Krisis Skotlandia di Nations League: Salah Sistem Pocognoli?

Performa Skotlandia di Nations League berada di titik yang mengkhawatirkan. Setelah empat pertandingan di bawah pelatih baru Sébastien Pocognoli, tim ini berada di ambang finis di peringkat ketiga Grup B1, sebuah posisi yang akan berdampak langsung pada seeding mereka di kualifikasi Euro 2028. Namun yang jauh lebih mencolok ketimbang urusan klasemen adalah standar permainan yang ditampilkan sepanjang empat laga tersebut.

Kapten Andy Robertson secara terbuka mempertanyakan sikap rekan-rekan setimnya setelah laga terakhir, dan hingga kini belum ada tanda-tanda “efek manajer baru” yang biasanya menyertai pergantian pelatih. Situasi ini menjadi penting karena Pocognoli diangkat pada Agustus lalu dengan kontrak hanya dua tahun, sebuah keputusan yang terasa janggal mengingat betapa tinggi posisi yang diberikan Asosiasi Sepak Bola Skotlandia (SFA) kepadanya saat diperkenalkan. Tekanan pun otomatis berpindah ke rangkaian pertandingan November.

Empat Laga Awal: Performa Skotlandia di Nations League yang Mengkhawatirkan

Rangkaian pertandingan Pocognoli dibuka dengan catatan yang naik-turun. Di Slovenia, Skotlandia tampil loyo selama satu babak penuh sebelum akhirnya bangkit dan bermain cukup baik, meski laga berakhir tanpa gol. Hasil itu masih bisa dimaklumi, tetapi laga berikutnya berubah menjadi bencana: melawan Swiss, Skotlandia kehilangan satu pemain karena kartu merah di awal pertandingan, lalu hancur 3-0 tanpa mampu melepaskan satu pun tembakan tepat ke gawang.

Kemenangan 2-0 atas Makedonia Utara di Skopje pun tidak layak dibanggakan. Makedonia Utara disebut sebagai tim internasional yang buruk, bahkan salah satu yang terlemah yang dihadapi Skotlandia dalam beberapa waktu terakhir, sehingga kemenangan itu nyaris tidak bernilai lebih dari sekadar mengangkat bahu. Jendela pertandingan yang panjang ini kemudian ditutup dengan cara terburuk: Skotlandia dibuat tidak berkutik di Hampden Park oleh Slovenia, dan kapten Andy Robertson menyoroti masalah sikap di dalam skuad.

Hasil melawan Slovenia dinilai benar-benar tanpa sisi positif sama sekali. Kekalahan itu membuat laga-laga November menjadi sangat krusial, bukan hanya untuk posisi di grup, tetapi juga untuk kredibilitas arah yang sedang dibangun pelatih. Dengan hanya empat pertandingan sebagai sampel, belum ada satu pun laga yang memberi gambaran bahwa Skotlandia sedang bergerak maju.

Mengapa Sistem Pocognoli Sulit Diterapkan di Skotlandia

Persoalan utamanya bukan sekadar hasil, melainkan pendekatan taktik yang dipilih. Pocognoli secara rutin memakai tiga bek di lini belakang, menekankan pressing tinggi, dan menjadikan wingback sebagai motor serangan. Masalahnya, Skotlandia tidak memiliki pasangan bek tengah yang jelas dan mapan, sehingga kesulitan yang mereka alami justru bertambah ketika jumlah pemain di lini belakang ditambah satu.

Akibatnya, ruang di belakang lini pertahanan sering terbuka lebar dan Skotlandia terlihat rentan. Serangan balik lawan melewati lini tengah mereka dengan terlalu mudah, dan kombinasi itu membuat tim asuhan Pocognoli menjadi lawan yang menyenangkan untuk dihadapi. Skotlandia juga membiarkan Slovenia tampil sama menakutkannya seperti Maroko dan Brasil, dua lawan kelas atas yang mereka hadapi di Piala Dunia.

Sebagai perbandingan, kesuksesan Skotlandia di era Steve Clarke dibangun dari hal yang mungkin tidak menarik: tim yang terlatih rapi, kompak, dan sulit dikalahkan. Pendekatan itu terbukti efektif. Bermain terbuka dengan gaya menyerang memang menyenangkan bila sebuah tim punya rasa aman yang cukup, dan Skotlandia saat ini jelas tidak berada di posisi itu.

Ada satu kendala struktural yang sulit dihindari: metode yang diinginkan Pocognoli mungkin nyaris mustahil diterapkan tanpa keterlibatan harian dengan para pemain. Sebuah ideologi taktik lebih mudah ditanamkan di level klub, tempat pelatih bisa merombak komposisi pemain sesuai kebutuhan. Di level tim nasional, waktu latihan sangat terbatas.

Hal ini terlihat jelas ketika Skotlandia beralih ke formasi empat bek pada fase akhir laga melawan Slovenia; para pemain tampak kebingungan secara umum. Ini citra yang buruk bagi Pocognoli, yang bersikeras bahwa dirinya “fleksibel” secara taktik dan membantah kabar bahwa ia terlibat perselisihan di pinggir lapangan dengan Robertson. Kembalinya Scott McTominay pada rangkaian laga berikutnya memang memberi sedikit harapan, tetapi belum jelas di posisi mana gelandang Napoli itu akan ditempatkan. Sistem yang berjalan sekarang juga tidak memaksimalkan kemampuan McTominay, John McGinn, Ryan Christie, dan Billy Gilmour.

Warisan Steve Clarke dan Tuntutan Revolusi dari Suporter

Penting untuk meletakkan situasi ini dalam konteks yang lebih jujur. Skotlandia telah lolos ke tiga dari empat turnamen besar terakhir, dan suara-suara yang menyerang Clarke selama ini kurang menghargai skala pekerjaannya. Meski demikian, setelah tujuh tahun, masa kepemimpinan Clarke memang sudah waktunya berakhir.

Langkah logis saat itu adalah beralih ke pelatih yang pernah sukses di sepak bola turnamen bersama negara berukuran serupa. Kebutuhan lain yang tak kalah penting adalah pragmatisme dan realistis, mengingat kualitas pemain yang tersedia sedang menurun atau menua. Sebaliknya, pejabat SFA berbicara tentang pencarian berbasis data untuk meneruskan Clarke, dan pencarian itu berujung pada pelatih yang belum pernah sama sekali menangani sepak bola internasional.

Tidak masuk akal bila ada yang menuntut Skotlandia menjelma menjadi Ajax era 1970-an. Tolok ukur yang sudah dibangun Clarke kini adalah keikutsertaan di putaran final turnamen besar, dan partisipasi itu penting karena mengubah sikap di dalam maupun di luar sepak bola Skotlandia. Contoh terbarunya adalah Piala Dunia musim panas ini. Bagi banyak pihak, hal itulah yang utama; sisanya hanya pelengkap.

Masalahnya, publik belum sepenuhnya membeli visi langit biru yang dijual kepada mereka. Hanya 34.000 penonton yang hadir di Hampden saat Slovenia bertandang. Angka itu tidak bisa disebut bencana dalam konteks Nations League secara umum, tetapi masih sekitar 20.000 penonton di bawah kapasitas stadion, sebuah sinyal bahwa antusiasme belum pulih.

Dampak ke Depan: Seeding Euro 2028 dan Agenda November

Konsekuensi paling nyata dari empat laga ini adalah posisi di grup. Finis di peringkat ketiga Grup B1 Nations League akan memengaruhi seeding Skotlandia di kualifikasi Euro 2028. Status sebagai tuan rumah bersama memang kemungkinan besar tetap mengamankan tempat Skotlandia di turnamen tersebut, tetapi negara ini tidak boleh datang ke pesta sepak bola Eropa itu dalam kondisi yang memalukan.

Karena itu, laga-laga November menjadi sangat menentukan. Buruknya penampilan melawan Slovenia, yang benar-benar tidak punya kualitas yang bisa dijadikan pijakan, membuat dua pertandingan berikutnya terasa seperti ujian besar bagi Pocognoli. Jika hasilnya kembali buruk, tekanan publik dan media akan meningkat tajam.

Ada pula pertanyaan soal bagaimana pemain-pemain kunci akan digunakan. Kehadiran kembali McTominay memberi opsi tambahan, tetapi formasi saat ini membuat peran idealnya tidak jelas. Hal serupa berlaku bagi McGinn, Christie, dan Gilmour, yang semuanya punya kualitas tetapi belum tampil maksimal dalam kerangka taktik yang sekarang.

Dilema Ben Gannon-Doak dan Nasib Aaron Hickey

Sebagian pihak di Skotlandia ingin meyakinkan publik bahwa Ben Gannon-Doak adalah versi tartan dari Ryan Giggs muda. Kenyataannya, pada usia 20 tahun, Gannon-Doak masih minim pengalaman di level klub dan untuk saat ini tampaknya belum berpeluang menembus tim utama Bournemouth. Ia punya kecepatan luar biasa dan gaya permainan langsung yang membuat bek lawan ketakutan, tetapi hal itu diimbangi dengan pengambilan keputusan yang masih buruk. Apakah kekurangan itu bisa diperbaiki masih harus dibuktikan.

Yang jelas, Gannon-Doak tidak bisa dioperasikan sebagai wingback kanan untuk Skotlandia melawan lawan yang serius. Menempatkannya di sana juga menghalangi Aaron Hickey untuk menjadi starter, padahal Hickey jelas salah satu pemain terbaik yang dimiliki Skotlandia. Gannon-Doak adalah pemain sayap, sebagaimana pula Josh McPake dan Findlay Curtis. Sistem utama Pocognoli tidak memakai pemain sayap, sehingga harus ada satu pihak yang mengalah.

Konteks Lebih Luas: Struktur Baru di Balik Timnas Skotlandia

Pocognoli bukan satu-satunya perubahan di dalam SFA. Organisasi itu kini memiliki seorang chief football officer bernama Craig Mulholland serta kepala strategi, operasional, dan performa bernama Graeme Mathie. Mathie diambil dari kasta kedua sepak bola Skotlandia, sementara Mulholland dilaporkan berada di ruang ganti selama rangkaian laga Nations League.

Penambahan lapisan manajemen menengah dengan deskripsi pekerjaan yang kabur ini tergolong aneh, terutama karena keduanya tidak bisa menunjukkan contoh nyata keberhasilan memperbaiki gambaran besar bersama negara dengan kapasitas setara. Di level tim muda, pelatih baru Skotlandia U-21, Tony Docherty, juga menerapkan formasi yang sama dengan Pocognoli, padahal penugasan terakhirnya adalah menangani Ross County yang sedang jatuh.

Secara umum, sepak bola Skotlandia dikenal enggan membiarkan pihak luar menilai pekerjaan mereka sendiri. Mereka yang duduk di kursi tinggi biasanya sangat puas dengan diri sendiri, tetapi gagal meyakinkan di banyak level. Skotlandia perlu bekerja jauh lebih keras untuk mencari sumber daya bagi tim nasional putra. Enam pemain inti yang tampil melawan Slovenia berusia 30 tahun atau lebih. Clarke bisa dibilang keras kepala, tetapi tidak ada tumpukan pemain menarik yang ia abaikan.

Penutup

Empat pertandingan pertama Pocognoli belum menghasilkan satu pun tanda bahwa Skotlandia sedang berada di jalur yang benar. Ancaman finis di peringkat ketiga Grup B1 Nations League berdampak pada seeding Euro 2028, sementara kekalahan tanpa kualitas melawan Slovenia menempatkan laga November sebagai penentu besar. Kembalinya McTominay dan masuknya kembali Hickey bisa membantu, tetapi keduanya belum tentu cocok dengan sistem yang sekarang dijalankan.

Saat ini tidak ada indikasi SFA mulai gelisah terhadap Pocognoli. Seperti halnya pada era Clarke, mereka tampak terikat pada pilihan pelatihnya sendiri. Namun bila arah ini berujung salah, akan ada pertanyaan besar yang harus dijawab tentang jalan yang sengaja mereka pilih.