Krisis Tottenham Hotspur kini berada di titik paling buruk: saat kompetisi jeda untuk agenda internasional, Spurs terpuruk di dasar klasemen Premier League. Posisi itu terasa mengejutkan karena klub London utara ini baru saja menggelontorkan belanja bersih sebesar £175 juta atau sekitar $234 juta untuk memperkuat skuad. Artinya, persoalan mereka bukan soal kemauan membelanjakan uang, melainkan sesuatu yang lebih dalam menyangkut performa, kepercayaan diri, dan mental tim.
Konteksnya penting untuk dipahami. Tottenham memulai musim ini dengan keyakinan bahwa mereka tidak akan mengulang dua musim buruk sebelumnya. Tidak ada kompetisi Eropa yang menguras tenaga, krisis cedera diyakini tak akan separah dulu, dan Roberto De Zerbi sudah membuktikan kemampuannya di Premier League. Ditambah lagi, uang sudah dikeluarkan. Namun kenyataannya, situasinya kini sama buruknya dengan yang pernah dialami klub ini, dan itu memicu pertanyaan serius tentang arah proyek yang sedang dibangun.
Krisis Tottenham Hotspur Terlihat dari Hasil dan Statistik Awal Musim
Masalah paling kasatmata adalah hilangnya kepercayaan diri. Pada pekan pembuka di markas Brentford, Spurs tampil dengan komposisi yang terkesan acak-acakan dan jelas belum matang, lalu dihantam 3-0 oleh lawan yang jauh lebih siap. Hasil itu sebenarnya tidak terlalu mengejutkan mengingat rapi dan cepatnya Brentford menuntaskan urusan transfer mereka. Yang lebih mengkhawatirkan terjadi pekan berikutnya, ketika Tottenham memulai laga dengan baik sebelum meredup dan kalah 2-0 di kandang sendiri dari Newcastle.
Dua hasil imbang tanpa gol melawan Nottingham Forest dan Everton sempat memberi kesan bahwa kapal mulai stabil. Persoalan terbesar saat itu tampak sederhana: pemain terlalu ragu-ragu dalam menguasai bola dan tidak tegas ketika peluang datang. Dalam kekalahan 3-2 dari Aston Villa pada Sabtu, dua gol yang mereka cetak cukup untuk mengangkat Spurs di atas Coventry ke posisi kedua terbawah dalam daftar pencetak gol, sementara jumlah tembakan mereka menempati peringkat kesembilan. Data itu semestinya jadi alasan frustrasi, bukan panik, karena gol biasanya akan datang seiring waktu.
Namun ada hal yang lebih mengganggu dari laga kontra Villa. Rasa kurang percaya diri di depan gawang tampaknya sudah menjelma menjadi sesuatu yang lebih buruk, yakni kemerosotan mental secara umum. Pola ini muncul berulang: Spurs memulai pertandingan dengan baik, tetapi tidak mampu mempertahankan kualitas itu sampai peluit akhir.
Kronologi: dari Negosiasi De Zerbi hingga Belanja Besar
Untuk memahami bagaimana Tottenham sampai di titik ini, kita perlu mundur ke Maret. Saat itu, Spurs dilanda ketakutan akan degradasi dan mengeluarkan dana besar untuk mendatangkan De Zerbi, yang kemungkinan tidak akan pernah lagi memasuki ruang negosiasi dengan posisi sekuat itu. Ada perbaikan yang jelas dalam permainan, dan mereka akhirnya bertahan di kompetisi teratas pada hari terakhir musim. Keselamatan itu menjadi modal negosiasi bagi sang pelatih sekaligus titik balik kebijakan klub.
Sejak momen tersebut, Tottenham menghabiskan belanja bersih £175 juta untuk memperbaiki skuad. Pesan yang ingin disampaikan tampak jelas: era kehati-hatian fiskal di bawah Daniel Levy sudah berakhir, dan ini adalah klub yang bersedia membuka dompet. Ekspektasi pun naik, terutama karena musim ini berjalan tanpa beban kompetisi Eropa yang biasanya menyita energi dan memperbanyak risiko cedera.
Sayangnya, narasi belanja besar itu belum diterjemahkan menjadi poin di lapangan. Justru sebaliknya, Spurs masuk ke jeda internasional pertama sebagai juru kunci. Perpaduan antara ekspektasi tinggi dan realitas di dasar klasemen inilah yang membuat situasi terasa jauh lebih berat dibanding sekadar start lambat biasa.
Rangkaian Kesalahan di Balik Tiga Gol Aston Villa
Kekalahan dari Aston Villa memperlihatkan betapa rapuhnya Spurs dalam momen-momen krusial. Kiper Villa, Zion Suzuki, berkali-kali melakukan penyelamatan, sementara Spurs sebenarnya tampil menjanjikan di awal laga. Namun tepat sebelum turun minum, mereka kebobolan dengan cara yang kacau. Micky van de Ven sedang berada di luar lapangan untuk menerima perawatan, dan dalam situasi itu Andy Robertson yang berupaya mencegah bola keluar menjadi tendangan sudut justru menyerahkan penguasaan bola kepada John McGinn. Umpan tarik berikutnya disambut tembakan yang tidak bersih, dan Johan Manzambi berdiri tanpa penjagaan di kotak enam meter untuk mencetak gol.
Gol kedua yang mereka terima sama buruknya. Sebuah bola panjang tidak mampu diantisipasi dengan benar, Nicolas Jackson mengontrol bola dengan apik, Van de Ven tidak cukup rapat menempel, dan tembakan yang dilepaskan memantul masuk melalui tangan Antonin Kinsky. Sementara itu, gol ketiga Villa dilepaskan Emi Buendía dengan sepakan indah ke sudut atas gawang, tetapi ia punya ruang cukup untuk mengatur posisi sebelum James Maddison, yang sebelumnya menjaga João Gomes, bergerak keluar mendekatinya. Maddison mungkin bisa bertindak lebih agresif, dan sedikitnya putaran badan saat Buendía melepaskan tembakan bukan pertanda baik, namun ini setidaknya sama besarnya persoalan struktur pertahanan.
Pada titik tertentu, Spurs memang kurang beruntung. Robertson bisa saja menyapu bola itu menjadi lemparan ke dalam, atau setidaknya mengirimnya jauh ke sisi lapangan, dan umpan silang Boubacar Kamara yang tidak sempurna bisa jatuh ke arah mana saja. Jackson tidak akan selalu setenang itu ketika mengontrol bola setinggi dada, dan Buendía tidak akan selalu menemukan sudut atas gawang. Namun setiap gol tetap berawal dari kesalahan, dan Premier League penuh pemain kelas atas yang siap memanfaatkan kelengahan sekecil apa pun.
De Zerbi sendiri menyebut Spurs “terlalu rapuh”, dan ia tampaknya merujuk pada dua hal sekaligus: kondisi fisik dan mental pemain. Mereka masih menunggu pemain yang pulih dari cedera, dan seperti banyak klub lain, mereka mendatangkan pemain di akhir jendela transfer. Akibatnya, pramusim menjadi terpotong dan mungkin kurang memadai untuk menyiapkan tim menghadapi kompetisi seketat ini.
Keraguan atas Rekrutan Musim Panas Tottenham
Jika awalnya orang terkesan pada besarnya angka belanja dan perubahan kebijakan klub, kini keraguan mulai muncul soal kualitas para pemain yang didatangkan musim panas lalu. Apakah Sandro Tonali benar-benar layak dihargai £100 juta? Mateus Fernandes datang dari tim yang terdegradasi. Jan Paul van Hecke bukan pemain pertama yang meninggalkan Brighton lalu menemukan level permainannya menurun di luar lingkungan yang tertata sangat presisi seperti di sana.
Dua nama lain, Sávio dan Omar Marmoush, juga kesulitan menembus tim utama di Manchester City. Catatan penyelesaian akhir Sávio hanya menghasilkan dua gol liga dalam dua musim bersama City, dan bukti dari laga hari Sabtu menunjukkan bahwa kemampuan itu belum juga membaik. Kritik semacam ini wajar muncul ketika belanja besar tidak langsung berbuah hasil, tetapi juga perlu diingat bahwa penilaian sepenuhnya baru bisa dilakukan setelah para pemain mendapat waktu adaptasi yang cukup.
Apa Artinya bagi Tottenham dan Musim ke Depan
Sensasi yang beredar sebelum musim dimulai adalah bahwa tahun ini tidak mungkin seburuk dua musim sebelumnya. Tidak ada kompetisi Eropa yang mengalihkan fokus, krisis cedera tidak mungkin separah dulu, De Zerbi sudah membuktikan nilainya di Premier League, dan klub telah mengeluarkan uang. Namun kenyataannya, situasi saat ini sama buruknya dengan yang pernah terjadi. Dulu, klub sebesar Tottenham bisa menganggap ini sekadar kesalahan sesaat yang akan teratasi sendiri seiring berjalannya musim, tetapi setelah dua musim terakhir, tidak ada yang bisa seyakin itu lagi.
Secara realistis, masih tidak masuk akal untuk membayangkan Spurs terdegradasi, dan kemungkinan mereka kembali terlibat pertarungan sengit di papan bawah juga relatif kecil. Meski begitu, harapan lolos ke kompetisi Eropa yang sempat muncul di masa pramusim kini terlihat terlalu optimistis. Jika hasil-hasil buruk terus berlanjut, proses pembangunan kembali klub akan melambat, dan itu justru menjadi biaya tersembunyi yang paling mahal dari start buruk ini.
Yang dibutuhkan Tottenham sekarang bukan sekadar tambahan pemain, melainkan perbaikan struktur permainan dan pemulihan mental skuad. Dua hal itu hanya bisa dibangun lewat pertandingan, dan jeda internasional ini menjadi momen penting bagi De Zerbi untuk membenahi apa pun yang selama ini membuat timnya tampak begitu mudah goyah.
