Robbie Savage mencatat debut manajerial di EFL bersama Peterborough dengan cara yang spektakuler. Pada laga League One di King Power Stadium, Sabtu, timnya menundukkan Leicester City dengan skor 3-1. Kemenangan ini menjadi pertandingan pertama Savage sebagai pelatih Peterborough di kompetisi tersebut, sekaligus peran manajerial pertamanya di English Football League.
Hasil ini terasa istimewa karena Savage selama ini lebih dikenal sebagai karakter kontroversial dan menghibur ketimbang sosok manajer serius. Ia menghabiskan karier bermain dengan reputasi sebagai pemain agresif, sering mendapat kartu, dan gemar bercanda. Namun, di balik citra itu, ia perlahan membangun kredibilitas sebagai pelatih. Kemenangan di kandang Leicester menjadi bukti bahwa keraguan terhadapnya mungkin perlu ditinjau ulang.
Kemenangan 3-1 dan Aksi Robbie Savage di Pinggir Lapangan
Peterborough tampil mengejutkan sejak awal. Mereka membuka keunggulan melalui Owura Edwards, lalu Bolu Shofowoke melewati kiper Leicester sebelum Harry Leonard menyelesaikan umpan menjadi gol. Emil Riis sempat memperkecil kedudukan untuk Leicester, tetapi itu hanya mengurangi sedikit keunggulan Peterborough. Kemenangan 3-1 ini menjadi hasil luar biasa bagi tim yang sebelumnya kesulitan di liga.
Savage sendiri menjadi tontonan tersendiri di pinggir lapangan. Ia begitu aktif hingga jaketnya dilepas dalam sepuluh menit pertama. Ia berteriak, bertepuk tangan, menunjuk ke sana kemari, dan sesekali berjongkok di tepi area teknis. Bahkan sebelum kick-off, ia sudah mendekati suporter Peterborough yang datang jauh dan mengepalkan tinjunya, gestur yang biasanya dilakukan manajer setelah kemenangan.
“Saya kelelahan,” kata Savage setelah laga. “Saya rasa saya sudah menempuh 10 kilometer di area teknis, menendang setiap bola untuk tim saya.” Energi berlebihnya memang pernah berbuah hukuman. Musim lalu, ia mendapat larangan dua pertandingan karena kartu kuning akibat selebrasi berlebihan dan diskusi panas dengan ofisial. Saat Lucca Mendonça melancarkan tekel keras kepada Bobby De Cordova-Reid, Savage melompat dan meninju udara dengan semangat yang sama seperti saat merayakan gol pembuka Edwards.
Latar Belakang: Dari Macclesfield hingga Peterborough
Sebelum menangani Peterborough, Savage membangun karier manajerial di klub-klub non-liga. Di Macclesfield, klub phoenix yang dimiliki sahabatnya, Rob Smethurst, ia diberi kesempatan pertama di bangku cadangan. Hasilnya, ia membawa klub promosi ke National League North dengan raihan 109 poin, memenangkan 35 dari 42 pertandingan. Musim lalu, ia membawa Forest Green Rovers ke babak playoff National League, meski akhirnya kalah dari Boreham Wood.
Meski demikian, skeptisisme terus membayangi pria berusia 51 tahun itu. Banyak yang meragukan kemampuannya karena kepribadiannya yang eksentrik. Dalam wawancara panjang dengan dewan Peterborough, ia berhasil meyakinkan mereka dengan passion dan ide-ide untuk mengembalikan kepercayaan diri skuad muda yang bertalenta namun sedang terpuruk. Darragh MacAnthony, ketua klub, menilai karakter dan etos kerja Savage dibutuhkan dari “atas sampai bawah”.
Savage sendiri sempat menanggapi para peragu sebelum mereka benar-benar menyuarakan keraguan. Ia mengingatkan bahwa ia pernah dilepas Manchester United—salah satu anggota tim Class of ’92 yang memenangkan FA Youth Cup—dan bahwa ia harus berjuang keras untuk menembus tim Leicester. Pengalaman itu membentuk tekadnya untuk membuktikan bahwa ia bisa sukses sebagai manajer.
Filosofi Bermain Robbie Savage dan Dampaknya bagi Peterborough
Gaya sepak bola Savage bersama Peterborough terbilang cepat dan langsung. Ia mengandalkan umpan panjang ke depan, tetapi tetap berusaha memainkan bola di lantai melalui lini. “Filosofi saya: pemain terbaik ada di bagian atas lapangan,” ujarnya. “Jika saya bisa membawa bola ke sana secepat mungkin, dengan mengurangi umpan, tetapi di lantai, melalui lini, Anda bisa mendorong bek sayap keluar. Kadang-kadang kami bermain 2-1-1-6. Itu cara kami bermain. Kami terbuka. Tapi mari kita berani.”
Pendekatan menyerang itu memang meninggalkan celah di lini belakang, tetapi Savage tidak peduli. Kemenangan atas Leicester menunjukkan efektivitas taktiknya. Sebelum laga ini, Peterborough hanya menang sekali di liga musim ini, mencetak empat gol, dan tidak meraih kemenangan selama tujuh pekan. Hasil di King Power Stadium menjadi suntikan moral yang besar bagi skuad dan staf.
Bagi Savage, ini juga menjadi momen pembuktian. Setelah menyelesaikan pertandingan, ia bergegas mengelilingi lapangan, menjabat tangan, menepuk punggung, dan memeluk setiap pemain, pelatih, serta staf dari kedua tim. Suporter Peterborough berdiri dan meneriakkan namanya jauh sebelum dan lama setelah ia kembali mengepalkan tinju sebagai perayaan.
Konteks Lebih Luas: Tren Manajer Eksentrik dan Masa Depan
Robbie Savage bukan tipe manajer biasa. Sejak masa bermain, ia sudah dikenal sebagai “villain panto” yang menghibur, suka bercanda, dan eksentrik. Pernah suatu ketika ia didenda £10.000 oleh FA dan dipotong gaji dua pekan oleh Leicester karena menggunakan toilet wasit Graham Poll sebelum pertandingan—ia beralasan sakit perut akibat antibiotik. Citra itu terbawa ke dunia media setelah pensiun, dan sempat membuat orang meragukan kualitas kepelatihannya.
Namun, sepak bola sering kali memberi ruang bagi karakter unik. Savage menunjukkan bahwa di balik tingkah lakunya yang penuh energi, ada pemahaman taktis dan kemampuan memotivasi pemain. Lawannya di laga itu, Russell Martin, adalah manajer yang pernah melatih di Premier League. Savage pun mengaku rendah hati bisa berhadapan dengan sosok seperti Martin. “Dua setengah tahun lalu saya berada di Hebburn dan Stockton, bermain di depan 200-300 orang,” katanya. “Tim saya datang ke King Power dan tampil seperti itu. Saya sangat bangga pada mereka.”
Ke depan, Savage diprediksi akan tetap menghibur sepanjang musim. Tetapi ia juga berpotensi mengejutkan banyak pihak dengan kualitas sepak bola timnya. Jika Peterborough terus menunjukkan performa seperti saat melawan Leicester, bukan tidak mungkin Savage mengubah pandangan publik tentang dirinya—dari sekadar entertainer menjadi manajer yang patut diperhitungkan.
Kemenangan 3-1 Peterborough atas Leicester di King Power Stadium menjadi bukti awal bahwa Robbie Savage serius dengan karier manajerialnya. Keraguan yang selama ini menyertainya tidak hilang begitu saja, tetapi hasil di lapangan memberikan argumen kuat bahwa ia mampu membawa perubahan. Setidaknya untuk satu malam, ia berhasil membungkam para peragu.
Dengan filosofi menyerang yang berani dan kepribadiannya yang mencolok, Savage akan terus menjadi pusat perhatian. Musim ini bisa menjadi ajang pembuktian apakah ia hanya sekadar karakter menghibur atau benar-benar manajer yang bisa mengangkat prestasi Peterborough. Jika ia konsisten, bukan mustahil karier kepelatihannya akan melesat lebih jauh.
