Ia menciptakan 95 peluang dari permainan terbuka di semua kompetisi, setidaknya 27 lebih banyak dibanding pemain Liverpool lainnya. Namun tetap tidak bisa dimungkiri bahwa musim debutnya berjalan mengecewakan.
Piala Dunia menjadi kesempatan untuk menunjukkan kualitasnya di panggung besar. Wirtz mencatatkan tiga assist dalam empat pertandingan bersama Jerman sebelum mereka tersingkir lewat adu penalti melawan Paraguay di babak 32 besar. Hanya dua pemain yang mencatat assist lebih banyak pada akhir babak tersebut, dan hanya lima pemain yang menciptakan lebih banyak peluang dari permainan terbuka daripada sembilan peluangnya. Terlepas dari itu, ia tetap menanggung kritik terbesar dari publik Jerman atas penampilan tim yang dinilai kurang memuaskan, begitulah tingginya standar yang dibebankan kepadanya.
Sinyal Perbaikan, Harga Mahal, dan Pelajaran dari Pogba serta Ballack
Dengan satu pramusim di bawah Iraola, muncul harapan bahwa sistem baru dan awal yang segar bisa membantunya. Setidaknya dalam dua dari enam penampilannya musim ini, Wirtz tampil cukup baik. Saat Liverpool bermain imbang 2-2 melawan Nottingham Forest, ia menjadi ancaman utama, meski golnya dianulir karena offside terhadap Jeremie Frimpong, dan ia melepas umpan matang kepada Víctor Muñoz untuk gol penyeimbang kedua. Ia juga tampil impresif dalam kemenangan 2-1 atas Atlético Madrid di Liga Champions, dan nyaris mencatat assist andai Bradley Barcola tidak melebar saat dikirim melalui umpan tajam Wirtz.
Kemampuannya menciptakan momen “bagaimana jika” menjadi tema yang berulang. Saat Liverpool menang 2-0 di markas Ipswich, Wirtz melakukan putaran apik dan umpan silang yang seharusnya berbuah gol hat-trick Isak, tetapi bendera hakim garis menggagalkannya dengan selisih yang sangat tipis. Ia memang kesulitan memberi dampak besar melawan Newcastle dan Fulham, tetapi pola serupa juga terjadi di laga-laga lain.
Ada pula peningkatan pada aspek di luar penguasaan bola. Wirtz mencatat 19 umpan progresif di liga musim ini, setara dengan Martin Ødegaard dan Kiernan Dewsbury-Hall. Ia juga melakukan 43 umpan pemecah garis pertahanan dengan laju 9,6 per 90 menit, hampir dua kali lipat dari 5,2 per 90 menit pada musim lalu. Dalam hal merebut bola di sepertiga akhir lawan, hanya lima pemain yang melakukannya lebih sering darinya, dan hanya lima pemain yang memberikan tekanan lebih banyak, sementara hanya enam pemain yang menerima tekanan lebih banyak. Ia juga menempuh jarak terjauh di antara pemain Liverpool pada tiga dari lima laga liga yang ia jalani.
Wirtz masih berusia 23 tahun dan tengah berusaha menemukan pijakan di liga terkuat dunia. Harga yang sangat tinggi jelas menjadi faktor di balik derasnya kritik, karena adil atau tidak, pemain selalu dinilai berdasarkan biaya transfernya. Paul Pogba nyaris tidak bisa disebut sukses di Manchester United, tetapi kritik terhadapnya sering terasa berlebihan, terutama karena banderol £93 juta dan ekspektasi setelah kepulangannya ke Old Trafford pada 2016. Ada pula contoh Michael Ballack, gelandang Bayer Leverkusen lain yang sangat dihormati, tetapi tidak pernah benar-benar menemukan bentuk terbaiknya bersama Chelsea setelah pindah dari Bayern Munich pada 2006.
Kesimpulan
Florian Wirtz jelas belum berada di level terbaiknya, dan satu assist dalam enam pertandingan bukan catatan yang bisa dibanggakan untuk pemain seharga £116 juta. Namun, kesimpulan besar bahwa ia tidak akan pernah berhasil di Inggris terasa terlalu cepat diambil. Liverpool sebagai tim juga belum tampil sesuai potensi di bawah Iraola, sehingga menilai satu pemain secara terpisah dari konteks tersebut berisiko menyesatkan.
Pertanyaan sesungguhnya bukan apakah Wirtz pantas dikritik hari ini, melainkan apakah ia diberi cukup waktu untuk beradaptasi di liga terkuat dunia. Ia masih 23 tahun, baru menjalani beberapa pertandingan bersama sistem baru, dan sudah menunjukkan sejumlah peningkatan angka dari musim sebelumnya. Kesabaran mungkin belum menjadi jawaban yang memuaskan bagi para pengkritik, tetapi sejarah menunjukkan bahwa penghakiman terlalu dini sering kali salah.
