Timnas Yaman di Tengah Perang: Kisah Perjuangan di Gulf Cup

Perjalanan timnas Yaman di Piala Teluk (Gulf Cup) ke-27 harus berakhir lebih cepat dari yang diharapkan. Kekalahan 1-0 dari Qatar pada laga Sabtu membuat skuad asuhan Noureddine Ould Ali itu dipastikan tersingkir dari turnamen regional yang digelar di Jeddah, Arab Saudi, meski masih menyisakan satu pertandingan fase grup. Yang menarik, dalam laga tersebut Yaman sebenarnya merasa dirugikan karena sebuah penalti yang jelas tidak diberikan oleh wasit, namun sang pelatih memilih untuk sama sekali tidak menjadikannya alasan.

Sikap Ould Ali itu masuk akal mengingat timnya memang berhadapan dengan lawan yang levelnya jauh berbeda. Ia sadar betul bahwa daftar alasan yang bisa ia ajukan jauh lebih panjang daripada sekadar keputusan wasit, dan sebagian besar di antaranya berakar pada situasi negara yang dilanda perang saudara selama bertahun-tahun. Konteks inilah yang membuat kisah Yaman di Gulf Cup lebih dari sekadar cerita tentang hasil pertandingan.

Kekalahan dari Qatar dan Realitas Gulf Cup

Ould Ali adalah pelatih berkebangsaan Aljazair yang memilih menepikan dalih usang soal perwasitan. Ia tahu bahwa Qatar yang mereka hadapi adalah peserta Piala Dunia, dengan fasilitas sekelas Aspire Academy, stadion-stadion modern, dan pelatih sekaliber Julen Lopetegui, mantan juru taktik Spanyol dan Real Madrid. Perbandingan itu bukanlah sesuatu yang bisa disamarkan oleh satu keputusan penalti yang tidak diberikan.

Sementara Qatar memiliki ekosistem sepak bola yang mapan, Yaman nyaris tidak punya apa pun yang bisa dibandingkan. Tim nasional mereka bahkan tidak pernah lagi memainkan laga kandang sejak 2012, ketika mengalahkan Palestina 2-1 di Sanaa. Kondisi ini membuat setiap pertandingan internasional Yaman praktis selalu berstatus laga tandang, di tempat netral, dengan segala keterbatasan yang menyertainya.

Turnamen di Jeddah sendiri diikuti delapan tim dan Yaman menjadi salah satu peserta yang paling banyak menghadapi hambatan non-teknis. Sebelum edisi ke-27 ini, Yaman adalah satu-satunya dari delapan peserta yang belum pernah menjuarai Gulf Cup dan belum pernah lolos dari fase grup. Artinya, setiap penampilan mereka di turnamen ini selalu berlangsung di bawah bayang-bayang catatan sejarah yang kurang menguntungkan.

Kalah 4-0 dari UEA dan Kemenangan 5-2 atas Bahrain

Perjalanan Yaman di fase grup dibuka dengan kekalahan telak 4-0 dari Uni Emirat Arab. Hasil itu menjadi tamparan realitas bagi skuad Ould Ali, terutama karena UEA memiliki banyak pemain naturalisasi berbakat dari luar negeri yang bisa mereka andalkan. Bahkan Andrés Iniesta pun terlibat di kasta kedua liga domestik negara itu, sebuah kemewahan yang sulit dibayangkan terjadi di Yaman.

Di sisi lain, Yaman hampir tidak memiliki liga papan atas yang benar-benar berjalan normal. Kompetisi domestik mereka terdampak langsung oleh pertempuran yang berkepanjangan, sehingga pembinaan pemain dan kompetisi rutin menjadi sangat terbatas. Kondisi ini kontras dengan negara-negara Teluk lain yang liga dan infrastrukturnya terus berkembang.

Meski sudah dipastikan tersingkir, Yaman tetap menutup fase grup dengan cara yang layak diacungi jempol. Mereka mengalahkan Bahrain 5-2 pada laga terakhir, hasil yang setidaknya memberi modal moral bagi para pemain dan menunjukkan bahwa potensi mereka tidak bisa diremehkan begitu saja.

Perang Saudara dan Kronologi yang Melatarbelakangi

Untuk memahami mengapa timnas Yaman berada dalam situasi seperti sekarang, kita perlu menengok ke belakang. Dua tahun setelah laga kandang terakhir mereka pada 2012, ibu kota Sanaa jatuh ke tangan Houthi, sebuah kelompok militan yang didukung Iran. Peristiwa itu memicu intervensi yang dipimpin Arab Saudi dan membuka babak panjang pertempuran yang hingga kini belum benar-benar usai.

Pada 2022, Perserikatan Bangsa-Bangsa berhasil menengahi gencatan senjata yang memang menurunkan intensitas permusuhan. Namun, situasi kembali memanas setelahnya, sehingga stabilitas yang sempat dirasakan tidak bertahan lama. Ketidakpastian politik ini berdampak langsung pada hampir semua aspek kehidupan warga, termasuk sepak bola.

Awal September menjadi salah satu titik yang menandai eskalasi baru. Houthi bergerak menyusuri pesisir Laut Merah dalam kemajuan militer besar pertama mereka dalam lima tahun, sekaligus menargetkan Riyadh dan sejumlah wilayah lain di Arab Saudi dengan serangan rudal. Dinamika inilah yang menjadi latar belakang dingin dari persiapan tim nasional Yaman menuju turnamen di Jeddah.

Persiapan di Aden dan Dukungan Rakyat Yaman

Menjelang Gulf Cup, timnas Yaman sempat menjalani pemusatan latihan di Aden, kota pelabuhan di selatan yang menjadi kedudukan Dewan Kepemimpinan Presiden, yakni badan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi. Ould Ali menilai kondisi di Aden saat itu masih terbilang memadai untuk kebutuhan latihan. Menurutnya, tim berusaha semaksimal mungkin dengan menggelar kamp bersama para pemain lokal, sebelum akhirnya bergabung dengan pemain lain yang menyusul di Jeddah.

Sang pelatih juga mengakui bahwa situasi politik yang tidak stabil menuntut kehati-hatian ekstra. Ia menyebut banyaknya faktor eksternal yang menarik perhatian, namun tim selalu berusaha mengembalikan fokus ke sepak bola. Di Arab Saudi, menurut Ould Ali, sambutan yang diterima sangat baik, masyarakatnya ramah, dan kualitas fasilitas latihan hingga hotel berada di level tinggi sehingga membantu tim lebih fokus.

Ould Ali menyoroti pula bagaimana kompetisi domestik Yaman sempat terhenti lama dan baru dimulai kembali pada tahun ini, dengan paruh pertama musim sudah selesai digelar. Ia menilai hal itu sangat penting karena pemain butuh terus bermain, menjaga kebugaran, dan menunjukkan bakat mereka. Soal dukungan, ia menyebut sepak bola sudah seperti agama di Yaman, dengan hampir semua orang menyukai tim nasional dan mengikuti perkembangan pemain bintang mereka. Baginya, masyarakat Yaman tidak berbeda dari siapa pun di belahan dunia lain.

Palestina dan Cara Ould Ali Menjaga Fokus

Ketidakstabilan bukan hal asing bagi Ould Ali, yang pernah menangani Palestina selama tiga tahun, dari 2018 hingga 2021, setelah lebih dari empat tahun menjadi asisten pelatih di sana. Menurutnya, setiap situasi punya karakter berbeda dan tidak bisa disamakan begitu saja. Ia menegaskan bahwa persoalan di Yaman adalah masalah antarwarga Yaman sendiri, bukan benturan antara negara-negara luar.

Pengalaman di Palestina ia gambarkan sebagai salah satu periode tersulit dalam karier kepelatihannya. Tentara Israel disebutnya kerap menahannya selama delapan hingga sepuluh jam sebelum ia bisa berangkat bekerja. Ia juga menyoroti bahwa para pemain tidak bebas dan pernah dihentikan saat tim bermain di luar negeri. Meski demikian, ia mengaku senang bisa bekerja di Palestina dan menegaskan bahwa kesulitan yang dialami rakyat di sana bukanlah buatan mereka sendiri.

Pengalaman itu membantunya memahami bagaimana menjaga ruang ganti tetap terkendali saat negara sedang tidak stabil. Ia menyebut para pemain Yaman mengkhawatirkan kondisi di kampung halaman dan berharap keluarga mereka baik-baik saja. Menurutnya, kekhawatiran semacam itu wajar, tetapi para pemain tetap profesional dan ia meminta mereka berfokus pada pertandingan. Ia juga mengaku sudah memiliki pengalaman geopolitik di kawasan tersebut.

Piala Asia 2027 dan Misi Memberi Kabar Berbeda

Ada satu capaian yang membuat sepak bola Yaman punya sesuatu untuk dirayakan. Pada Juni, Yaman mengejutkan banyak pihak dengan mengalahkan Lebanon dan menjadi tim terakhir yang lolos ke Piala Asia 2027, turnamen empat tahunan yang juga akan digelar di Arab Saudi. Ould Ali menyebut momen itu sebagai hari yang luar biasa bagi sepak bola Yaman, dengan harapan bisa membuat orang-orang di kampung halaman tersenyum untuk sementara waktu.

Pada Januari, Yaman akan kembali ke Jeddah untuk laga pembuka melawan Korea Selatan. Tingkat kesulitannya jelas meningkat dibandingkan Gulf Cup, karena mereka akan berhadapan dengan pemain-pemain kelas dunia seperti Lee Kang-in dari Atlético Madrid, Kim Min-jae dari Bayern Munich, dan Son Heung-min. Laga itu akan disaksikan oleh banyak orang di Yaman, sehingga tekanan dan harapan berjalan beriringan.

Pertemuan kembali dengan Palestina di Piala Asia 2027 juga bukan hal yang mustahil, mengingat turnamen tersebut digelar di Arab Saudi. Sebuah skenario yang bagi Ould Ali tentu menyimpan makna personal tersendiri, mengingat jejak kariernya di tim tersebut. Namun sebelum sampai ke sana, prioritasnya jelas: menjaga tim tetap kompetitif di tengah semua keterbatasan.

Ould Ali menegaskan bahwa timnya akan berusaha kembali membuat orang-orang di rumah bangga. Ia juga menyampaikan harapan yang paling sederhana sekaligus paling kuat, yaitu keinginan memberi dunia judul berita yang berbeda tentang Yaman. Baginya, ketika rakyat Yaman bersatu, mereka merasa mampu mengalahkan siapa pun.

Penutup

Kisah Yaman di Gulf Cup menunjukkan bahwa prestasi di lapangan tidak pernah berdiri sendiri, terutama ketika sebuah negara tengah berjuang keluar dari konflik berkepanjangan. Kekalahan dari Qatar dan UEA, diselingi kemenangan atas Bahrain, hanyalah lapisan permukaan dari persoalan yang jauh lebih besar: tidak adanya laga kandang sejak 2012, liga domestik yang sempat terhenti, hingga pemain yang harus membagi perhatian antara pertandingan dan keselamatan keluarga.

Justru dari sana nilai capaian mereka terlihat. Melaju ke Piala Asia 2027 dan tetap melahirkan dukungan luar biasa dari rakyat Yaman adalah bentuk ketahanan yang jarang ditemui dalam sepak bola. Bagi Ould Ali dan para pemainnya, laga melawan Korea Selatan pada Januari nanti bukan hanya soal poin, melainkan kesempatan memberi dunia cara lain untuk menulis tentang Yaman.