Piala Afrika bersama Senegal menempati tempat tertinggi di hati Edouard Mendy, jauh melampaui trofi Liga Champions yang pernah ia angkat bersama Chelsea. Kiper Senegal itu menyebut gelar benua Afrika bersama negaranya sebagai momen terbaik sepanjang karier sepak bolanya, bahkan menganggapnya sepuluh kali lebih membahagiakan daripada kesuksesan bersama klub. Pernyataan tersebut ia sampaikan ketika mengenang kembali final Piala Afrika melawan tuan rumah Maroko yang berlangsung penuh drama di Stadion Pangeran Moulay Abdellah, Rabat.
Sorotan terhadap Mendy kembali mencuat bukan hanya karena trofinya, tetapi juga karena status gelar itu masih bergantung pada proses hukum yang belum tuntas. Lebih dari tujuh bulan setelah Maroko dinyatakan menang 3-0 oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), sidang pendahuluan atas banding Senegal baru akan digelar di Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) di Swiss bulan depan. Di tengah ketidakpastian itu, Mendy baru saja memutuskan pensiun dari tim nasional pada usia 34 tahun, menutup babak panjang yang membuatnya menjadi salah satu kiper terbaik yang pernah dimiliki Afrika.
Momen Penalti dan Refleks Edouard Mendy di Rabat
Laga final itu memasuki masa injury time ketika Mendy harus berhadapan dengan sebuah penalti. Sebelumnya, ia baru saja menerima kartu kuning setelah pertandingan tertunda selama 17 menit, sebuah jeda yang terjadi karena ia dan sebagian besar rekan setimnya memilih masuk ke ruang ganti. Aksi itu merupakan bentuk protes terhadap keputusan wasit yang menghukum El Hadji Malick Diouf akibat sebuah situasi sepak pojok untuk Maroko.
Tekanan yang dirasakan Mendy saat itu tidak hanya datang dari pemain lawan. Senegal sempat mencetak gol yang kemudian dianulir, sementara keluhannya kepada wasit asal Kongo, Jean-Jacques Ndala, soal handuknya yang diambil Ismael Saibari dan sorotan laser yang diarahkan ke matanya dari tribun seolah tidak mendapat respons. Saibari, penyerang Bayern Munich, belakangan menyampaikan permintaan maaf atas kelakuan tersebut. Dalam situasi penuh kekacauan itu, Mendy berusaha keras menjaga ketenangan dan fokusnya.
Brahim Díaz dari Real Madrid maju sebagai eksekutor, dan di titik itulah naluri Mendy bekerja. Ia mengaku sudah membaca arah tembakan dua langkah sebelum bola dilepaskan, karena biasanya pemain yang mencoba Panenka melambat pada langkah terakhir, tetapi Díaz ternyata melakukannya lebih awal. Mengetahui sisi favorit Díaz adalah ke arah kanannya, Mendy memilih tetap berdiri dan berhasil menangkap bola. Empat menit setelah babak tambahan dimulai, gol Pape Gueye memastikan Senegal dan Mendy dinobatkan sebagai juara Afrika untuk kedua kalinya dalam empat tahun.
Kronologi Kontroversi dan Keputusan CAF
Akar persoalan terjadi sebelum penalti itu dieksekusi. Ketika wasit memberi hukuman kepada Diouf usai sepak pojok Maroko, para pemain Senegal meninggalkan lapangan dan menuju ruang ganti sebagai bentuk protes. Aksi tersebut menghentikan pertandingan selama sekitar 17 menit, dan Mendy menjadi salah satu pemain yang dikenai kartu kuning begitu laga kembali dilanjutkan.
Beberapa bulan kemudian, pada Maret, CAF memutuskan memberikan kemenangan 3-0 kepada Maroko dengan alasan Senegal dianggap menyerahkan pertandingan karena meninggalkan lapangan. Keputusan itu memicu langkah hukum dari kubu Senegal, dan lebih dari tujuh bulan setelahnya, sidang pendahuluan untuk banding mereka akhirnya dijadwalkan berlangsung di CAS di Swiss pada bulan depan.
Mendy sendiri menilai persoalan ini semestinya tidak perlu diperdebatkan karena pertandingan tetap diselesaikan sampai akhir. Menurutnya, Senegal memang sempat keluar dari lapangan, tetapi laga kembali berjalan dan tuntas, trofi diberikan, serta perayaan berlangsung di negaranya. Ia menegaskan bahwa pandangannya tidak ditujukan untuk menyerang rakyat Maroko atau pihak mana pun, melainkan sekadar keyakinan bahwa sesuatu yang sudah diputuskan di lapangan tidak bisa diubah begitu saja.
Dampak bagi Senegal dan Peta Persaingan Afrika
Bagi Senegal, hasil sidang di CAS bukan sekadar urusan administratif. Status gelar juara menentukan bagaimana sejarah tim ini akan dikenang, termasuk bagi generasi pemain yang menjadikan Piala Afrika sebagai puncak karier internasional mereka. Selama proses hukum berlangsung, gelar yang sudah dirayakan di jalan-jalan Dakar berada dalam posisi abu-abu yang membuat pencapaian itu terus dipertanyakan.
Bagi Mendy secara pribadi, situasi ini menambah lapisan rumit pada salah satu pencapaian terbesar dalam hidupnya. Ia menolak larut dalam perdebatan hukum dan memilih bersandar pada pengalaman langsung di lapangan, yakni pertandingan yang berjalan hingga peluit akhir dan trofi yang ia angkat bersama rekan-rekannya. Sikap itu sekaligus menunjukkan bagaimana para pemain berada di tengah konflik antarnegara yang sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh meja rapat dan pengacara.
Di sisi lain, perseteruan Senegal dan Maroko menyoroti dinamika kekuatan sepak bola Afrika yang semakin ketat. Kedua negara sama-sama memiliki pemain bintang di klub-klub top Eropa, dan setiap pertemuan di antara mereka selalu membawa bobot rivalitas yang besar. Keputusan akhir dalam sengketa ini berpotensi memengaruhi cara federasi, wasit, dan pemain menyikapi situasi serupa di turnamen-turnamen berikutnya.
Pensiun dari Timnas dan Regenerasi Teranga Lions
Di tengah polemik tersebut, Mendy mengambil keputusan besar dengan mengumumkan pensiun dari tim nasional pada usia 34 tahun. Keputusan itu muncul setelah ia mengalami kekecewaan di ajang Piala Dunia akibat cedera lutut yang dialaminya saat melawan Norwegia. Ia mengakhiri karier internasionalnya dengan catatan 59 penampilan untuk Senegal.
Pelatih baru Senegal, Patrick Vieira, sempat berusaha mengubah pikiran Mendy melalui panggilan telepon. Mendy mengakui bahwa kesempatan bekerja dengan sosok yang ia anggap legenda sempat membuatnya ragu, tetapi ia meminta waktu beberapa hari untuk berpikir. Setelahnya, ia menelepon Vieira dan menjelaskan bahwa keputusannya tetap sama, karena proses berpikir itu sudah ia mulai sejak Piala Afrika dan ia merasa inilah waktunya berhenti.
Mendy kini menaruh harapan besar pada generasi muda Senegal, termasuk gelandang Monaco, Lamine Camara, yang hampir bergabung dengan Chelsea pada bursa transfer musim panas, serta Ibrahim Mbaye dari Aston Villa. Ia berharap mereka mampu mengulang pencapaian para senior. Senegal sendiri pertama kali menahbiskan diri sebagai juara Afrika pada 2022, sekitar delapan bulan setelah Mendy mencatat clean sheet di final Liga Champions 2021.
Trofi Yashin, Perjalanan Panjang, dan Sekolah di Keur Massar
Sejak meninggalkan Eropa, Mendy terus menambah koleksi gelarnya bersama Al-Ahli dengan meraih Liga Champions Asia dua musim berturut-turut. Kiprah itu membuatnya kembali masuk daftar nominasi Trofi Yashin tahun ini bersama Gianluigi Donnarumma, kiper yang mengalahkannya saat ia pertama kali masuk nominasi. Pada 2021, ia sempat dinobatkan sebagai kiper terbaik dalam ajang The Best FIFA, penghargaan yang kini sudah tidak lagi digelar.
Mendy menyebut musim lalu sebagai tahun terbaiknya sejak menjadi pemain profesional, karena tidak ada kiper lain yang meraih gelar besar sebanyak dirinya. Ia mengaku bangga bisa kembali masuk pembicaraan trofi bergengsi itu meski kini bermain di Arab Saudi, dan menilai perjalanannya tidak pernah mudah. Melihat anak-anak di Senegal memakai jersey nomor punggung 16, nomor yang identik dengannya, menjadi salah satu kebanggaan terbesarnya karena berarti ia pernah memberi inspirasi bagi mereka.
Perjalanan Mendy memang tidak linear. Lahir di Normandia, ia memulai karier profesionalnya di Cherbourg, lalu sempat menganggur selama setahun setelah mengalami degradasi berturut-turut. Marseille akhirnya memberinya kesempatan baru yang menjadi titik balik menuju puncak kariernya saat ini. Di luar lapangan, ia ikut membiayai sebuah sekolah di Keur Massar, kampung halaman orang tuanya, yang kini telah berkembang hingga menampung 200 siswa, serta mendukung program bagi para wirausahawan muda di Senegal.
Menurut Mendy, Senegal memiliki begitu banyak talenta dan populasi muda yang sangat dinamis, sehingga penting memberi mereka peluang untuk hidup lebih baik. Ia juga menyebut bahwa melihat ibunya bangga terhadap sekolah tersebut merupakan hadiah terbesar yang bisa ia dapatkan. Bagi Mendy, warisan yang ia tinggalkan tidak hanya soal trofi, tetapi juga soal dampak nyata bagi orang-orang di kampung halamannya.
Kesimpulan
Kisah Edouard Mendy menegaskan bahwa gelar bersama negara memiliki makna yang berbeda dibandingkan trofi klub, terutama bagi Senegal yang sebelumnya tidak pernah merasakan gelar juara Afrika. Di saat bersamaan, status gelar tersebut masih menunggu putusan CAS, sementara Mendy sendiri telah menutup karier internasionalnya dan mengalihkan fokus pada keluarga, klub di Arab Saudi, serta kerja sosialnya di Senegal. Apa pun hasil sidang nanti, ia tetap berpegang pada keyakinannya bahwa pertandingan sudah selesai dan trofi sudah dirayakan.
